Tulisan dari ‘Maluku’ Kategori

Asal Usul Desa Elaar (Sebuah Desa yang menyimpan sejarah Pembentukan Hukum Adat Larvul Ngabal)

Elaar adalah sebuah desa di pesisir timur Pulau Kei Kecil yang nenek moyangnya diasal usulkan (utin kain) dari pulau Seram, Luang Sermata, dan Luang Maubes. Desa ini bernama Desa Ohoilim yang terdiri dari lima marga bsar, yakni Marga Oat, Renngifur, Renoat, Fodubun, dan Labet-Umad. Kelima marga ini berasal dari Tiga marga besar (loo I tel atau tiga mata rumah) yaitu mata rumah penduduk asli yaitu mata rumah yang berasal dari keturunan Ngurkud oat, yang menurunkan Marga Oat dan Renngifur, mata rumah pendatang dari Luang yakni Turunan Faliw dari Luang Sermata yang menurunkan Marga Renoat, Wuaha Sobyar dari Maubes yang menurunkan Marga Fodubun, dan mata rumah pendatang dari Seram Gorom yakni Yamlim serta seorang adik lelaki yang menurunkan Labet dan Umad. Kedua marga inilah yang akhirnya menurunkan turunan terbesar di Desa Elaar yang bermarga Labetubun dan Madubun.
Penguasa daerah ini disebut Jingraw I adalah Ngurkud Oat dengan Womanya dalah Kot El, Lodar El (gerbang pemerintahan dan pusat perkawinan). Ketika Yamlim dan adiknya pertama dating, mereka menggunakan sebuah kulit siput besar dengan perbekalannya adalah sagu. Sampai di tepi pantai mereka melihat ada sungai kecil yang mengalir ke laut, maka mereka masuk dengan menyusuri sungai tersebut sampai kehulunya. Di hulu sungai inilah mereka berdiam di sebuah goa kecil dan menanam beberapa anakan pohon sagu untuk menjaga sumber air di sekitar hulu sungai. Sungai tersebut diberi nama sungai Yamlim dan Goa kecil tersebut sebagai Goa Yamlim, dipenuhi dengan tanaman sagu sebagai makanan pokok kedua setelah enbal dan umbi-umbian lainnya.
Ketika orang kampong pergi berburu, mereka ditemukan karena lolongan anjing pemburu. Mereka kemudian dibawah menghadap penguasa saat itu yakni Jingraw I yang dijabat oleh Ngurkud Oat. Penduduk akhirnya melapor kepada Jangraw I yakni Ngurkud Oat tentang keadaan dari kedua lelaki tersebut. Mereka kemudian ditanya asal usul mereka dan maksud kedatangan mereka. Melalui beberapa tes yang dilakukan oleh Ngurkud Oat dan sebuah sumpahan bahwa jika benr kamu orang baik-baik, maka keturunanmu akan seperti bunga mangga ( yang saat itu lagi berbunga) dan jika tidak keturunanmu akan punah bagaikan kembang mangga di musin hujan. Akhirnya Yamlim diterima oleh Ngurkud Oat dalam suatu pengawasan yang ketat.mereka sering diajak berburu bersama oleh penduduk kampung, ternyata Yamlim dan adiknya sangat pandai dalam hal memnah dan menggunakan pedang/parang.
Penduduk asli sangat kagum atas kelihaian dan kegesitan kakak beradik karena setiap buruan tidak terlepas dari panah sang kakak atau sabetan pedang sang adik. Sebelum perburuan dimulai kedua kakak beradik menyusun strategi yang akan dilancarkan pada waktu terlihat hewan buruan, pada saat mengaso, mereka tak segan-segan membagi pengalaman dengan teman-teman pemburu dengan strategi dan cara-cara menaklukkan hewan buruan, serta mengajarkan bagaimana cara memanah yang baik, dan menyabet dengan pedang secara tepat. Pengetahuan dan penhgalaman ini mereka dapat dari orang tua mereka di daerah asal mereka pulau Seram, yang hutannya lebih luas dan lebat dengan medan berburu yang lebih sulit karena gunung yang tinggi serta jurang yang sangat dalam. Setiap hasil perburuhan maupun hasil tangkapan ikan akan dibagikan kepada seluruh penduduk sesuai besar kecilnya jumlah anggota keluarganya.
Di depan tanjung di Desa Elaar, ada sebuah goa bernama yang bernama Vid Nang yang berarti “pintu masuk” yang dihuni oleh seekor ular naga besar yang sering memangsa penduduk, bahkan tak kurang para penduduk kampung lain yang melintas daerah tetrsebut dengan perahu tak luput para penduduk kampung lain yang melintas daerah tersebut dengan perahu tak luput menjadi mangsanya. Daerah depan Vid Nang telah menjadi daerah berbahaya bagi pelayar baik dari Kei Kecil maupun dari Kei Besar yang sering melintas daerah ini. Para pelayar sering melihat Naga tersebut melemparkan bola api ke udara kemudian di tangkap kembali. Keadaan ini selalu membuat penduduk kampung ketakutan. Kedua kakak beradik ini merembuk untuk membuat strategi, mencari cara untuk membunuh Naga tersebut. Kemudian sekali lagi mereka menunjukan kemampuan mereka dengan membuat tali jerat. Tali jerat tersebut dipilih bersama-sama penduduk kampung, lalu Naga pun di umpan untuk keluar dari liangnya, pada saat itulah Naga terjerat dan akhirnya dibunuh oleh mereka beramai-ramai.
Dengan pengalaman yang ditularkan kepada penduduk, maka pemuda kampung ini sangat terkenal sebagai jawara-jawara dalam peperangan karena kepandaian, pengetahuan dan keberanian kedua pemuda tersebut akhirnya mereka di angkat menjadi pemuka/tokoh pemuda yang disegani oleh kawan maupun lawan dengan gelar “Dir U Hamwang” yang artinya “pemuka dan pembagi”.
Penduduk akhirnya melapor kepada Jingraw I yakni Ngurkud Oat tentang keadaan dan sepak terjang mereka, oleh karena kedua kakak beradik ini selalu menunjukkan sifat-sifat yang arif dan bijaksana, serta pandai.
Kemudian Yamlim dan adiknya dipangging oleh Ngurkud Oat, pada saat mereka menghadap Ngurkud Oat, maka Yamlim sebagai kakak ia diberi kekuasaan oleh Ngurkud oat sambil mengucapkan: “Om do vo taha kuas ne ya’a taha formai” yang artinya “kamu tinggal disini memegang kekuasaan,dan saya mengatur masalah adat. Kemudian ia diberi salah satu dari putri Ngurkud adalah Masliwur sebagai istrinya. Setelah kekuasaan dan istri diberikan barulah diberi tanah sebagai tempat untuk membuka lahan. Tanah yang diberikan tidak terbatas, karena pada prinsipnya sejauh kmampuan dia untuk membuka hutan dengan menanam tanaman umur panjang seperti kelapa, sagu dan lainnya, maka sebesar itu pula haknya atas tanah tersebut.
Yamlim kemudian memegang jabatan sebagai seorang Hilaai dalam pemerintahan Jingraw II dalam daerah kekuasaan yang di sebut Vovan Medar Kabil. Kekuasaan Yamlim diperkuat oleh seorang ahli hukum yang bernama Fuut Rub dengan menerapkan suatu hukum Ohoi/Kampung yang disebut hukum “Lavul”. Hukum ini kemudian dijadikan induk hukum yang diberlakukan di tanah Kei, untuk mengenang leluhur mereka yang datang dari Seram, maka kemudian pada masa pemerintahan Belanda, Desa ini diberi nama Lamagorong oleh penguasa pada saat itu dari dari marga Labetubun yang moyangnya berasal dari Gorom untuk mengingat daerah asalnya, dengan Womanya adalah Woma “Ewanus” belangnya bernama “Belang Fadir”, pada waktu pemerintahan Jingraw II ini masyarakat Ohoilim termasuk orang-orang hartawan karena mereka banyak memiliki harta berupa emas dan perak dari hasil niaga dengan orang-orang di luar daerah Kei.
Mereka yang terkenal sebagai orang-orang hartawan Elaar di antaranya Mankerenluk dan anaknya Balkenwutun, dalam sejarah tanah Kei pernah menerima orang buangan dari Kei Besar, yang kemudian ditempatkan di daerah petuanan mereka yaitu di dusun Garara, dan dusun Ngurvul. Semula mereka berkampung di pantai Masleb namun karena ditolak oleh orang-orang Rahan Ohoilim, maka oleh seorang keturunan Balkenwutun yakni H. Abdul Halik Labetubun memindahkan mereka ke daerah petuanan Balkenwutun. Sampai sekarang kedua dusun tersebut menjadi anak desa Elaar. Hal ini dikarenakan adanya hubungan perkawinan antara adik perempuan Mankerenluk yakni Sikluban kawin dengan Raja Feer yakni Bol-Bol Rahakbaw, sedangkan cucunya Baturin anak dari Balkenwutun kawin dengan Kapitan Roroa dari dari Larat. Mereka dikenal sebagai “MEL UTIN” atau MEL UUN. Meraka memiliki harta pusaka berupa emas yang kini masih tersimpan dengan baik memiliki tanah-tanah yang luas dan budak belian yang banyak, pada waktu perang SONGIL FOMAS antara Kelompok Loor Lim dengan Ursiw yang mengakibatkan Raja Danar Terusir, dan terapung-apung di NGON TENBAW maka tampilah hartawan Elaar yakni Mankerenluk yang membawa seguci emas,lalu menebus Raja Danar untuk kembali menduduki jabatannya semula. Pemuda-pemuda Elaar sejak dahulu terkenal sebagai pemanah-pemanah yang handal dan tangkas dalam berperang.
Kampung Ohoilim pernah mengalami peperangan yang dikenal dengan perang (FUUN SULTAN) menghadapi gempuran orang-orang Kei di sekitarnya yang ingin mengislamkan Ohoilim, karena mereka mengetahui bahwa Hukum orang Ohoilim sejalan dengan hukum dalam agama islam. Orang Elaar walau beragama animis tetapi mempraktekkan hukum dan ajaran sesuai dengan ajaran islam, karena sering digempur, maka oleh penguasa pada saat itu diperintahkan untuk bekerja bersama-sama membangun tembok/lutur di sepanjang Laer Tutu Mayor (Tanjung Tutu Mayor) setinggi lima meter untuk melindungi kampung dari serbuan dari arah laut.
Selain tembok pertahanan, penguasa Ohoilim juga membagi marga-marga atas beberapa kelompok untuk mempermudah penggalangan masa bila terjadi penyerangan. Kelompok-kelompok ini mempunyai belang sendiri-sendiri yang dikomandoi oleh salah seorang pemuka yang dianggap piawai untuk menjadi pemimpin bagi pemuda-pemuda pendayung belang saat pertempuran yang terjadi di laut. Selain itu masyarakat Elaar pernah mengalami penyerbuan atas kampung mereka oleh masyarakat BIBTETRATSIW yang dimenangkan oleh masyarakat Elaar dengan terbunuhnya Hilaai Kanew dalam peperangan tersebut.
Seiring dengan berjalanannya waktu akhirnya orang Ohoilim mulai masuk Islam dengan keyakinan sendiri, bukan karena perkawinan atau alasan lain. Bahkan ada diantara mereka yang masuk Islam tersebut pada awalnya mereka (laki dan perempuan telah dijodohkan oleh orang Tua) sejodoh tetapi merekatidak mau kawin dan masuk Islam. Pada saat mereka telah sama-sama memeluk agama Islam barulah mereka menikah.
Setelah beberapa rumah tangga yang memeluk agama Islam maka dengan alasan tertentu untuk menghindari hewan piaraan dan makanan yang diharamkan Oleh Islam maka mereka kemudian pindah dan membangun pemukiman baru kira-kira 1 Km dari kampung induk dan diberi nama Desa Elaar Let. Kampung ini sekarang baru pada generasi ke 5 dari mereka yang masuk Islam.
Namun ketika orang-orang Ohoilim masuk agama Islam dan Kristen, maka pada tahun 60-an batu-batu tembok tersebut diruntuhkan dan batu-batunya doambil untuk pembuatan Gereja dan Rumah.

sumber : http://hi-in.facebook.com/topic.php?uid=75848061938&topic=18571

Asal Mula Nama Maluku

Maluku memiliki nama asli “Jazirah al-Mulk” yang artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’.

Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.

Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.

Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.

Pela Negeri Latuhalat dan Negeri Alang

Pela diantara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang , ini satu pela yang tertua diseluruh Maluku ; sebab pela ini terjadi sebelum orang2 Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; selagi Maluku ada dibawah keperintahan Hindu2.

Pada satu ketika ada seorang anak keturunan Bangsawan dari Negeri Alang , yang bernama Huwae Lili Tupa berjalan dengan orang pengikutnya berburu atau menyumpit burung dan bertamasyah di sekitar pulau Ambon.

Tiba-tiba anak Bangsawan Alang itu sampai ke Latuhalat , dan berjalan dipesisir pantai Malulang ; pada ketika itu anak Bangsawan Alang atau Huwae Lili Tupa ini , melihat ada seorang anak gadis yang cantik lagi elok parasnya ; sehingga anak Bangsawan ini menaruh kecintaan terhadap anak gadis tersebut.

Sesudah anak Bangsawan ini pulang ( kembali ke Alang ) maka ia disambut oleh ibu dan bapaknya sambil menanya apa hasilnya dalam perburuhannya dan apa yang ia dapat dalam perjalanannya itu. Maka anak Bangsawan itu , memberitahukan kepada ibu dan bapanya ; bahwa ia telah melihat seorang anak gadis yang cantik dan elok parasnya : di negeri Latuhalat sambil ia bermohon ; supaya ibu dan bapanya mau datang ke Latuhalat , meminangkan anak gadis itu untuk menjadi istrinya yang chats.

