ASAL-USUL NEGERI PORTO DAN NENEK MOYANG TALAKUA

Masyarakat Porto memahami bahwa nenek moyang mereka yang pertama, berasal dari pulau Seram, dari Nunusaku (gunung suci di pulau Seram), maka asal ususl negeri Porto dan nenek moyang Talakua diceriterakan sebagai berikut :

“….bahwa pada waktu penduduk mulai menyebar mencari tempat-tempat yang lain mereka dipimpin oleh empat orang kapitan, yaitu : Kapitan Wattimena Wael (yang nantinya menjadi moyang Wattimena di Makariki), Kapitan Wattimury (yang kemudian menjadi moyang Wattimury), Kapitan Nanlohy (yang kemudian menjadi moyang Nanlohy) dan Kapitan Talakua (yang kemudian menjadi moyang Talakua). Mereka bermusyawarah untuk menyepakati tujuan dan arah pengembaraan mereka dan mereka sepakat untuk menghilir sepanjang sungai Tala. Tiba di Tala, mereka membuat suatu perjanjian dengan menanam sebuah batu yang dinamakan Manuhuru yang kemudian berubah menjadi Huse. Perjanjian yang mereka ikrarkan adalah : “Walaupun mereka nanti bercerai-berai, tetapi hubungan persaudaraan ini harus terus dipertahankan dan merekapun harus saling tolong-menolong”. Tempat ini kemudian menjadi suatu batu pertanda tempat kenang-kenangan dari keturunan negeri Makariki, Amahai, Luhu dan Porto. Beberapa hari kemudian Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua naik keatas rakit untuk bermain-main, tetapi rakit terbawa arus dan hanyut semakin jauh ke tengah laut. Mereka terdampar di suatu tempat bernama Nanuluhu dan Kapitan Nanlohy tertinggal di situ sedangkan Kapitan Talakua terus hanyut melewati Tanjung Umelputty (sekarang dekat desa Kulur) dan akhirnya terdampar di suatu teluk di pulau yang kemudian dinamakan pulau Saparua. Sampai sekarang orang meyakini bahwa sepasang tapak kaki yang tertinggal di Wasa dekat tanjung Umelputty adalah tapak kaki Kapitan Talakua yang pertama singgah di situ. Tetapi kemudian karena ingin mencari tempat tinggal yang aman atau kecendrungan untuk dekat dengan para leluhur (sesuai kepercayaan asli) maka dibangunlah suatu Hena atau Aman di gunung Opal. Lama setelah itu Kapitan Nanlohy juga ikut terdampar kesitu dan menurut hikayat Talakua,[1] ketika Kapitan Talakua melihat Kapitan Nanlohy berenang dekat tanjung itu, Kapitan Talakua mengambil sebatang galah untuk menolong Kapitan Nanlohy naik kedarat. Karena itu dalam sejarah pembentukan negeri Porto, Talakua dan Nanlohy mempunyai negeri lama yang sama yaitu di gunung Opal. [2] Selain proses migrasi dari pulau Seram kemudian berdatangan lagi orang-orang dari Maluku Utara, Irian Jaya, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, mereka lalu berkelompok membuat kediaman di pegunungan.

Kecendrungan mencari tempat-tempat yang aman dan dekat dengan para leluhur sesuai keyakinan mereka itulah yang menyebabkan terbentuklah pemukiman-pemukiman penduduk di pegunungan. Mereka berkelompok dalam persekutuan-persekutuan yang disebut Rumahtau atau Lumatau yang terbentuk dalam ikatan genealogis. Rumatau-rumahtau ini kemudian menggabungkan diri dalam suatu persekutuan yang disebut hena atau aman dan menempati lokasi-lokasi tertentu yang dipimpin oleh Ama. Aman berasal dari istilah pribumi ama yang artinya bapa atau tuan. Dengan demikian Aman adalah pemukiman yang dimiliki dan diperintah oleh Ama. Lokasi atau wilayah hunian inilah yang kemudian dikenal dengan nama negeri lama.