Ketika ibu dan bapak anak Bangsawan itu , mendengar permintaan anaknya mereka , maka ibu dan bapak bersetujuh untuk datang ke Latuhalat mintah anak gadis itu untuk menjadi isteri bagi anaknya. Tidak lama lagi ibu dan bapaknya menghimpunkan segala segala kaum keluarganya serta orang2 Bangsawan Alang sambil memberi tahuka maksud dan tujuhan dari anak tersebut bagi mereka ; setelah kaum keluarga dan Bangsawan -bangsawan Alang mendengar maksud dan tujuhan dari anak itu maka mereka bersetujuh dengan maksud dari anak itu.

Dengan tidak lama lagi , maka datanglah ibu dan bapanya dengan beberapa orang2 Bangsawan Alang untuk bertemu dengan orang tua dari anak gadis itu ; setelah kabar ini di dengar oleh orang tuanya anak gadis itu , maka sebentar juga mereka memanggil orang Bangsawan Latuhalat berkumpul dirumah anak gadis itu untuk menantikan tamu Agung itu. Setelah orang tua dari anak Bangsawan dan orang2 Bangsawan Alang tibah di Malulang dirumah anak gadis itu , maka mereka bersalam-salaman satu dengan yang lain , sebagai Adat Istiadat yang dipakai di Maluku ; sesudah itu tamu Agung tersebut , disalahkan masuk ; seraya diberi tempat duduk bagi masing-masing tetamunya.

Sesudah mereka duduk . maka mereka diberi keluasan untuk memberitahukan maksud dan tujuhan ; kedatangan mereka itu , untuk didengan oleh orang tua dari anak gadis itu ,beserta orang2 Bangsawan Latuhalat tersebut. Maka mulailah mereka sampai maksud dan tujuhan mereka bahwa kedatangan mereka itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk meminang anak gadis itu , untuk menjadi isteri dari ananknya yang bernama HUWAE LILI TUPA ; setelah sudah ibu dan bapa anak gadis iru dengar ; beserta Bangsawan 2 yang ada disitu ; maka mereka mengambulkan permintaan ibu , bapa dan orang2 Bangsawan Alang tersebut . Sesudahnya mereka menerima permintah dari orang tua2 dan orang2 Bangsawan Alang itu , maka ditentukan hari perkawinan kedua anak itu yang akan dilangsungnya.

Sesudah selesai segala perundingannya diantara orang2 tua2 dam orang Bangsawan2 dari kedua belah fihak , maka orang tua dan orang2 Bangsawan Alang itu , bermohon untuk mereka undurkan diri dan kembali ke Alang ;permintaan ini diterima oleh orang tua anak gadis tersebut berserta orang2 Bangsawan yang hadir disitu.

Sepeninggalnya tamu2 agung itu , maka moyang Sakti Tawan mencurahkan perasahannya bagi orang tua anak gadis itu dan orang2 yang berada disitu ; bahwa moyang Sakti Tawan enggang hatinya untuk berikan anak gadis itu untuk menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang. Serta didengar oleh orang tua dari anak gadis itu serta orang2 Bangsawan tersebut , maka mereka merasa malu kepada orang tua dan Bangsawan2 Alang ; lalu moyang Sakti Tawan menyampaikan maksudnya : “Bahwa ia bermaksud untuk buat satu patung ( boneka ) yang sepadam dan serupa dengan anak gadis itu ; untuk diserahkan menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang ( Huwae Llili Tupa ) tersebut “:

Sesudah mereka mendengar maksud dari moyang Sakti Tawan ini , maka mereka bersetujuh; setelah moyang Skati Tawan mendengar yang merea bersetujuh dengan maksudya maka moyang Sakti Tawan telah memberi perintah kepada hamba2nya pergi tebang sebatang pohon sagu yang ada didalam dusun Waaipuang ; lalu belah batang sagu itu dan ambil isi batang sagu itu yang di bilang Meor ; bawah datang kepada moyang Sakti Tawan.

Ketika hamba2nya membawa isi batang sagu itu datang dan diserahkan kepada moyang Sakti Tawan , maka mulailah moyang Sakti Tawan ukirkan hati batang sagu itu sehingga serupa dan sepadam dengan anak gadis tersebut. Patung ( boneka ) itu bisa berjalan bisa duduk minim rokok bisa bikin muka tersenyum ; tetapi tidah bisa bicara.

Sekarang moyang Sakti Tawan memerintah hamba2nya lagi untuk pergi potong kayu2 untuk dibuat satu Arangbai supaya manakala datangnya hari yang sudah ditentukan untuk anak gadis itu harus keluar dari Latuhalat datang ke Alang , maka Patung ( boneka ) itu harus naik di Arangbai yang dibuat oleh moyang Sakti Tawan itu.Sesudah Patung dan Arangbai itu sudah selesai . maka ada salah seorang bertanya moyang Sakti Tawan begini: ” Apa Upu punya Arangbai itu sudah betul ?lalu moyang Sakti Tawan periksa Arangbai itu lagi ; maka moyang Sakti Tawan lihat ada kurang satu lolang dinunas bahagian belakang : terus moyang Sakti Tawan bilang buat itu orang , bahwa mulai dari hari ini Upu dan turunan Upu bernama SOPLANTILA yang artinya Mata Suanggi ” :.

Setelah tibah waktu dan harinya untuk datang dalam nikahnya ; maka datanglah orang tua dari anak Bangsawan Alang yang diiring oleh berapa orang Bangsawan datang dengan Arangbai ke Latuhalat dan singga di pelabuhan Malulang tempat kediaman anak gadis itu.

Sesudah mereka sampai di Malulang , maka mereka disambut oleh orang tua daru gadis tersebut , dengan beberapa orang Bangsawan juga ; dengan riu rendah sebagai kebiasan ; menurut ada istiadat dari tiap2 negeri di Maluku. Sesudah itu , Arangbai yang disediah untuk anak gadis itupun telah telah tersediah dengan orang2 yang harus menghentar anak gadis itu datang ke Alang ; dan sebelum mereka bermohon untuk kembali ke Alang , maka moyang Sakti Tawan telah menungjuk seorang dayang yang kena di percayai duduk bersama-sama dengan gadis itu didalam Ten dari Arangbai itu ; sambil moyang Sakti Tawan telah memberi perintah bagu dayang itu begini :” Bahwa jikalau mereka sudah sampai di tanjung yang bernama Hattu dan lihat kalau patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam laut , maka dayang itu harus angkat dari pantat Patung itu buang kedalam air jangan tinggal sampai datang ke Alang”: .

Kebetulan sesampai mereka di tanjung Nama Hattu itu , maka dengan segra Patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam air laut ; pada ketika itu juga dayang itu mengerjakanperintah dari moyang Sakti Tawan itu , terus Patung ( boneka ) itu jatuh kedalam laut dan tenggelam ; lalu dayang itu berteriak dengan suara yang keras dan terkejut , bahwa tuan Puteri sudah tenggelam ; ketika anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) ini mendengar yang isterinya telah tenggelam , maka dengan tidak ragu-ragu lagi ia terjun dirinya untuk menolong isterinya itu.
Tetapi sayang dibalik sayang ; bahwa ia tidak mendapat isterinya yang tenggelamg itu ; melainkan tubuh anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) itu telah berobah menjadi Buaya.

Sedang pada waktu itu yag sama itu juga , anak gadis yang bersembunyikan dirinya diatas solder di Malulangpun tubuhnya berobah menjadi Buaya tembaga yang ada sampai pada saat ini didalam Mata Rumah yang sekarang pakai Fam Lekatompessy.

Sesudah tiga hari lamanya baharu Patung ( boneka ) itu terdampar dimuka pelabuhan LELIBOY . Ketika orang Leliboy mendapat Patung ( boneka ) itu ; lalu orang Leliboy bilang begini :” Bahwa Alang mata buta kawin MEOR disangka orang.

Dengan keadaan yang terjadi ini , maka datanglah orang tua orang2 Bangsawan Alang ke Latuhalat untuk mengangkat satu perjanjian persaudaraan yang dibilang Pela antara NEGERI LATUHALAT dan NEGERI ALANG.

Dengan perjanjian-perjanjian seperti berikut:” Segala anak2 cucu dari Alang dan Latuhalat mau masuk dan keluar tidak boleh kawin mengawin satu dengan yang lain ; siapa anak2cucu yang melanggar perjanjian ini , ia akan mati ; jikalau anak laki2 yang langgar perjanjian ini , mau dari Latuhalat maupun dari Alang dan dia harus mati.
Pela antara Alang dan Latuhalat ini terjadi sebelum Lekatompessy memakai nama Lekatompessy melainkan ada memakai nama Latumeten ; sebab ini ada adik yang bungsu dari moyang Sakti Tawan , Pela ini terjadi kira2 pada tahun 1356 sebelum Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; oleh sebab itu dibilang Latumeten tukang dan Lekatompessy pariaman . (willy)

Eliza Kissya, Pejuang Sasi Dari Maluku

HIDUPNYA didedikasikan sepenuhnya buat kelestarian alam. Sebagai salah satu keturunan kewang, Eliza Kissya ditunjuk secara adat oleh negerinya sebagai Kepala Kewang yang tugasnya dalam strata adat, semacam polisi penjaga negeri/desa, mulai dari darat hingga laut. Sudah 27 tahun Eliza mengabdikan diri sebagai Kepala Kewang di Negeri Haruku Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah.

Tidak mudah mempertahankan kelestarian alam yang menjadi beban tugasnya. Selain berhadapan dengan pelaku pembom ikan yang kegiatannya berakibat pada hancurnya ekosistem laut terutama terumbu karang yang menjadi habitat ikan, Eliza juga tidak sedikit harus berhadapan dengan aparat negara, pemilik modal, perusahaan tambang, bahkan perundang-undangan negara yang tidak sejalan dengan aturan adat yang sudah digariskan leluhurnya sejak ratusan tahun lalu.

Meskipun berat memikul jabatan adat ini, namun sebagai salah satu keturunan kewang, Eliza tidak bisa mengelak ketika Marga Kissya menunjuknya sebagai kepala kewang. Eliza bersama kakaknya yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan meneruskan tradisi leluhurnya, terpaksa mengorbankan sekolah. Pendidikannya berakhir di kelas 6 sekolah dasar. Kakak Eliza sendiri dipercayakan menjabat sekretaris desa dan Eliza sebagai kepala kewang.

Resmi diangkat sebagai kepala kewang tahun 1979, tantangan pertama yang dihadapinya adalah Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979 yang menyeragamkan pemerintahan desa di seluruh Indonesia. Akibat dari pemberlakuan undang-undang ini, pranata adat negeri di Maluku atau setingkat desa, semua struktur adatnya melemah.

Di Provinsi Maluku khususnya Kabupaten Maluku Tengah yang mencakup Pulau Seram, Pulau Ambon dan Kepulauan Lease, pranata adat yang sudah terbangun sejak ratusan tahun seperti raja (kepala pemerintahan sekaligus pemangku adat) berubah menjadi kepala desa. Saniri negeri atau dewan musyawarah negeri menjadi LMD (Lembaga Musyawarah Desa).

Sementara kepala soa (kepala mata rumah/marga), kapitan (panglima perang), kewang (penjaga keamanan dan ketertiban negeri), marinyo (penyampai titah raja ke masyarakat), tuan tanah (pemilik tanah), dan struktur adat lainnya menjadi kehilangan fungsi.

Meskipun begitu, Eliza tidak tinggal diam. Kendati di negeri-negeri lain struktur adatnya menjadi lemah tak berdaya akibat UU Nomor 5 Tahun 1979, dia berupaya mencari jalan sendiri dengan tetap mempertahankan lembaga kewang beserta tradisi leluhurnya yakni sasi. Sebagai kepala kewang, dia berkewajiban menerapkan sasi yang merupakan tradisi para leluhur untuk menjaga dan mengamankan sumber daya alam baik di darat maupun laut.

Di Haruku ada tiga macam sasi yakni sasi laut, sasi darat, dan sasi dalam negeri. Sasi laut misalnya, kelompok masyarakat yang ingin melindungi jenis ikan tertentu maka dipasangi sasi. Dalam waktu tertentu, satu tahun atau dua tahun, kawasan laut yang sedang di sasi dilarang mengambil ikan.

Demikian pula sasi hutan, masyarakat dilarang mengambil hasil hutan seperti kelapa, kenari, pinang, cempedak dalam waktu tertentu. Jika dilanggar disamping sanksi moral juga sanksi material atau uang yang dikenakan kepada pelanggar

Sasi dalam negeri di Haruku lebih mengutamakan soal etika. Misalnya, dilarang laki-laki bersarung di luar rumah pada siang hari, kecuali sakit. Ada juga larangan agar perempuan sewaktu pulang dari sungai setelah mandi maupun menyuci tidak boleh memakai kain sebatas dada. Kalau melanggar dikenai denda Rp.10.000

Berbagai bentuk sasi ini muaranya hanya satu yakni kearifan manusia terhadap alam. Dalam konteks itulah, Eliza menyatakan, peraturan sasi pelaksanaannya menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia itu sendiri. Sasi juga berarti upaya memelihara tata-krama hidup.

Menurut Eliza, tradisi sasi sudah ada sejak tahun 1600-an. Dia sendiri merupakan generasi keenam yang menjabat posisi kepala kewang untuk mengamankan tradisi sasi tersebut.

“Saat ini orang mulai berbicara tentang pembangunan berkelanjutan, tapi jauh sebelum itu nenek moyang kami sejak ratusan tahun lalu sudah menerapkan sistem pengelolahan tradisional yang disebut sasi dan sampai saat ini masih berjalan di masyarakat kami,” kata Eliza saat ditemui Radio Vox Populi beberapa waktu lalu.

Dalam pengertian harfiahnya sasi berarti larangan. Sasi bisa pula diartikan larangan mengambil sumber daya alam sampai pada waktunya. Di Haruku, sasi yang terkenal dan mendapat perhatian dunia adalah sasi lompa (ikan jenis Trisina baylama) karena keunikannya dalam prosesi adat mulai dari tutup sasi (awal larangan tersebut), hingga saat buka sasi.

Yang menarik di Haruku, ikan lompa yang merupakan ikan air laut justru di panen di sungai. Aturan adat di Haruku mengharuskan warganya wajib menjaga dan melindungi ikan tersebut, sejak masa memijah (melepas telur) hingga masa panen.

Ikan-ikan ini biasanya pada pukul 16.00 akan keluar dari sungai menuju laut di daerah karang yang dinamai batu lompa. Jarak batu lompa dengan pantai Haruku sekitar 1 mil laut. Saat prosesi adat buka sasi lompa dilakukan, para kewang yang berjumlah 40 orang dipimpin Eliza memanggil ikan-ikan tersebut dengan hanya membakar lobe (daun kelapa kering) di pesisir pantai, dekat muara sungai yang akan dijadikan tempat panen.

Lobe dibakar dan dibacakan mantera-mantera. Secara aneh ikan-ikan tersebut akan berdatangan dan terlihat jelas di permukaan air laut. Biasanya, buka sasi lompa dilakukan pada malam hari, dan sekitar pukul 04.00 dinihari ikan-ikan tersebut akan berdatangan dan siap dipanen.

“Menurut penelitian perikanan, waktu ikan-ikan ini keluar dari sungai perutnya dalam keadaan kosong. Untuk menentukan kapan buka sasi harus melalui persidangan adat. Kami selaku kewang sudah tahu ikan ini sudah memijah atau belum, kelihatan dari bagian punggungnya berwana kemerahan berarti ikan itu sudah melepas telurnya. Kondisi tubuhnya kita lihat secara jelas di sungai yang jernih,” ceritanya.

Namun saat sasi diberlakukan, siapapun baik warga Negeri Haruku maupun mereka yang berasal dari negeri tetangga dilarang mengambil sumber daya alam yang ada. Biasanya sasi berlaku dalam tenggang waktu tertentu yakni selama tiga bulan, enam bulan, maupun satu tahun. Saat sasi dibuka, masyarakat beramai-ramai mengambilnya dengan penuh suka-cita.

Menurut pria kelahiran 12 Maret 1949 ini, dari aspek ekonomi, tradisi sasi sangat menguntungkan masyarakat karena hasil panen akan melimpah-ruah. Masyarakat bisa makan secara berkelebihan, kemudian ada simpanan untuk masa-masa paceklik baik simpanan uang maupun sumber daya alamnya.

Dari aspek sosial, perempuan janda dan anak-anak yatim piatu mendapat porsi lebih banyak dari masyarakat lain dalam memperoleh haknya dari hasil sasi tersebut. Kalau yang di sasi adalah ikan dan masyarakat mendapat satu tumpuk keranjang ikan, maka perempuan janda dan anak yatim piatu memperoleh dua tumpuk keranjang ikan. Pembagian ini tergantung dari hasil yang diperoleh saat buka sasi.

Sementara aspek lingkungan hidup ekosistem alam tetap terjaga. Penangkapan ikan maupun pengambilan hasil hutan dibatasi dengan menganut prinsip kelestarian. Misalkan saja, jika pemilik pohon sagu ingin memanen hasilnya, dia harus lebih dulu meminta ijin Kewang. Dari situlah Kewang menerapkan aturan yakni si pemilik boleh menebang pohon sagu untuk mengambil sarinya, tapi dia harus menyisakan tiga pelepah pohon dan pucuk daun agar kelangsungan hidup dari pohon sagu itu tetap terjaga.

“Bicara soal adil dan merata, saya kira praktek-praktek ini sudah berjalan sejak jaman dahulu dan diterapkan nenek moyang kami lewat sistem sasi. Semua orang bisa merasakan bagaimana hidup di kampung tidak ada yang lebih, dan ada yang kurang. Kalau sasi ini hilang, betapa ruginya kita maupun anak cucu kita kelak. Satu kerugian besar dimana orang lain mau menggunakan sasi sebagai suatu contoh, sementara kita tidak lagi menggunakannya. Ini kembali ke pemerintah daerah apakah mereka mau menghidupkan lembaga kewang dan sasi, ataukan hanya ketika ada acara-acara seremonial seperti pelantikan raja baru menggunakan mereka sebagai satu komunitas adat,” katanya.

Tradisi unik para leluhur yang tetap dipertahankan bapak enam anak ini mengantarkannya mendapat penghargaan kalpataru tahun 1985, satyalencana lingkungan hidup tahun 1999, dan sejumlah piagam penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional atas dedikasinya melestarikan lingkungan hidup. Dia juga sering diundang untuk berbicara di forum nasional maupun internasional yang melibatkan komunitas adat dari berbagai negara.

Tidak mudah bagi suami Elizabeth Kissya ini menjalankan tradisi leluhurnya. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Menangkap pelaku pembom ikan dan menggiringnya sampai ke pengadilan tanpa ada dukungan dari pihak lain, tidak membuatnya patah arang.

Persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, harus ditempuhnya dari Haruku ke Ambon dengan menyeberangi pulau. Tanpa dampingan dari lembaga hukum dan dengan biaya sendiri, Eliza gencar memperjuangkan hak-hak negerinya yang dihancurkan oleh perusak alam. Kerja sebagai kepala kewang, Eliza tidak berharap banyak soal finansial karena dia tidak digaji. Untuk menafkahi keluarganya, dia hanya bisa bercocok tanam dan beternak.

“Saya tidak berharap banyak dari tanggungjawab ini. Saat ada persoalan sampai ke peradilan, itu masa-masa sulit saya. Tidak ada biaya dari kampung ke Ambon untuk mengikuti proses sidang, dan tidak ada lembaga bantuan hukum yang melindungi saya. Saat-saat itu saya berbicara sendiri di lembaga peradilan sebagai masyarakat adat yang memperjuangkan hak-hak adat kami,” terangnya.

Untuk membiayai lembaga kewang, Eliza kemudian menulis buku tahun 1980 berjudul Sasi Aman Harukui (Sasi Negeri Haruku). Buku karyanya itu menceritakan tradisi sasi dan diyakininya sebagai alat perjuangan untuk memperkenalkan kewang dan sasi bagi khalayak luas. Buku ini laris manis terjual habis di pasar karena menjadi kebutuhan mahasiswa, aktifis lingkungan hidup, peneliti, kalangan LSM, dan para antropolog. Bahkan pada cetakan kedua, OXFAM memintanya untuk menerbitkannya dalam edisi bahasa Inggris.

Meski para pelaku pembom ikan akhirnya dihukum, namun menurut Eliza tidak membuat mereka jera. Dakwaan jaksa hanya sebatas penggunaan bahan peledak, dan bukan tuntutan pengrusakan lingkungan hidup karena hukumannya bakal berat. Kebanyakan dari para pelaku pembom ikan di hukum satu tahun penjara bahkan kurang, sehingga saat selesai menjalani masa hukumannya, perbuatan membom ikan diulangi kembali.

“Dari situ saya berpikir agar hukum adat harus tetap jalan bersama-sama dengan hukum positif. Nilai hukum adat saya tegakan dimana para pelaku kejahatan pengrusak lingkungan harus membayar denda buat masyarakat adat berupa nilai uang tergantung perbuatannya. Denda paling besar Rp.200 ribu buat perbaikan lingkungan, walaupun itu nilainya sangat kecil dibandingkan kerusakan alam yang dibuatnya. Saya lihat bahwa sistem peradilan yang ada, baik dari polisi hingga ke tingkat peradilan tidak bisa mengatasi perbuatan para pelaku pembom ini. Artinya, saat dia keluar dia akan melakukan perbuatannya lagi,” ujarnya.

Tak dapat dipungkiri, Negeri Haruku pernah terusir dan terbakar habis ketika kerusuhan tahun 2000. Dia pun mulai berhati-hati menerapkan sanksi apalagi memenjarakan para pelaku pembom ikan yang kebanyakan berasal dari negeri tetangga yang pernah berperang dengan negerinya. Jika tadinya dia berusaha memenjarakan para pelaku pembom ikan itu, kini dia menggunakan cara penyelesaian secara kekeluargaan.

“Kita berhadapan dengan masalah kerusuhan apalagi negeri saya pernah hancur akibatnya. Karena Kerusuhan ini, kita harus menggunakan cara lain untuk menjaga hubungan kekeluargaan antara dua komunitas, juga hubungan antar negeri. Menangani pelaku pembom ikan dari negeri tetangga saya lalu menggunakan pendekatan dengan aparat negerinya maupun pihak keluarga untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Pendekatan kekeluargaan menurut saya lebih mengutungkan daripada saya harus militan. Dulu saya dengan semangat tinggi berjuang sehingga punya banyak musuh. Tapi kini harus hati-hati karena sekecil apapun masalah, bisa diboncengi menjadi masalah besar,” katanya.

Selain para pembom ikan, pria berjenggut ini harus pula berhadapan dengan para pemilik modal yang memiliki bagang penangkap ikan. Bagang yang menggunakan mata jaring kecil dan pola penangkapannya menggunapan lampu sorot yang bisa menarik perhatian ikan, membuat ikan berukuran besar maupun kecil semuanya ikut terjaring. Ukuran mata jaring bagang tidak membiarkan ikan kecil lolos sehingga populasinya kian berkurang. Parahnya lagi, bagang-bagang ini berada di jalur lewat ikan lompa dari batu lompa ke sungai Haruku sehingga populasinya kian terancam.

Sasi Lompa sebelumnya biasa dilakukan satu bahkan dua kali dalam setahun. Namun, tradisi itu semakin terancam karena populasinya makin berkurang. Pernah saat buka sasi yang dilakukan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim tahun 1986, berhasil memanen 32 ton ikan lompa.

“Kini populasi ikan lompa semakin kurang akibat beroperasinya bagang yang sebenarnya bukan mata pencarian orang asli di Maluku. Akibatnya, sasi lompa bisa dibuka dua tahun bahkan lebih. Hasilnya yang didapat pun semakin berkurang,” tuturnya.

Dia menyesali adanya undang-undang perikanan terkait pengawasan penggunaan alat tangkap namun tidak diaplikasikan di lapangan. Adanya undang-undang ini, kata dia, intansi terkait tidak serta merta melakukan pengawasan dan pengontrolan sehingga hukum positif terkesan tidak memihak hukum adat.

“Hukum adat kalau masih dihargai maka undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah mestinya berpihak ke masyarakat adat yang memiliki hukum tersendiri. Karena jauh sebelum ada hukum positif, hukum adat sudah ada lebih dulu sejak ratusan tahun lalu. Bahkan keberadaanya yang dinilai tradisional sudah berbicara soal pembangunan berkelanjutan dan pemeliharaan lingkungan hidup dengan memegang prinsip kelestarian,” ujarnya.

Selain itu, salah satu perjuangan Eliza yang menguras energi adalah ketika perusahaan emas PT. Aneka Tambang berniat melakukan eksplorasi pertambangan di kampungnya awal tahun 1990. Berhadapan dengan perusahaan bahkan pemerintah daerah, tidak membuatnya pantang-mundur. Dia berkeyakinan, jika eksplorasi itu berhasil dilakukan maka akan menjadi ancaman bagi lingkungan bahkan warganya.

Pemetaan lokasi eksplorasi, pihak perusahaan melakukan penebangan pohon-pohon cengkih milik warga untuk jalur masuk ke hutan tanpa ada pemberitahuan. Warga yang marah kemudian memotong sejumlah kabel yang dipakai untuk kebutuhan pemetaan. Tindakan sepihak perusahaan ini kemudian dilaporkan oleh warga ke Polsek Haruku di Desa Pelauw. Bukannya mendukung, warga malah ditahan oleh anggota polisi dengan alasan menghambat pembangunan, bahkan hingga disidangkan kasusnya.

Eliza tidak kehilangan akal, dibuatkanlah papan larangan untuk membatasi gerak perusahaan masuk ke hutan yang mengandung emas. Papan tersebut bertuliskan “Dilarang Merusak Hutan Lindung Dan Hutan Pusaka Haruku”. mendapat dukungan penuh dari masyarakat dia kemudian menggalang aliansi dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup (MPLH) Universitas Pattimura, kalangan media massa, dan kemudian bersama-sama menyurati presiden saat itu Soeharto, untuk tidak mengijinkan beroperasinya PT. Aneka Tambang di Haruku.

Perlawanan Eliza bersama para pendukungnya ini mendapat serangan balik dari perusahaan, pemerintah daerah khususnya dinas pertambangan, hingga babinsa dan Koramil Pulau Haruku. Bahkan pihak yang menentang masuknya perusahaan dituding sebagai Partai Komunis Indonesia atau pemberontak oleh pihak koramil.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga Eliza, ketika ada masalah dia sekeluarga akan berdoa bersama-sama. Dia sempat tak dapat menahan haru ketika putri bungsunya Halida Kissya berdoa sampai menangis saat bapaknya menghadapi masalah dengan perusahaan tersebut. Dibantu kalangan LSM dan pemerharti lingkungan serta dukungan media massa, Eliza berjuang hingga akhirnya perusahaan tersebut mundur dan tidak beroperasi.