Negeri lama-negeri lama di pegunungan yang dihuni oleh para leluhur masyarakat Porto adalah sebagai berikut :
Opal : Opal adalah daerah pegunungan yang tertinggi dalam wilayah petuanan desa Porto. Negeri lama ini ditempati oleh Talakua dengan mengambil posisi sebelah depan (arah Timur) menghadap ke Saparua, dan Nanlohy yang menempati wilayah Opal bagian belakang (arah Barat) menghadap ke pantai. Talakua dan Nanlohy menempati negeri lama yang sama, sebab menurut cerita rakyat,[ 3] keduanya berasal dari Seram. (lihat asal-usul negeri Porto di hal. 68). Mungkinkah karena itu Talakua dan Nanlohy mempunyai Soa yang sama yaitu Soa Lesiruhu dan menjadi Soa Raja.
Selain Opal, juga ada negeri lama dari para leluhur yang lain seperti :

1. Amahoru : Negeri lama ini ditempati oleh Latuihamalo, dan kemudian menjadi Soa Muarea.
2. Sawahil : Negeri lama ini ditempati oleh Polnaya, dan kemudian menjadi Soa Ulalesi.
3. Tahuku : Nageri lama ini ditempati oleh Sahertian, dan kemudian menjadi Soa Latarisa
4. Latehuru : Negeri lama ini ditempati oleh Wattimury, dan kemudian menjadi Soa Namasina
5. Samonyo : Negeri lama ini ditempati oleh Tetelepta, dan kemudian menjadi Soa Muahatalea
6. Amatawari : Negeri lama ini ditempati oleh Berhitu, dan kemudian menjadi Soa Beinusa. Dalam cerita asal usul bangsa Maluku. [4] dikatakan bahwa, Berhitu adalah orang Ameth ditempatkan di Porto (negeri lama) atas jasanya yang telah membantu Porto(kapitan Talakua), untuk berperang melawan Johor. Menurut cerita itu, dikatakan bahwa, karena itulah Porto diberi nama menurut negeri Ameth, yaitu Samasuru.
7. Louwunyo : Negeri lama ini ditempati oleh Aponno, dan kemudian menjadi Soa Lohinusa.

Pusat pemerintahan negeri lama-negeri lama ini ada di pegunungan Opal, di mana raja yang memerintah pada waktu itu adalah Talakua (yang digelar raja hutan). Struktur pemerintahan di gunung atau di negeri lama bersifat tradisional, tetapi unsur demokrasi sangat jelas terlihat dengan adanya pembagian kerja dalam struktur pemerintahan itu, seperti, ada pembagian peran raja, kapitan, mauweng, dan marinyo.Stuktur masyarakat juga sangat teratur seperti, rumatau, uku, hena atau aman, dan uli.

Pembentukan hena atau aman ini juga terjadi dalam perebutan kekuasaan di wilayah pegunungan tetapi diceriterakan bahwa kemudian di wilayah pegunungan itu, terdapat persekutuan yang lebih besar yang disebut Uli Poru Amarima dan kemudian menjadi Ama Poruto.[5] Dari sinilah kita mengerti bahwa nama asli negeri Porto adalah Poru yang artinya menarik hati. Uli adalah gabungan beberapa hena atau aman, sedangkan Amarima artinya lima aman atau lima kampung, yang dipimpin oleh Kapitan Talakua, yang menjadi penguasa di Gunung Opal. Hal ini sejalan dengan apa yang ceriterakan oleh Sitaniapessy,[6] bahwa : di akhir abad-13 dan awal abad-14, sudah ada penduduk Poru yang berkuasa di pegunungan Porto (nama Porto diberikan kemudian). Diceriterakan bahwa, ketika Johor tiba di Saparua, tidak ada satu negeri pun yang berani berperang dengan Johor dan yang berani angkat senjata melawan Johor adalah Poru atau Porto. Kekuasaan Poru bahkan menjadi salah satu pertahanan kuat di gunung Opal dan di zaman Portugis dan Belanda, wilayah ini tidak tersentuh sama sekali. Selain perang Iha dan perang Pattimura, ada juga satu pusat pertahanan yang kuat dan tidak pernah dapat dikuasai oleh penjajah yaitu di Uli Poru Amarima.