“Kehadiran perusahan tambang ini bagi saya tidak akan menguntungkan masyarakat. Kita tidak akan jadi tuan di negeri sendiri tapi jadi hamba di negeri sendiri. Apalagi dampak kerusakan yang akan ditimbulkannya sangat besar. Ini yang membuat saya bersama teman-teman LSM berjuang agar perusahaan itu tidak beroperasi,” katanya beralasan.

Di akhir wawancara, Eliza mengemukakan, prinsipnya dia mengabdikan diri sebagai kewang yang merupakan warisan leluhur tidak terpikirkan untuk mencari popularitas apalagi materi, tapi bagaimana menunjukan bahwa masyarakat adat dibidang pengelolahan lingkungan punya kualitas. Bahkan saat penerimaan kalpataru dan satyalencana lingkungan hidup, dia mewakilkannya kepada Raja Haruku untuk menerima penghargaan tersebut.

“Batin saya puas jika apa yang saya perjuangkan berhasil, terutama bisa mempertahankan warisan nenek moyang saya. Istri dan anak-anak saya juga sudah mengerti, apa yang saya lakukan banyak menghadapi tantangan, kerja tanpa pamrih, kerja tanpa digaji, dan mendapat tekanan luar biasa dalam menjalankan tugas,” tandasnya.(willy)

SEJARAH NEGERI TITIWAKA

Tita = perintah, Waka = Jaga Titawaka = Perintah jaga.
Bertolak dari perkataan ini, maka jelas dapatlah kami ceritakan sekedar peristiwa yang terjadi, sehingga menimbulkan bukti yang ada (negeri Itawaka) sebagai satu kenyataan dari pada kelanjutan sejarah, yang pernah berlaku sejak datuk-datuk kita di saman purbakala.

Negeri Titawaka dalam perkataan aslinya, telah mendapat perubahan sebutan, sehingga orang tidak lagi, bahkan kurang sama sekali, untuk memperhatikan dan mengembangkan sejarah yang asli. Perubahan sebutan ini bukan baru kemarin terjadi, tetapi sudah ratusan tahun dan perubahan ini, secara sengaja dilakukan sebagai satu-satunya siasat penjajah, untuk menghilangkan pengaruh dari anak-anak bumi putera.

Negeri Titawaka yang sekarang disebut Itawaka, terletak di ujung bagian utara pulau Saparua berdekatan dengan negeri Nolloth.

Adapun kisah sejarah sehinga menimbulkan negeri ini, di mulai dari sebatang air yang kecil dipinggir negeri tersebut, yang mana Air Potang2. Tetapi nama air ini bukan demikian, melainkan sesuai dengan aslinya, yaitu Air Potang2 karena pada air ini ada sebuah batu pangasah parang dari Kapitan Iha.

Alkisah bahwa, jazirah Hatawano berdiri sebuah kerjaan yang ternama yaitu Iha. Kerajaan ini memerintahkan negeri-negeri disitu termasuk negeri Tuhaha, dan tentu bagi negeri yang tunduk dibawah perintahnya, harus turut segala persyaratan yang diberikan, apalagi di saat-saat berkuasanya kerajaan ini.

Penjajah asing sudah dan mulai menanamkan pengaruhnya. Sedangkan sikap dan sifat-sifat hidup datuk-datuk kita. Bukan hanya berlaku di Iha, tapi pada umumnya bagi seluruh penduduk Maluku memiliki sifat dan sikap hidup yang sama, yang kemudian menjadi dasar pertentangan yang hebat, antara datuk-datuk kita dengan bangsa-bangsa kulit putih ini. Ditambah pula bahwa bangsa-bangsa penjajah ini, memakai politik pecah belah sebagai pintu masuk, untuk menanamkan maksud dan keinginan jahatnya, yaitu ingin menundukan semua kuasa yang ada pada waktu itu de Maluku, untuk hanya tunduk dibawah suatu kuasa yaitu perintah Belanda.

Bagi datuk-datuk kita yang mempunyai sifat kesatria, artinya tidak mau tunduk pada siapapun, bagi mereka benar-benar merupakan satu tentangan hebat.

Adanya perbedaan-perbedaan paham yang tidak diselasaikan oleh kedua belah pihak, mengakibatkan timbulnja peperangan-peperangan yang tentu membawa banyak penghorbanan.

Peperangan-peperangan mana tentu terjadi antara datuk-datuk kita dengan orang kulit putih, dan juga dengan suku bangsa kami sendiri yang ingin menjadi penghimat. Satu peperangan yang benar hebat, sehingga mendatangkan banyak penghorbanan, adalah Kerajaan Iha disaat itu, dengan saudara-saudara kita dari negeri Nolloth. Apa asalnya sehingga mengakibatkan permusuhan yang begitu hebat, tidak kami di tunjukan dengan nyata. Tetapi menurut penjelasan tua adat kami bahwa negeri yang mula-mula menempati jazirah adalah ini Iha dan Tuhaha. Dengan penjelasan ini berarti kami dapat menarik kesimpulan bahwa negeri Nolloth tentu terjadi kemudian. Artinya terjadinya imigrasi penduduk Seram ke pulau-pulau lain, dan ditambah pula masuknya pengaruh-pengaruh barat, yang turut mengambil bagian didalam kesempatan ini, untuk lebih mempengaruhi penduduk asli agar dapat menanamkan kuasanya.

Jadi didalam soal ini tidak dapat kami menyangka bahwa siapa sebenarnya yang membuka pintu kepeda Belanda untuk turut menuntuhkan kekuasaan Kerajaan Iha. Tetapi bagi kerajaan Iha sendiri mungkin asa faktor-faktor negatif dari negeri-negeri yang lain. Contoh yang dapat kami nyatakan sesuai dengan perkembangan sejarah, seperti negeri saudara kita (Tuhaha) yang membuka jalan kepada Belanda, untuk menyuruh menembak benteng Kerjaan Iha, dengan memakai peluru tercampur tulang babi, sehingga kota benteng in hancur lebur hingga tentara kerajaan Belanda dapat kemudian mengalahkan seluruhnya.

Mungkin faktor-faktor lain yang sama dengan diatas ada juga pada negeri Nolloth, sehingga dengan faktor-faktor ini membawa bibit kebencian yang cukup kuat bagi kerajaan Iha. Apalagi sebagai orang-orang asli mereka (kerajaan Iha) tidak senang hak milik mereka jatuh ke tangan para pendatang, sehingga dengan persoalan-persoalan ini menibatkan pembunuhan-pembunuhan ini bukan hanya satu kali terjadi, tetapi sering dan terus menerus sehingga memusingkan kepala pemerintahan Blanda. Sedangkan pemerintah Belanda didalam cara politiknya, mereka berusaha untuk menarik perhatian penduduk, guna menanamkan seluruh kepercayaan rakyat kepada mereka. Maka setiap ada persoalan mereka berusaha menatasinya, sehingga bagi masyarakat Maluku mereka dapat dianggap sebagai orang baik-baik.

Disamping itu satu-satunya cara dari politik Blanda untuk masuk dan menghancurkan seluruh benteng pertahanan rakyat Maluku di bidang apapun yaitu melalui agama. Artinya dengan jalan agama maka datuk-datuk kita dapat melihat den mengatahui, syarat-syarat hidup orang percaya untuk datang mendapatkan Tuhan Allah, karena agama melarang jangan membunuh, jangan mencuri d.l.l.

Dihadapan datuk-datuk, Belanda seolah-olah menujukan kejujuran, tetapi dibelakan arus politiknya hidup mereka laksana kuburan berlabur putih. Sifat-sifat inilah yang sangat ditentang oleh datuk-datuk kita, sehingga siapa diantara masyarakat kita yang termasuk jalur ini, dianggap sebagai penghianat, dan kemudian mengakibatkan timbulnya peperangan dan pembunuhan.

Seperti yang terjadi sehingga berdirinya negeri Titawaka, perkelahian dan pembunuhan makin menghebat, sedangkan usaha pemerintah Belanda untuk mengatasinya selalu sia-sia.

Didalam usaha mencegah peperangan ini serta pembunuhan oleh pemerintah Belanda telah diusahakan bantuan dimana-mana, dengan jalan meminta bantuan ke negeri Paperu, sehingga sepasukan pemuda yang bersenjata datang ke Nolloth sekarang ada sebuah perigi yang bernama Lawata.

Pemerintah Belanda meminta bantuan dari negeri Tuhaha. Dengan melihat sikap pemerintah Belanda maka kerajaan Iha makin mengganas, setiap perlawanan tidak dapat diatasi maka akibatnya pemerintah Belanda memeriksa tapal batas bahwa tempat dimana terjadi pembunuhan adalah termasuk tapal batasnya negeri Ullath.

Ingat perjanjian tiga datuk untuk menentukan TIGA TAPAL BATAS di dusun Sole negeri Italili.

Untuk memenangkan persoalan ini, maka pemerintah Belanda merendahkan diri dengan menunjukan rasa persahabatan terhadap siapapun.

Dengan jalan ini pemerintah Belanda tentu berpura-pura tunduk kepada pemerintah Italili (moyang Pattibeilohy) supaja mohonkan sokongan bantuan pemerintah Italili untuk memberikan orang-orangnya guna membuat penjagaan tempat ini.

Oleh tua adat negeri Ullath diterangkan, bahwa pemerintah Belanda memeriksa tempat pembunuhan, dan ternyata tempat ini adalah petuan negeri Ullath. Berarti perjanjian tiga datuk di Italili untuk menentukan perbatasan ketiga negeri IHA – TUHAHA – ULLATH, bukan hanya berbatas pantai sebelah timur dan di tengah hutan batas dengan Tuhan dan Iha dan tentu dipantai sebelah juga berbatas dengan Iha, dimana terdapat negeri Itawaka sekarang.

Tetapi segala perbatasan ini menjadi rusak sewaktu hancurnya Iha dan atas tindakannya pemerintah Belanda sehingga tanah-tanah miliknya diberikan kepada kampung-kampung pendatang dan satu hal yang penting yaitu: seperdua dari tanah petuanan negeri Ullath sekarang, maka hanyalah Ullath berbatas dengan Tuhaha dan Itawaka sedangkan disebalah lain Itawaka berbatas dengan Nolloth dan Iha, mengapa??? Sebab sebagian dari milik negeri Ullath sudah diberikan menjadi milik negeri Itawaka sekarang.

Jadi seandianya tidak ada negeri Itawaka, maka tentu sampai kini dan selamanya asal matahari masih ada, memang negeri Ullath tetap berbatas dengan Iha dan Tuhaha, karena janji tiga datuk.

Sesudah pemerintah Belanda didalam perundingannya dengan Latu Italili moyang Pattibeilohy dan hasil perundingannya memuaskan, artinya negeri Ullath dapat de memberikan bantuan, untuk memberikan penjagaan pada tempat pembunuhan, maka tentu oleh Latu Italili terlebih dahulu harus membuat perindungan sendiri dengan rakyat, karena perpindahan ini bukanlah satu soal yang gampang. Sebab pergi mengadakan penjagaan pada tempat pembunuhan, berarti mereka ini juga siap untuk selalu berperang, kalau tentara Kerajaan Iha turun menyerang, sebab mereka ini ditempatkan pada garis depan sebagai pasukan pengamanan.

Juga ada faktor-faktor lain yang agak menyulitkan perpindahan ini, sebab pergi dengan tidak kembali (pergi untuk menetap), di lain pihak persekutuan hidupnya datuk-datuk kita disaat itu sangat erat, sehingga sukar sekali orang pergi meninggalkan kampung halamananya dan terpisah dari kaum keluarganya untuk selama-lamanya.

Tetapi moyang Pattibeilohy adalah satu pemerintah yang sangat bijaksana, sehingga jikalau Pattibeilohy hanya menurut kekuasaannya, maka dapat menimbulkan kecacauan dipihak rakyat karena orang-orang tidak mau pergi.

Untuk menarik hati mereka, maka ditengah-tengah 24 kepala keluarga disaat itu, lalu Pattibeilohy menunjuk seorang diantara keluarganya sendiri sebagai contoh dan Beliau inilah yang menjadi kepala rombongan untuk membawa mereka keluar dari negeri Italili ke tempat pembunuhan tadi. Tentu beliau yang telah ditunjuk oleh pemerintah Italili ini, tidak dapat bergerak sendiri apabila tidak ada orang lain yang membantunya, sebab itu bersama dengannya juga dua kepala keluarga dan orang-orangnya yang mau menghormati perintah raja, untuk turut menjadi rombongan Titawaka.

Diantara dua kepala keluarga tadi yaitu keluarga Litamahuputih (Litamaputia), sebab Litamahuputih ini adalah malesi dari Kapitan Lusikooy. Jadi berarti bahwa sewaktu berpindahan in maka Litamahuputih ditugaskan sebagai kapitan untuk mengawasi dan menjaga keselamatan rombongan.

Pemerintah Italili moyang Pattibeilohy sendiri telah mengatahui, bahwa kepergian mereka untuk tidak kembali lagi. Maka demi untuk menjaga kemungkinan dibelakang hari, supaya jangan sampai terjadi perang diantara orang saudara sendiri, maka Pattibeilohy yang menjadi kepala rombongan disaat itu namanya diganti menjadi PATTIPELAYA = Pattipeilohy berlayar atau Pattipeilohy yang telah keluar.

Lalu berangkat mereka menurut perintah yang harus dijalankan untuk membikin pos ditempat pembunuhan. Perintah untuk jaga dalam bahasa aslinya disebut: TITAWAKA.

Rombongan Titawaka ini dikepalai oleh moyang Pattipelaya kemudian pergi untuk menjaga keamanan pada tempat pembunuhan di kaki air potong-potong, yang dilakukan oleh orang-orang Iha terhadap siapapun yang dianggap mengkhianati mereka. Selah rombongan Titawaka ini tiba pada tempatnya, tentu mereka tidak tinggal diam melainkan menjalankan perintah dari pemerintah Italili, yakni memperkuat pos-pos penjagaan supaya jangan lagi terjadi pembunuhan. Tentu oleh orang-orang negeri Iha, bagi mereka ini adalah suatu kegagalan sebab yang datang menempati tempat pembunuhan ini bukanlah orang lain melainkan saudara sendiri.

Disini dapat kita lihat dan tarik kesimpulan, sebab sewaktu-waktu saudara-saudara kita dari Iha luas dapat membuka batas-batas pergerakkannya, maka Belanda lebih luas dapat membuku daerah politiknya yaitu: mendatangkan bantuan dari segala pihak oleh anak-anak bangsa sendiri untuk lebih memperkecil daerah kekuasaan kerajaan Iha.

Setelah saudara-saudara kita dari Iha agak lumpuh didalam daya geraknya, sebab Belanda memakai tenaga dan kekuatan bangsa sendiri sebagai benteng bagi mereka, maka dibelakang bentang inilah Belanda dapat melumpuhkan semua kekuasaan bangsa kita satu demi satu. Sebab anak-anak kita didalam ketidak sadarnya, mereka menyangka telah melakukan satu tugas suci, tetapi sebaliknya mereka tidak tahu bahwa didalam soal ini adalah saudara makan saudara sendiri. Karena sewaktu tempat pembunuhan telah mendapat pengawasan tekat, maka saudara-saudara kami dari Iha tidak dapat lagi bergerak.

Disamping Belanda memakai tenaga-tenaga dari negeri Paperu untuk beroperasi. Negeri Paperu dibawa pimpinan dua Kapitannya yang ternama kakak beradik Kapitan Sopamena: Kamalau dan Taratara, sehingga oleh kekuatannya bangsa sendiri kerajaan Iha menyerah kalah.

Sekarang dapat kita ketahui Belanda punya tipu muslihat, artinya sesudah segala keperkasaan datuk-datuk kita ditundukan dengan jalan bujuk atau ditindas maka dengan sendirinya, kendaraan politik Belanda dapat berjalan dengan luas.

Melalui agama dan pendidikan bangsa kita diberi pelajaran akibatnya, yang mau masuk Kristen hilang adat hilang bahasa, sehingga dalam jangka waktu yang begitu panjang kami menjadi alat bagi Belanda.

Belanda Iha hancur lebur, Belanda maju tanpa mundur. Disini Kapitan Iha ditewaskan, segala pertahanannya hancur berantakan dan sisa dari pada rakyatnya yang tidak mau tunduk pada permerintah kolonial Belanda bersama-sama dengan Kakak yang tua (Kasim), lalu lari meninggalkan Iha dipulau Saparua, menuju Seram di negeri Luhu karena satu asal mereka juga Nunusaku sejak dahulu.

Menurut tuturan dari satu orang di negeri Iha, yang sekarang menurut panggilan umum Iha-Luhu, bahwa sejak hancurnya kerajaan Iha, maka mereka yang mau tunduk kepada Belanda masuk Kristen. Sedangkan sisa sepuluh keluarga yang tidak tunduk, lalu lari dan mengambil tempat di negeri Iha yang berdekatan dengan Luhu sekarang.

Sesudah kerajaan Iha ditundukan dengan kekerasan dan negeri-negeri lainnya diturunkan ke pesisir pantai dengan bujukan berarti setengah dari perjalanan politik Belanda hampir tercapai.

Untuk menghilangkan segala bekas, yang dapat membuktikan semua kekejaman Belanda tadi, maka segala kebenaran diputar balikkan, untuk dihilangkan dari permukaan bumi sejarah seperti yang terbukti: PATTIPELAYA dirubah menjadi PAPILAYA. Titawaka menjadi Itawaka. Air Potong-potong menjadi Air Potang-potang.

Sisa dari rakyat Iha yang mau masuk Kristen disebut Iha Mau, tetapi diganti oleh Belanda menjadi Ihamahu. Dan Iha yang berpindah dari kerajaan Iha Saparua ke Seram dekat Luhu disebut Iha-Luhu.

Kesemuanya ini adalah hasil usaha bujukan penjajah untuk lebih memikat hati masyarakat dan bangsa kita, sehingga 350 tahun lamanya kita menjadi tenaga bayaran kerajaan Belanda. Tenaga-tenaga bangsa kita dijadikan kuda tunggang dan benteng bagi Belanda dimedan pertempuran, supaya dibelakang benteng ini Belanda dan berlindung dan terpelihara, diwaktu peperangan banyak kepala dan jiwa anak bangsa kita menjadi tebusan, yang hidup disiksa dalam penjara akibatnya kita dibawa terpisah jauh dari Ibu-Bapak, Sanak dan Saudara.

ASAL-USUL NEGERI PORTO DAN NENEK MOYANG TALAKUA

Masyarakat Porto memahami bahwa nenek moyang mereka yang pertama, berasal dari pulau Seram, dari Nunusaku (gunung suci di pulau Seram), maka asal ususl negeri Porto dan nenek moyang Talakua diceriterakan sebagai berikut :

“….bahwa pada waktu penduduk mulai menyebar mencari tempat-tempat yang lain mereka dipimpin oleh empat orang kapitan, yaitu : Kapitan Wattimena Wael (yang nantinya menjadi moyang Wattimena di Makariki), Kapitan Wattimury (yang kemudian menjadi moyang Wattimury), Kapitan Nanlohy (yang kemudian menjadi moyang Nanlohy) dan Kapitan Talakua (yang kemudian menjadi moyang Talakua). Mereka bermusyawarah untuk menyepakati tujuan dan arah pengembaraan mereka dan mereka sepakat untuk menghilir sepanjang sungai Tala. Tiba di Tala, mereka membuat suatu perjanjian dengan menanam sebuah batu yang dinamakan Manuhuru yang kemudian berubah menjadi Huse. Perjanjian yang mereka ikrarkan adalah : “Walaupun mereka nanti bercerai-berai, tetapi hubungan persaudaraan ini harus terus dipertahankan dan merekapun harus saling tolong-menolong”. Tempat ini kemudian menjadi suatu batu pertanda tempat kenang-kenangan dari keturunan negeri Makariki, Amahai, Luhu dan Porto. Beberapa hari kemudian Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua naik keatas rakit untuk bermain-main, tetapi rakit terbawa arus dan hanyut semakin jauh ke tengah laut. Mereka terdampar di suatu tempat bernama Nanuluhu dan Kapitan Nanlohy tertinggal di situ sedangkan Kapitan Talakua terus hanyut melewati Tanjung Umelputty (sekarang dekat desa Kulur) dan akhirnya terdampar di suatu teluk di pulau yang kemudian dinamakan pulau Saparua. Sampai sekarang orang meyakini bahwa sepasang tapak kaki yang tertinggal di Wasa dekat tanjung Umelputty adalah tapak kaki Kapitan Talakua yang pertama singgah di situ. Tetapi kemudian karena ingin mencari tempat tinggal yang aman atau kecendrungan untuk dekat dengan para leluhur (sesuai kepercayaan asli) maka dibangunlah suatu Hena atau Aman di gunung Opal. Lama setelah itu Kapitan Nanlohy juga ikut terdampar kesitu dan menurut hikayat Talakua,[1] ketika Kapitan Talakua melihat Kapitan Nanlohy berenang dekat tanjung itu, Kapitan Talakua mengambil sebatang galah untuk menolong Kapitan Nanlohy naik kedarat. Karena itu dalam sejarah pembentukan negeri Porto, Talakua dan Nanlohy mempunyai negeri lama yang sama yaitu di gunung Opal. [2] Selain proses migrasi dari pulau Seram kemudian berdatangan lagi orang-orang dari Maluku Utara, Irian Jaya, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, mereka lalu berkelompok membuat kediaman di pegunungan.

Kecendrungan mencari tempat-tempat yang aman dan dekat dengan para leluhur sesuai keyakinan mereka itulah yang menyebabkan terbentuklah pemukiman-pemukiman penduduk di pegunungan. Mereka berkelompok dalam persekutuan-persekutuan yang disebut Rumahtau atau Lumatau yang terbentuk dalam ikatan genealogis. Rumatau-rumahtau ini kemudian menggabungkan diri dalam suatu persekutuan yang disebut hena atau aman dan menempati lokasi-lokasi tertentu yang dipimpin oleh Ama. Aman berasal dari istilah pribumi ama yang artinya bapa atau tuan. Dengan demikian Aman adalah pemukiman yang dimiliki dan diperintah oleh Ama. Lokasi atau wilayah hunian inilah yang kemudian dikenal dengan nama negeri lama.

Negeri lama-negeri lama di pegunungan yang dihuni oleh para leluhur masyarakat Porto adalah sebagai berikut :
Opal : Opal adalah daerah pegunungan yang tertinggi dalam wilayah petuanan desa Porto. Negeri lama ini ditempati oleh Talakua dengan mengambil posisi sebelah depan (arah Timur) menghadap ke Saparua, dan Nanlohy yang menempati wilayah Opal bagian belakang (arah Barat) menghadap ke pantai. Talakua dan Nanlohy menempati negeri lama yang sama, sebab menurut cerita rakyat,[ 3] keduanya berasal dari Seram. (lihat asal-usul negeri Porto di hal. 68). Mungkinkah karena itu Talakua dan Nanlohy mempunyai Soa yang sama yaitu Soa Lesiruhu dan menjadi Soa Raja.
Selain Opal, juga ada negeri lama dari para leluhur yang lain seperti :

1. Amahoru : Negeri lama ini ditempati oleh Latuihamalo, dan kemudian menjadi Soa Muarea.
2. Sawahil : Negeri lama ini ditempati oleh Polnaya, dan kemudian menjadi Soa Ulalesi.
3. Tahuku : Nageri lama ini ditempati oleh Sahertian, dan kemudian menjadi Soa Latarisa
4. Latehuru : Negeri lama ini ditempati oleh Wattimury, dan kemudian menjadi Soa Namasina
5. Samonyo : Negeri lama ini ditempati oleh Tetelepta, dan kemudian menjadi Soa Muahatalea
6. Amatawari : Negeri lama ini ditempati oleh Berhitu, dan kemudian menjadi Soa Beinusa. Dalam cerita asal usul bangsa Maluku. [4] dikatakan bahwa, Berhitu adalah orang Ameth ditempatkan di Porto (negeri lama) atas jasanya yang telah membantu Porto(kapitan Talakua), untuk berperang melawan Johor. Menurut cerita itu, dikatakan bahwa, karena itulah Porto diberi nama menurut negeri Ameth, yaitu Samasuru.
7. Louwunyo : Negeri lama ini ditempati oleh Aponno, dan kemudian menjadi Soa Lohinusa.

Pusat pemerintahan negeri lama-negeri lama ini ada di pegunungan Opal, di mana raja yang memerintah pada waktu itu adalah Talakua (yang digelar raja hutan). Struktur pemerintahan di gunung atau di negeri lama bersifat tradisional, tetapi unsur demokrasi sangat jelas terlihat dengan adanya pembagian kerja dalam struktur pemerintahan itu, seperti, ada pembagian peran raja, kapitan, mauweng, dan marinyo.Stuktur masyarakat juga sangat teratur seperti, rumatau, uku, hena atau aman, dan uli.

Pembentukan hena atau aman ini juga terjadi dalam perebutan kekuasaan di wilayah pegunungan tetapi diceriterakan bahwa kemudian di wilayah pegunungan itu, terdapat persekutuan yang lebih besar yang disebut Uli Poru Amarima dan kemudian menjadi Ama Poruto.[5] Dari sinilah kita mengerti bahwa nama asli negeri Porto adalah Poru yang artinya menarik hati. Uli adalah gabungan beberapa hena atau aman, sedangkan Amarima artinya lima aman atau lima kampung, yang dipimpin oleh Kapitan Talakua, yang menjadi penguasa di Gunung Opal. Hal ini sejalan dengan apa yang ceriterakan oleh Sitaniapessy,[6] bahwa : di akhir abad-13 dan awal abad-14, sudah ada penduduk Poru yang berkuasa di pegunungan Porto (nama Porto diberikan kemudian). Diceriterakan bahwa, ketika Johor tiba di Saparua, tidak ada satu negeri pun yang berani berperang dengan Johor dan yang berani angkat senjata melawan Johor adalah Poru atau Porto. Kekuasaan Poru bahkan menjadi salah satu pertahanan kuat di gunung Opal dan di zaman Portugis dan Belanda, wilayah ini tidak tersentuh sama sekali. Selain perang Iha dan perang Pattimura, ada juga satu pusat pertahanan yang kuat dan tidak pernah dapat dikuasai oleh penjajah yaitu di Uli Poru Amarima.

Selanjutnya guna memudahkan kompeni dalam politik perdagangan dan pengawasan, maka sejak masa Portugis, telah dimulai suatu kebijaksanaan untuk menurunkan penduduk dari pemukiman awal dipegunungan, ke tempat-tempat pemukiman baru di daerah pantai.[7] Proses pemindahan ini dicatat di zaman penjajahan Belanda atau VOC, membawa pula perubahan-perubahan yang luas dan penting dalam susunan masyarakat. Struktur masyarakat yang berpusat pada hena dan aman, kemudian menjadi masyarakat negeri Porto di pantai. Cooley, dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa, proses perpindahan itulah yang menyebabkan terbentuknya negeri-negeri di pesisir pantai yang terjadi antara tahun 1480-1660.[8] Ketika negeri terbentuk maka istilah hena dan aman tidak digunakan lagi dan selanjutnya dipakai istilah matarumah (untuk marga dalam keturunan genealogis), soa (persekutuan dari beberapa matarumah yang bukan lagi persekutuan genealogis tetapi persekutuan teritorial) dan negeri (gabungan beberapa soa dalam wilayah tertentu).