Selanjutnya guna memudahkan kompeni dalam politik perdagangan dan pengawasan, maka sejak masa Portugis, telah dimulai suatu kebijaksanaan untuk menurunkan penduduk dari pemukiman awal dipegunungan, ke tempat-tempat pemukiman baru di daerah pantai.[7] Proses pemindahan ini dicatat di zaman penjajahan Belanda atau VOC, membawa pula perubahan-perubahan yang luas dan penting dalam susunan masyarakat. Struktur masyarakat yang berpusat pada hena dan aman, kemudian menjadi masyarakat negeri Porto di pantai. Cooley, dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa, proses perpindahan itulah yang menyebabkan terbentuknya negeri-negeri di pesisir pantai yang terjadi antara tahun 1480-1660.[8] Ketika negeri terbentuk maka istilah hena dan aman tidak digunakan lagi dan selanjutnya dipakai istilah matarumah (untuk marga dalam keturunan genealogis), soa (persekutuan dari beberapa matarumah yang bukan lagi persekutuan genealogis tetapi persekutuan teritorial) dan negeri (gabungan beberapa soa dalam wilayah tertentu).

Mengenai perpindahan penduduk Lease dari gunung ke tepi pantai di Saparua, Maryam Lestaluhu, dalam buku hasil penelitiannya mengatakan bahwa, nanti setelah jatuhnya Kapahaha dalam tahun1645, Gubernur Demmer mulai mengarahkan perhatiannya ke Iha (kerajaan Iha).[9] Dalam tahun 1647 setelah pergolakan di jazirah Hitu (pulau Ambon) dapat diatasi, Gubernur Demmer menginstruksikan kepada penguasa Iha supaya rakyatnya disuruh turun berdiam di tepi pantai. Memang kapan persisnya pembentukan negeri Porto tidak mudah untuk diketahui, tetapi dengan mengacu pada beberapa sumber di atas, dapat diperkirakan bahwa perpindahan penduduk Porto dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai (negeri Porto sekarang) terjadi menjelang abad ke-17 (kurang lebih 300 tahun yang lalu). Perpindahan ini terjadi atas keinginan dan kemauan VOC yang adalah alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, maka arus perpindahan itu juga tidak terjadi secara serentak tetapi bertahap karena ada penduduk yang tidak mau turun dan tetap bertahan (mempertahankan kekuasaannya) di pegunungan atau negeri lama.

Bagi masyarakat Porto, perpindahan penduduk dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai terjadi dalam dua tahap yang disebut Uku Toru dan Uku Rima. Uku Toru adalah kelompok tiga yang turun lebih dulu ke negeri di pantai yaitu : Nanlohy, Sahertian dan Polnaya sedangkan, Uku Rima adalah kelompok lima yang turun kemudian, yaitu : Latuihamallo, Tetelepta, Wattimury, Berhitu dan Aponno.[10] Walaupun demikian, masih ada yang tetap bertahan di hutan atau pegunungan dan tidak ikut dalam arus perpindahan itu, yaitu Talakua yang tidak bersedia untuk menyerah kepada Belanda. Karena itu Talakua diberi gelar raja utang atau Namasina. Sedangkan di pemukiman baru, pemerintah kolonial Belanda mengangkat Nanlohy menjadi raja dinegeri yang baru, dan diberi gelar Raja pantai atau Nikisina. Sejak itulah negeri yang baru itu diberi nama Poruto (dari Poru atau Amaporuto) dan kemudian berubah menjadi Porto. Porto disebut juga Sama Suru Amalatu Poru Amarima.[11] Nama ini mengingatkan masyarakat negeri Porto tentang sejarah pembentukan negeri sejak bermukim di pegunungan atau negeri lama, sampai menempati wilayah pemukiman baru di tepi pantai sampai sekarang.

sumber : http://sopamahu-tuhusula.blogspot.com

SEJARAH PELA PORTO DAN ITAWAKA

Pada jaman dahulu negeri SIRISORI berdiam di gunung AMAPELE. Sedangkan batas negeri PORTO berada pada daerah HATAWANO sampai pada TIOUW dan AIR PAPERU yang terletak di ujung negeri PAPERU.
Oleh karena begitu luasnya negeri PORTO yang pada pesisir gunung bertuliskan PANTAI HATAWANO maka rakyat yang terdiri dari yang terdiri dari 6 negeri dan di gabungkan menjadi satu yaitu negeri PORTO selalu di ganggu oleh orang-orang LANO (kaum perompak) maka demi keamanan ketuanan negeri PORTO oleh NANLOHY dari OPAL memrintahkan kedua kapitan yaitu LATUIHAMALLO dan WATTIMURY untuk mengusir negeri SIRISORI yang terletak di gunung AMAPELE.