Mengenai perpindahan penduduk Lease dari gunung ke tepi pantai di Saparua, Maryam Lestaluhu, dalam buku hasil penelitiannya mengatakan bahwa, nanti setelah jatuhnya Kapahaha dalam tahun1645, Gubernur Demmer mulai mengarahkan perhatiannya ke Iha (kerajaan Iha).[9] Dalam tahun 1647 setelah pergolakan di jazirah Hitu (pulau Ambon) dapat diatasi, Gubernur Demmer menginstruksikan kepada penguasa Iha supaya rakyatnya disuruh turun berdiam di tepi pantai. Memang kapan persisnya pembentukan negeri Porto tidak mudah untuk diketahui, tetapi dengan mengacu pada beberapa sumber di atas, dapat diperkirakan bahwa perpindahan penduduk Porto dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai (negeri Porto sekarang) terjadi menjelang abad ke-17 (kurang lebih 300 tahun yang lalu). Perpindahan ini terjadi atas keinginan dan kemauan VOC yang adalah alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, maka arus perpindahan itu juga tidak terjadi secara serentak tetapi bertahap karena ada penduduk yang tidak mau turun dan tetap bertahan (mempertahankan kekuasaannya) di pegunungan atau negeri lama.

Bagi masyarakat Porto, perpindahan penduduk dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai terjadi dalam dua tahap yang disebut Uku Toru dan Uku Rima. Uku Toru adalah kelompok tiga yang turun lebih dulu ke negeri di pantai yaitu : Nanlohy, Sahertian dan Polnaya sedangkan, Uku Rima adalah kelompok lima yang turun kemudian, yaitu : Latuihamallo, Tetelepta, Wattimury, Berhitu dan Aponno.[10] Walaupun demikian, masih ada yang tetap bertahan di hutan atau pegunungan dan tidak ikut dalam arus perpindahan itu, yaitu Talakua yang tidak bersedia untuk menyerah kepada Belanda. Karena itu Talakua diberi gelar raja utang atau Namasina. Sedangkan di pemukiman baru, pemerintah kolonial Belanda mengangkat Nanlohy menjadi raja dinegeri yang baru, dan diberi gelar Raja pantai atau Nikisina. Sejak itulah negeri yang baru itu diberi nama Poruto (dari Poru atau Amaporuto) dan kemudian berubah menjadi Porto. Porto disebut juga Sama Suru Amalatu Poru Amarima.[11] Nama ini mengingatkan masyarakat negeri Porto tentang sejarah pembentukan negeri sejak bermukim di pegunungan atau negeri lama, sampai menempati wilayah pemukiman baru di tepi pantai sampai sekarang.

sumber : http://sopamahu-tuhusula.blogspot.com

SEJARAH PELA PORTO DAN ITAWAKA

Pada jaman dahulu negeri SIRISORI berdiam di gunung AMAPELE. Sedangkan batas negeri PORTO berada pada daerah HATAWANO sampai pada TIOUW dan AIR PAPERU yang terletak di ujung negeri PAPERU.
Oleh karena begitu luasnya negeri PORTO yang pada pesisir gunung bertuliskan PANTAI HATAWANO maka rakyat yang terdiri dari yang terdiri dari 6 negeri dan di gabungkan menjadi satu yaitu negeri PORTO selalu di ganggu oleh orang-orang LANO (kaum perompak) maka demi keamanan ketuanan negeri PORTO oleh NANLOHY dari OPAL memrintahkan kedua kapitan yaitu LATUIHAMALLO dan WATTIMURY untuk mengusir negeri SIRISORI yang terletak di gunung AMAPELE.

Mengingat masyarakat negeri SIRISORI selalu bersengkongkol dengan para perompak (LANO) maka kedua kapitan tersebut bersama masyarakat PORTO memerangi masyarakat SIRISORI, namun masyarakat PORTO menunda peperangan tersebut dan atas perlindungan yang disetujui oleh Raja NANLOHY dari OPAL untuk meminta bantuan dari masyarakat ITAWAKA.
Selanjutnya kapitan LATUIHAMALLO di perintahkan pergi ke ITAWAKA menemui kapitan PAPILAYA namun kapitan PAPILAYA tidak berada di tempat, kemudian kapitan LATUIHAMALLO hanya berbicara dengan adik kapitan PAPILAYA.
setalah itu kapitan LATUIHAMALLO dengan pengawalnya kembali ke negeri PORTO, sementara masyarakat negeri PORTO berunding di pantai WASA tiba-tiba kapitan PAPILAYA telah memimpin masyarakat ITAWAK untuk membantu masyarakat PORTO guna memerangi negeri SIRISORI yang terletak di gunung SAMAPELA.

Selanjutnya mengingat keberhasilan dalam peperangan tersebut maka negeri PORTO memberikan jasa kepada negeri ITAWAKA yaitu sebuah ketuanan yang berada di wilayah pantai WASA sampai dengan perbatasan HATAWANO (TUHAHA). dan hingga pada tahun 80an masyarakat ITAWAKA masih berkebun di wilayah tersebtu.
Kemudian setelah beberapa tahunnegeri SIRISORI datang memohon kepada raja PORTO . Negeri SIRISORI merasa susah dan sengsara oleh karena pertuanan mereka sangat kecil , maka mereka mendatangi ra ja PORTO guna memohon satu tempat kemudian raja PORTO menyetujuinya untuk mereka berkebun di satu tempat yang di sebut dusun PIA

sehingga terjadi pela antara PORTO dengan ITAWAKA itu disebut PELA PERANG atau PELA DARAH.

“PELA”

Arti kata Pela

Pela berasal dari kata Pila yang berarti buatlah sesuatu untuk kita bersama, dan kadang-kadang kata Pila diberi akhiran “TU” sehingga menjadi Pilatu yang artinya menguatkan, menamankan atau mengusahakan sesuatu benda tidak mudah rusak atau pecah. Kini kata “Pila” telah berubah menjadi “Pela”.

Yang sangat menarik dari Pela ini ialah kenyataan bahwa di MALUKU TENGAH hubungan Pela ini bukan saja terjadi antara negeri yang manganut agama yang sama, tetapi terjadi juga diantara negeri yang berlainan agama. Misalnya hubungan Pela antara negeri:

· TITAWAI (Kristen) di Nusalaut dengan PELAU (Islam) di pulau Haruku.

· TUHAHA (Kristen) di Saparua dengan ROHOMONI (Islam) di pulau Haruku.

· HUTUMURY (Kristen) di jasirah Leitimur dengan TAMILOUW di Seram Selatan.

Ini adalah berberapa contoh saja yang di kemukakan diantara puluhan contoh yang dapat disebutkan satu demi satu.

Ada juga yang mengartikan atau berpendapat bahwa Pela itu berasal dari kata Pela artinya saudara/sahabat yang dapat dikatagorikan sebagai suatu panggilan bagi kaum pendatang dari Jawa, Bugis, Makasar, Mandar, Buton dll yang menjajaki barang-barang dagangnya ke Maluku yang akhirnya kata Pela itu berkembang menjadi saudara yang dikasihi yang disamakan dengan GANDONG.

Latar belakang terjadinya Pela

Menurut sejarah dan kenyataan terjadinya Pela itu berbeda satu dengan yang lainnya tetapi tujuandnya tetap sama yakni ” BEKERJA SAMA UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA”.

Berberapa alasan terjadinya hubungan Pela adalah:

· Hubungan Pela sebagai balas jasa dari negeri yang satu kepada negeri yang lain yang pernah membantunya baik dalam lapangan politik (perperangan) maupun dalam lapangan sosiaal (bencana alam, pertolongan di laut dll).

· Hubungan Pela sebab ada hubungan persaudaraan antara negeri yang bersangkutan menurut cerita dari datuk-datuk mereka bahwa mereka adalah saudara kandung. Contoh: Rumahkay dan Rutong.

· Hubungan Pela sebab terjadinya hal-hal yang luar biasa seperti negeri Latuhalat di tanjung Nusaniwe dan Alang di tanjung Alang yang disebabkan karena kasih cinta.

Hubungan Pela di Maluku di bedakan dalam berberapa hal/peristiwa yang mengawalinya, jadi semakin besar peristiwa yang mengawali semakin keras sifat dari Pela tersebut.

Menurut Dr Frank Leonard Cooley dalam disertasinya yang berjdudul “Altar and throne in Central Moluccan Societies” halaman 261 menyatakan ” Pela as it is found at present in Moluccan societies is an institutionalized bond of friendship or brotherhood between all native residents of two or more villages, which bond was established by the ancestors under particular circumstances and carries specific and privileges for the parties thus bound together”. Menurut pendapatnya bahwa Pela ini diterbentuk dalam abad XVI di Maluku.

Ada berapa katagori Pela antara lain:

1. PELA KERAS / PELA LUNAK ini disebut Pela sejati karena menurut anggapan pihak-pihak yang berkepentingan hubungan Pela ini diikrarkan bersama berdasarkan sesuatu perjanjian yang kemudian diperkuat dengan angkat sumpah. Dalam perjanjian itu ditetapkan antara lain:

· Pela harus membantu Pela dalam segala kesukaran dan kesusahan.

· Pela harus menempati janji yang pernah diucapkan terhadap Pela.

· Pela tidak boleh kawin dengan Pela.

2. PELA TEMPAT SIRI dalam ikatan Pela ini tidak berdasarkan penyumpahan (angkat sumpah) jadi dapat dikatakan bahwa jenis Pela ini termasuk Pela yang ringan, ini karena balas jasa (bantuan sosial, ekonomi dll). Tempat sirih memegang peranan yang sangat penting dalam usaha pendekatan antara satu negeri dengan negeri jang lain. Jadi karena upacara pengangkatan PELA ini diawali dengan makan sirih maka PELA ini disebut ” PELA TEMPAT SIRIH”.

3. Pela Minum Darah ini disebut Pela perang.

4. Pela Darah

5. Pela Batu Karang

6. Pela Adik-kaka atau Pela Saudara

7. Pela Kawin

DIETER BARTELS dalam disertanya untuk mencapai gelar Doktor pada Cornel University Amerika Serikat tahun 1977 lebih banyak mengungkapkan tentang hal tersebut diatas serta hubungan Pela di daerah Maluku. Menurut beliau: “Pela is one of the specialties Ambonese communities in other parts of Indonesia maintain with their homeland”.

Ada beberapa negeri yang mempunyai hubungan PELA sesuai Katagori diatas:

* Pela Keras / Pela Tuni: Ameth-Soahuku- Kariu-Booi-Aboru-Hualoi

* Pela Tempat Sirih / Angkat Sumpah Tihulale- Hukuanakota-Kaibobo- 12 desa di gunung Seram

* Pela Perang / Pela Minum Darah Tuhaha-Rohomoni, Hatuhaha-Tuhaha

* Pela Batu Karang: Batumera- Passo, Oma Ullath

* Pela Adik-Kakak / Saudara Hutumuri-Sirisori-Tamilouw

* Pela Kawin: Alang-Latuhalat, Hitu -Latuhalat

Ada pula yang disebabkan karena GENELOGICAL BONDS antara lain PELA GANDONG seperti:

Kulur-Oma, Rumahkai-Rutong, Hukurila-Kilang, Ema-Naku.

Sala satu pela yang sangat mengikat umat Kristen dan Islam yaitu Pela: Ambalau- Nusalaut.

Sumber ; http://www.angelfire.com/

Suku & Profil Pulau Maluku

Suku Wemale

Wemale adalah salah satu kelompok etnik Maluku dari lebih Pulau Seram. Mereka berjumlah sekitar 9,000 dan hidup dengan 39 [desa/kampung] dari pusat Pulau Seram. Seperti Alune itu kepada barat, mereka berasal dari satu Patasiwa kelompok yang disebut bermula berasal dari nenek moyang etnik Maluku.

bahasa Wemale merupakan bagian dari Melayu-Polinesia dibagian utara dan selatan yang berbeda mempunyai jenis-jenis bahasa yang dikenal sebagai Horale, Kasieh, Uwenpantai, Honitetu dan Kawe. Disebelah utara hampir sekitar 5,000 orang dan Wemale selatan itu percakapan oleh sekitar 4,000 orang. secara tradisional Wemale hidup dari bercocok tanam, Banyak dari makanan mereka didasarkan pada hasil hutan berupa sagu, Mereka juga berburu dan mengumpulkan makanan.

Gambar Suku Wemale di Seram yang merupakan Bagian dari Alif’uru-Ina

Kaum Laki-laki Wemale mempunyai tugas untuk terlibat dalam aktivitas prajurit melawan kelompok-kelompok yang berdekatan. Wanita-wanita mempunyai tugas untuk mencari hasil hutan yang dihasilkan oleh alam untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka dalam bentuk keranjang(bakol).orang Wemale membawa pisau panjang mereka mengenakan pakaian kecil oleh karena lingkungan yang lembab. Wanita-wanita mengenakan rotan melingkupi di sekitar pinggang mereka.

Sama seperti dengan Alune, datangnya perayaan usia untuk anak-anak perempuan adalah satu kesempatan yang penting. besar Wemale yang dibangun dan merinci rumah dengan kayu, daun-daun tongkat-tongkat dan telapak tangan. Rumah ini adalah sangat dengan trampil dibuat untuk menyimpan, pelihara bagian dalam mengeringkan dan nyaman.

Kebudayaan dari orang-orang Wemale sudah banyak yang mengalami perubahan; beberapa decade akhir-akhir ini oleh karena dampak dari nilai-nilai konsumerisme tradisional merepotkan. Juga kegelisahan religius dan politis dan konflik yang hasilnya di Indonesia mempengaruhi banyak pulau dari bidang Maluku.

AMBOYNA

(Belanda Ambon), nama dari suatu tempat kediaman, kota pemimpin nya, dan pulau yang di atasnya kota itu diposisikan, di dalam Orangorang Belanda Timur Indies.

Tempat kediaman berbagi dengan bahwa dari Ternate, administrasi kepulauan Maluku, pemerintah yang sebelumnya [di/yang/ttg] mana dihapuskan dalam 1867. Itu termasuk suatu massa dari pulau-pulau di dalam Banda Sea (2° 30’8° 20′ S.dan 12 5° 45’1 35° E.), termasuk sabuk pulau yang mengepung laut di yang utara, timur dan selatan; dan dibagi untuk tujuan-tujuan yang administratif ke dalam sembilan daerah ( afdeelingen): 1)Amboyna, pulau nama itu; ( 2) Saparua, dengan Oma dan Nusa Laut; (3) Kajeli (Ketimuran Buru); (4) Masareti (Buru Barat); (5) Kairatu (Ceram Barat); (6) Wahai (yang utara bagian dari Mid-Ceram); (7) Amahai (selatan bagian dari Mid-Ceram); (8) Banda Isles, dengan Timur Ceram, Ceram Laut dan Gorom; (9) pulau dari Aru, Kei, Timor Laut atau Tenimber, dan di baratdaya: pulau-pulau. Bidang yang total dari tempat kediaman itu adalah sekitar 19,861 seribu persegi., dan populasi nya 296,000, termasuk 2400 Europeans.

Amboyna Island berada batal yang barat-daya dari Ceram, di sisi yang utara dari Banda Sea, mahluk satu satu rangkaian pulau kecil yang volkanis di dalam lingkaran yang bagian dalam [membulatkan/ mengelilingi] laut. Itu adalah 32 m.panjangnya, dengan satu bidang dari sekitar 386 persegi m., dan [menjadi/dari]?berasal dari sangat gambar takberaturan, selagi hampir dibagi menjadi dua. Bagian tenggara dan bagian lebih kecil (memanggil(hubungi Leitimor) dipersatukan kepada yang utara (Hitoe) oleh suatu genting tanah, pegentingan tanah, supitan tanah beberapa yard di dalam luas. Pegunungan yang paling tinggi, Wawani (3609 ft.) dan Salhutu (4020 ft.), mempunyai musim semi(mata air dan solfatar-solfatar panas. Mereka dianggap sebagai gunung api, dan pegunungan dari pulau-pulau Uliasser yang bertetangga sisa dari gunung api. Granit dan batu karang menyerupai ular mendominasi, hanya pantai-pantai dari Amboyna Bay [menjadi/dari]?berasal dari kapur, dan berisi stalactite gua-gua. Permukaan itu adalah fertil, sungai-sungai itu bersifat kecil dan bukan yang dapat dilayari, dan jalan-jalan yang dapat dilalui itu adalah semata-mata jalan setapak. Cocoa adalah salah satu [dari] produk-produk. Iklim itu adalah secara komparatif menyenangkan dan sehat; temperatur rata-rata itu adalah 80° F., jarang tenggelam di bawah 72°. Curah hujan, bagaimanapun, setelah angin monsun yang dari timur, adalah sangat berat, dan pulau itu adalah dapat dikenakan kepada angin topan yang kejam. Itu adalah luar biasa?menarik perhatian bahwa musim kemarau (Oktober kepada April) bersamaan waktu dengan periode angin monsun barat. Binatang menyusui yang berasal dari/pribumi bersifat lemah(miskin dalam jenis sedikit; beberapa maupun dalam jumlah; burung-burung lebih berkelimpahan, hanya dari tanpa variasi yang lebih besar. Ilmu serangga dari pulau, bagaimanapun, sangat kaya, terutama sekali menyangkut Lepidoptera. Kulit/kerang-kulit/kerang diperoleh di dalam sejumlah besar dan variasi.

Turtle-shell adalah juga sebagian besar diekspor. Tumbuh-tumbuhan itu adalah juga kaya, dan Amboyna menghasilkan kebanyakan dari buah-buahan dan sayur-mayur tropis umum, termasuk sagu, telapak tangan, pohon sukun, cocoa, kacang-kacangan, tebu, maizena/sejenis tanaman jagung, kopi, lada dan kapas. Cengkih-cengkih, bagaimanapun, membentuk produk pemimpin nya, meskipun [demikian] tukar tambah mereka adalah lebih sedikit yang penting dibanding tadinya/dahulu, ketika Orangorang Belanda melarang pembesaran pohon cengkih di semua pulau-pulau yang lain tunduk kepada aturan mereka, untuk mengamankan monopoli itu ke(pada Amboyna. Amboyna kayu, bernilai tinggi karena pekerjaan berhubungan dengan perhiasan, diperoleh dari simpul mati yang terjadi di pohon-pohon yang tertentu di dalam hutan-hutan dari Ceram. Populasi (sekitar 39,000) yang dibagi menjadi dua burger classesorang atau para warganegara, dan orang negri atau orang desa, pembentuk menjadi kelas dari asal-muasal yang asli yang menyenangi kehormatan-kehormatan tertentu berunding di para nenek moyang mereka oleh Belanda yang kuno Timur India Perusahaan. Yang asli [menjadi/dari]?berasal dari darah Malay-Papuan yang dicampur. Mereka kebanyakan orang-orang Kristen atau Mahommedans. Ada juga, di samping Orangorang Belanda, beberapa Arabs, Cina dan beberapa penetap-penetap bangsa Portugis.

Amboyna, kota pemimpin, dan tempat duduk dari pemimpin penduduk dan militer dari kepulauan Maluku, dilindungi oleh Fort Victoria, dan adalah suatu kota kecil yang bersih dengan jalan-jalan yang lebar/luas, sumur dinanam. Pertanian, perikanan-perikanan dan impor dan perdagangan ekspor melengkapi [alat; makna] pemimpin dari penghidupan. Itu berada di yang barat laut dari semenanjung dari Leitimor, dan mempunyai suatu aman dan dinding jangkar/biaya labuh luas lapang. Populasi nya adalah sekitar 8000.

Bangsa Portugis itu adalah bangsa orang Eropa yang pertama untuk mengunjungi Amboyna (1511). Mereka mendirikan suatu pabrik di sana dalam 1521, tetapi tidak memperoleh harta benda yang suka damai tentangnya hingga 1580, dan dispossessed oleh Orangorang Belanda dalam 1609. Sekitar 1615 Orang-Orang Inggris membentuk suatu penyelesaian di dalam pulau, pada Cambello, yang mereka menyimpan sampai 1623, ketika yang dibinasakan; dihancurkan oleh Orangorang Belanda, dan siksaan-siksaan menakutkan menimbulkan/mengenakan di orang-orang yang bernasib sial menghubungkan dengannya. Dalam 1654, setelah banyak negosiasi yang tanpa buah, Cromwell memaksa United Provinces itu untuk memberi jumlahan dari 30o,000, bersama-sama dengan suatu pulau yang kecil, seperti(ketika ganti-rugi kepada keturunan-keturunan dari mereka yang menderita di dalam “Amboyna pembantaian.” Dalam 1673 penyair Dryden menghasilkan tragedi dari nya Amboyna, atau Cruelties dari Orangorang Belanda kepada Orang-Orang Inggris Para pedagang. Dalam 1796 Orang-Orang Inggris, di bawah Admiral Rainier, Amboyna yang ditangkap, tetapi memulihkan nya kepada Orangorang Belanda di damai dari Amiens dalam 1802. Itu direbut kembali oleh Orang-Orang Inggris dalam 1810, tetapi sekali lagi kembali Orangorang Belanda dalam 1814.

BURU

(Buro, Belanda Boeroe atau Boeloe), satu pulau dari Orangorang Belanda Timur Indies, salah satu [dari] Molucca Islands yang kepunyaan tempat kediaman dari Amboyna, antara 3° 4′ dan 3° 50′ S.dan 125° 58′ dan 127° 15′ E.Pengukuran-pengukuran nya yang ekstrim adalah 87 m.oleh 50 seribu., dan bidang nya adalah 3400 persegi m.Permukaan nya adalah untuk kebanyakan part bergunung-gunung, meskipun [demikian] daerah daerah pesisir adalah sering tanah endapan dan berawa dari deposito-deposito dari banyak sungai-sungai. ini yang paling besar, Kajeli, memecat dari timur, pada sebagian dapat dilayari. Pengangkatan/tingginya-pengangkatan/tingginya yang terbesar terjadi di dalam barat, di mana gunung Tomahu menjangkau 8530 ft. Di tengah-tengah yang barat bagian dari pulau berada danau yang besar dari Wakolo, pada satu ketinggian dari 2200 ft., dengan suatu lingkar dari 37 m.dan suatu kedalaman tentang WC ft. Itu sudah dipertimbangkan suatu danau kawah/lubang ledakan; tetapi ini bukan kasus. Itu adalah terletak di simpangan batupasir dan batu tulis, di mana air, setelah dilemahkan pembentuk, sudah mengumpulkan di yang belakangan. Danau tidak memiliki afluen-afluen dan hanya saluran nya, Wai Nibe itu kepada yang utara. Pemimpin berhubungan dengan geologi pembentukan Buru bersifat batu tulis dari kristal/jernih dekat pantai yang utara, dan lebih kepada selatan Mesozoikum batupasir dan kapur, deposito-deposito dari kejadian yang jarang di dalam kepulauan. Betul-betul yang lebih besar bagian dari negeri mempunyai sejumlah lahan hutan dan padang rumput yang luas alami(wajar, tetapi bagian-bagian seperti itu seperti halnya dibawa ke dalam penanaman adalah sangat fertil.

Kopi, beras dan bermacam buah-buahan, seperti jeruk, jeruk, pisang, nanas dan kelapa siap tumbuh, seperti juga sagu, cabe merah, tembakau dan kapas. Satu-satunya barang ekspor yang penting, bagaimanapun, minyak kayu putih, suatu obat yang menyebabkan banyak keringat menyaring dari daun-daun dari Melaleuca Cajuputi atau pohon kayu putih; dan kayu. Tumbuh-tumbuhan yang asli adalah kaya, dan kayu jati, kayu hitam dan canari pohon-pohon terutama berkelimpahan; fauna, yang dengan cara yang sama bervariasi, termasuk babirusa, yang terjadi di dalam pulau ini hanya dari kepulauan Maluku. Populasi itu adalah sekitar i 5,000. [desa/kampung] di pesisir itu dihuni oleh suatu Populasi yang orang Melayu, dan bagian-bagian barat dan utara pulau itu diduduki oleh suatu cahaya mewarnai Melayu rakyat serupa yang asli dari Celebes yang dari timur. Di dalam bagian dalam/pedalaman itu ditemukan suatu [perlombaan; ras] yang ganjil yang yang diselenggarakan oleh sebagian orang untuk menjadi Orang Papua. Mereka digambarkan, bagaimanapun, seperti(ketika dengan ganjilnya orang Papua titigable tak dapat dikurangi di dalam bentuk badan, hanya 5 ft. 2 di dalam. rata-rata tingginya, dari suatu warna yellowbrown, dari yang lemah membangun, dan tanpa karakteristik secara mendesis rambut dan hidung terkemuka dari Orang Papua yang benar. Mereka dengan sepenuhnya penyembah berhala, hidup dengan dusun kecil yang tersebar, dan sudah datang sangat kecil dalam hubungan dengan setiap peradaban. Di antara populasi yang bahari sejumlah kecil Cina, Arab dan [perlombaan; ras] lain adalah juga ditemukan. Pulau itu dibagi oleh Orangorang Belanda ke dalam dua daerah. Penyelesaian pemimpin adalah Kajeli di pantai timur.

Sejumlah Mahommedan asli di sini adalah turun dari suku-suku memaksa dalam 1657 untuk berkumpul bersama-sama dari yang berbeda bagian-bagian dari pulau, selagi semua clove-trees dibasmi dalam satu usaha oleh Orangorang Belanda untuk memusatkan perdagangan cengkih. Di hadapan kedatangan dari Orangorang Belanda penduduk pulau itu di bawah dominion sultan dari Ternate; dan itu pemberontakan mereka melawan terhadap dia bahwa memberi Europeans peluang mengakibatkan penaklukan mereka.

BANDA ISLANDS

suatu kelompok Orangorang Belanda Timur Indies, terdiri dari tiga pemimpin dan beberapa pulau-pulau yang lebih sedikit di dalam Banda Sea, selatan dari Ceram, kepunyaan tempat kediaman dari Amboyna. Pulau-pulau utama adalah Great Banda atau Lontor; Banda Neira kepada yang utara nya yang; Gunong Api, di barat Banda Neira; Wai atau Ai barat lebih jauh masih, dengan Run di atasnya barat-daya; Pisang, utaranya dari Gunong Api; dan Suwangi, barat laut lagi; kembali. Bidang lahan yang total adalah sekitar 16 persegi m.Suatu formasi yang volkanis adalah nyata di Lontor, suatu pulau yang sickleshaped yang, dengan Neira dan Gunong Api, wujud-wujud bagian dari lingkaran dari suatu kawah/lubang ledakan. . itu pengaturan adalah dapat diperbandingkan dengan Santorin di dalam Aegean Sea. Gunong Api (Tembak Mountain), 2200 ft. ketinggian, adalah satu gunung api yang aktif, dan letusan-letusan dan gempabumi-gempabumi nya sudah sering membawa kehancuran, seperti(ketika khususnya dalam 1852, ketika . itu kerusakan terutama karena [gelombang/lambaian] yang sangat besar dari laut. Banda, kota pemimpin, di Neira, adalah suatu penyelesaian yang menyenangkan, yang diperintah oleh dua benteng Belanda dari awal abad yang 17th, Nassau dan Belgica. Pulau yang paling besar, Lontor, ditemukan terlalu tak sehat sebagai lokasi dari penyelesaian yang pokok; hanya iklim dari pulau-pulau secara umum, meskipun [demikian] panas, bukanlah tak sehat. Di dalam ruang(spasi antara Lontor, Neira dan Gunong Api ada suatu pelabuhan bandar yang baik, dengan mempesona sebelah menyebelah, yang memungkinkan kapal-kapal untuk masuk di yang manapun dari angin monsun. Antara Gunong Api dan Neira ada sepertiga saluran, tetapi itu adalah dapat dilayari untuk kapal-kapal kecil saja. Pokok barang-barang kesenian perdagangan di dalam kelompok Banda adalah pala-pala dan bunga pala/tongkat kebesaran.

Pala itu adalah berasal dari/pribumi. Populasi yang asli setelah dijernihkan oleh Orangorang Belanda, perkebunan-perkebunan itu dikerjakan dnegan pedoman para budak dan narapidana-narapidana hingga pembebasan dari 1860. Pengenalan tentang perkemahan tenaga kerja Melayu dan Cina sesudah itu terjadi. Perkebunan-perkebunan (menetes) mula-mula diselenggarakan oleh penakluk-penakluk dari yang asli, pemonopolian pemerintah hasil pada suatu tingkat bunga tetap; hanya dalam 1873 monopoli pemerintah dihapuskan. Sejumlah produksi tiap-tiap tahun kepada hampir 1,500,000 lb dari pala-pala, dan 350,000 lb dari bunga pala/tongkat kebesaran. Pala-pala itu adalah tumbuh, seturut kondisi-kondisi alami(wajar, di bawah keteduhan dari yang lain pohon-pohon, biasanya canari. Jalti atau jatti kayu ditanami di pulau yang kecil dari Rosingen. Populasi yang total pulau-pulau itu adalah sekitar 9500, [di/yang/ttg] mana sebagian orang 7000 adalah keturunan dari yang diperkenalkan asli sebagai para budak dari pulau-pulau yang bertetangga, dan adalah orang-orang Kristen atau Mahommedans.

Banda Islands itu ditemukan dan annexed oleh bangsa Portugis Antonio D’Abreu dalam 1512; hanya di dalam permulaan abad yang 17th, rakyat bangsa nya diusir oleh Orangorang Belanda. Dalam 1608 Orang-Orang Inggris dibangun suatu pabrik di Wai, yang dirobohkan oleh Orangorang Belanda secepat Orang-Orang Inggris kapal dininggalkan. Tidak lama sesudah, bagaimanapun, Banda Neira dan Lontor adalah berhenti oleh asli kepada Orang-Orang Inggris, dan dalam 1620 Run dan Wai ditambahkan kepada dominion-dominion mereka; tetapi kendati perjanjian-perjanjian ke dalam mana mereka telah masuk Orangorang Belanda menyerang dan mengusir saingan-saingan mereka yang Inggris. Dalam 1654 mereka dipaksa oleh Cromwell untuk memulihkan Run, dan untuk membuat kepuasan untuk pembantaian dari Amboyna; tetapi Orang-Orang Inggris penetap-penetap tidak sedang cukup didukung dari rumah, pulau itu direbut kembali oleh Orangorang Belanda dalam 1664. Mereka tinggal di dalam harta benda yang tak terganggu sampai 1796, ketika Banda Islands itu diambil oleh Orang-Orang Inggris: Mereka dipulihkan oleh perjanjian dari Amiens di dalam tahun 1800, lagi; kembali menangkap, dan akhirnya memulihkan oleh perjanjian dari Paris menyimpulkan dalam 1814.

TIMOR LAUT

(“Ganggang laut Timor”; Belanda, Timor Laoet), Tenimber atau Tenimbar, suatu kelompok pulau-pulau di dalam Kepulauan Melayu, SW. dari Aru Islands, antara 6° 20′ dan 8° 30′ S., dan 130 40′ dan 132° 5′ E.Oleh Orangorang Belanda, di dalam tempat kediaman siapa dari Amboyna mereka dimasukkan, mereka secara politis dibagi menjadi dua daerah; Larat, termasuk pulau-pulau yang dihuni dari Larat, Vordate, Molu, dan Maro, bersama-sama dengan banyak pulau yang tak berpenghuni; dan Sera, termasuk Sera Islands, Selaru, dan selatan bagian dari Yamdena, semua dihuni. Hanya Yamdena dan Selaru adalah oleh Timor Laut yang disebut asli; semua yang lain mereka sebut(panggil Tenimbar. Kelompok itu adalah secara keseluruhan bentuk karang. Vordate, Molu dan bagian tenggara Yamdena mempunyai suatu tingginya yang maksimum 820 ft.; sisanya bersifat datar(kempes dan rendah, kecuali Laibobar, kelihatannya suatu pulau yang sangat kecil yang volkanis di barat, yang mempunyai satu kawah/lubang ledakan yang padam 2000 ft. tinggi. Yamdena, pulau yang paling besar, mempunyai satu bidang dari tentang I Ioo persegi m.; sisanya bersama-sama tentang I 000. Ritabel di Larat adalah satu-satunya pangkalan laut yang aman selama angin monsun timur dan barat. Fauna termasuk kerbau liar, suatu berkenaan dengan binatang berkantung adj cuscus, beberapa yang gila, burung nuri warna merah tua yang indah/cantik, variasi-variasi jarang dari tanah(landasan, sejenis murai, pemakan madu dan sejenis podang. Populasi itu diperkirakan pada sekitar 19,000. Penduduk asli itu adalah Papuans, tetapi banyak bergaul dengan Orang Melayu dan barangkali Orang Polinesia unsur-unsur. Mereka adalah suatu [perlombaan; ras] yang bagus, sering kali (di) atas 6 ft. perasaan(pengertian jangkung, mereka yang terkenal akan artistik.

Di dalam pengakuan yang lain, mereka adalah penyembah berhala di suatu status(negara yang rendah dari kultur, kebanyakan dibagi menjadi masyarakat-masyarakat bermusuhan dan menjadi budak perampokan. Satu-satunya [alat; makna] dari penghidupan adalah pertanian yang primitif di suatu tanah yang tak subur, perikanan kura-kura dan teripang dan ternak. pembesaran. Ekspor yang tahunan (teripang, kura-kura dan kamuning kayu) dihargai hanya pada £850 ke £1650.

Lihat H. O.Forba-forba, “Eksplorasi-eksplorasi Milik Tiga Bulan di dalam Tenimbar Islands,” di Proc. dari Roy. Geog. Soc. ( 1884); J. G.Riedel, Tidak sluik en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua ( 1886); W. R.van Hoevell, “Tanimbar en Timor Laoet-Eilanden,” di Tijdschrift Batavian Genootschap (1889), jilid xxxiii.; J. D. Garson, “Di Cranial Characters dari Natives dari Timor-Laut,” Journ. Anthrop. Instit. xiii. 386.

KEI PULAU-PULAU

[-Ke, Kunci, Kii, &c.; asli, Ewab], suatu kelompok di dalam Orangorang Belanda Timur Indies, di dalam tempat kediaman dari Amboyna, antara 5° dan 6° 5′ S.dan 131° 50′ dan 133° 15′ E., dan terdiri dari empat bagian: Nuhu-Iut atau Great Kei, Roa atau Little Kei, Tayanda, dan kelompok Kur. Kei Besar berbeda secara phisik dari semua segi kebaikan dari kelompok-kelompok yang lain. Itu [menjadi/dari]?berasal dari formasi Tertiary (Miosen), dan mempunyai suatu rantai dari pengangkatan/tingginya-pengangkatan/tingginya yang volkanis sepanjang poros, mencapai suatu tingginya dari 2600 ft. Bidang nya adalah 290 seribu persegi., bidang lahan yang total dari mahluk kelompok 572 persegi itu m. Semua pulau yang lain [menjadi/dari]?berasal dari formasi post-Tertiary dan [tentang] permukaan aras. Kelompok mempunyai hubungan kapal selam, di bawah laut secara relatif dangkal, dengan kelompok Timorlaut kepada yang barat-daya dan rantai dari pulau-pulau yang membentang barat laut ke arah Ceram; air men[dalam memisahkan nya di timur dari Aru Islands dan di barat dari pulau-pulau yang bagian dalam dari Banda Sea. Di antara produk-produk adalah coco-nuts, sagu, ikan, teripang, kayu, kopra, maizena/sejenis tanaman jagung, ubi rambat dan tembakau. Populasi itu adalah sekitar 23,000, dari siapa 14,900 penyembah berhala, dan 8300 Mahommedans.

Penduduk/penghuni-penduduk/penghuni [menjadi/dari]?berasal dari tiga jenis. Ada Kei Islander benar, suatu Orang Polinesia oleh tingginya nya dan rambut berombak/keriting coklat atau hitam, dengan suatu kulit antara Orang Papua hitam dan Melayu menguning. Ada murni Orang Papua, yang mempunyai sebagian besar digabungkan di dalam jenis Kei. Yang ke tiga, ada imigran Malays. Ini (yang dibedakan oleh pemakaian suatu bahasa khusus dan oleh pengakuan Agama Islam) adalah keturunan-keturunan dari aslinya dari pulau-pulau Banda yang melarikan diri dari timur di hadapan pelanggaran-pelanggaran dari Orangorang Belanda. Penyembah berhala mempunyai patung-patung tidak sopan dari dewata-dewata dan tempat-tempat dari pengorbanan yang ditandai oleh rumah susun mengalahkan timbunan batu. Kei Islanders itu bersifat cakap: pandai: mahir di dalam mengukir dan boat-builders terkenal.

Lihat C. M. Kan, “Onze geographische kennis d Keij-Eilanden,” di Tijdschrift Aardrijkskundig Genootschap (1887); Burung martin, “Mati Kei-inseln u.ihr Verhaltniss zur Australisch-Asiatischen Grenzlinie,” ibid. memisah[kan vii. ( 1890); W. R.van Hoevell, “Tidak Kei-Eilanden,” di Tijdschr. Batavian. Informasi. ( 1889); “Verslagen van tidak wetenschappelijke opnemingen en onderzoekingen op tidak Keij-Eilanden” (1889-1890), oleh Planten dan Wertheim (1893), dengan peta dan ethnographical atlas dari di baratdaya: dan pulau-pulau bagian tenggara oleh Pleyte; Langen, Mati Keyoder Kii-Inseln (Vienna, 1902).

sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Legenda Empat Kapitan

Daerah Nunusaku, dahulu kala merupakan pusat kegiatan pulau Seram, yang biasa juga disebut Nusa Ina. Penduduk pulau tersebut mulai tersebar ke tempat-tempat lain yang dipimpin oleh empat orang kapitan. Mereka berempat bermusyawarah untuk menyepakati tujuan arah pengembaraannya. Sasaran mereka yaitu akan menghilir sepanjang sungai Tala, sebab sungai ini memiliki banyak kekayaan.

Perbekalan dan persiapan dalam perjalanan disiapkan dengan cepat. Sebagaimana biasa, upacara adatpun dilakukan sebelum perjalanan dimulai, yaitu dengan jalan kaki ke negeri Watui.

Sesampai di negeri Watui, mereka mulai membuat sebuah rakit (gusepa) yang di buat dari batang dan bilah-bilah bambu. Rakit ini dipakai untuk menghilir sungai Tala. Sungai ini terkenal dengan keganasannya, airnya sangat deras dan terdapat banyak batu-batu besar di sepanjang alirannya.
Pelayaran pun dimulai dan sebagai pimpinannya adalah Kapitan Nunusaku, yang merupakan Kapitan besar turunan moyang Patola. Moyang inilah yang menjadi moyang dari mata rumah Wattimena Wael di Mahariki. Harta milik Kapitan Nunusaku dibawanya semua, tidak lupa pula seekor burung nuri atau burung kasturi raja. Selain itu juga dibawanya sebuah pinang putih yang diletakkan dalam tempat sirih pinang.

Di belakang kemudi duduk kapitan yang akan menjadi moyang dari mata rumah Wattimury. Di tengah rakit adalah kapitan yang akan menjadi moyang Nanlohy. Di belakang sebelah kanan duduk kapitan yang akan menjadi moyang Talakua. Untuk menjaga harta milik mereka ditunjuk Kapitan Nanlohy. Di dalam hukum adat, ia bertindak sebagai seorang Dati yang akan menentukan pembagian-pembagian, baik milik pribadi maupun milik bersama. Oleh sebab itu, maka semua harta milik dan pembekalan diletakkan di tengah rakit berdekatan dengan Kapitan Nanlohy.

Rakit melaju karena kekuatan air yang mengalir turun menuju Tala. Namun ketika tiba di tempat yang bernama Batu Pamali, rakit mereka kandas dan hampir terbaik. Kapitan Wattimena Wael terkejut dan berteriak kepada kapitan yang berada di dekatnya. “Talakuang!!” Yang artinya ”tikam tahan gusepa” Dan kapitan yang mendapat perintah tersebut dinamakan ”Talakua” yang kemudian menjadi moyang dari mata rumah Talakua di negeri Portho hingga sekaran.

Ketika rakit hampir berbalik, saat itu Kapitan Wattimena tengah menbuka tempat sirih pinagnya menjadi terjatuh. Pada saat yang sama burung nurinya pun terbang. Kejadian ini sangat mengecewakan kapitan yang langsung terucap menikrarkan sumpah hingga merupakan pantangan bagi mata rumah Wattimena Wael. Bunyi sumpah tersebut, bahwa turun temurun mata rumah Wattimena Wael dan para menantu tak boleh memelihara burung nuri dan memakan sirih pinang. Kemudian yang berada di sungai tersebut dinamakan Batu Pamali hingga sekarang.

Sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.