Mengingat masyarakat negeri SIRISORI selalu bersengkongkol dengan para perompak (LANO) maka kedua kapitan tersebut bersama masyarakat PORTO memerangi masyarakat SIRISORI, namun masyarakat PORTO menunda peperangan tersebut dan atas perlindungan yang disetujui oleh Raja NANLOHY dari OPAL untuk meminta bantuan dari masyarakat ITAWAKA.
Selanjutnya kapitan LATUIHAMALLO di perintahkan pergi ke ITAWAKA menemui kapitan PAPILAYA namun kapitan PAPILAYA tidak berada di tempat, kemudian kapitan LATUIHAMALLO hanya berbicara dengan adik kapitan PAPILAYA.
setalah itu kapitan LATUIHAMALLO dengan pengawalnya kembali ke negeri PORTO, sementara masyarakat negeri PORTO berunding di pantai WASA tiba-tiba kapitan PAPILAYA telah memimpin masyarakat ITAWAK untuk membantu masyarakat PORTO guna memerangi negeri SIRISORI yang terletak di gunung SAMAPELA.

Selanjutnya mengingat keberhasilan dalam peperangan tersebut maka negeri PORTO memberikan jasa kepada negeri ITAWAKA yaitu sebuah ketuanan yang berada di wilayah pantai WASA sampai dengan perbatasan HATAWANO (TUHAHA). dan hingga pada tahun 80an masyarakat ITAWAKA masih berkebun di wilayah tersebtu.
Kemudian setelah beberapa tahunnegeri SIRISORI datang memohon kepada raja PORTO . Negeri SIRISORI merasa susah dan sengsara oleh karena pertuanan mereka sangat kecil , maka mereka mendatangi ra ja PORTO guna memohon satu tempat kemudian raja PORTO menyetujuinya untuk mereka berkebun di satu tempat yang di sebut dusun PIA

sehingga terjadi pela antara PORTO dengan ITAWAKA itu disebut PELA PERANG atau PELA DARAH.

4 Kejadian Aneh di Dunia

Di dunia ini banyak sekali terjadi berbagai fenomena unik yang terkadang sangat sulit dijelaskan oleh logika, bahkan sampai sekarang juga banyak sekali kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Diantara kejadian tersbut, terdapat empat kejadian, yang direkam di dunia modern (setidaknya sampai pada tahun 1518), dan semua kejadian ini sama sekali tidak dapat dijelaskan oleh logika.

1. Kematian Akibat Menari

Juli 1518, seorang wanita yang disebut bernama Frau Troffea berjalan di salah satu jalan sempit di Strasbourg, Prancis, dan mulai menarikan tarian yang berlangsung sekitar empat atau enam hari berturut-turut. Di akhir minggu, 34 orang ikut serta dengan tariannya, dan dalam sebulan, peserta tarian aneh bin ajaib ini mencapai 400 orang.

Para pejabat menyarankan untuk “menari lebih sering” untuk menyembuhkan para penari, tapi pada akhir musim panas, lusian orang di kota Alsatian meninggal karena serangan jantung, stroke, kelelahan karena tarian yang tidak berhenti sama sekali. Selama beberapa abad, kejadian aneh yang disebut sebagai wabah menari atau Epidemi 1518, sama sekali tidak dapat dijelaskan oleh berbagai ilmuwan mengenai apa yang menyebabkan terjadinya tarian kematian yang aneh dan ajaib ini.

2. Wabah Tawa Tanganyika

Mungkin kejadian paling aneh yang berhasil di dokumentasikan dalam penyakit psikogenik massal ini adalah Wabah Tawa Tanganyika pada 1962. Kejadian lengkap atas kondisi ini digambarkan dalam paper yang diterbitkan pada Central African Journal of Medicine yang diterbitkan pada 1963. Wabah ini dimulai dengan adanya becandaan antara para mahasiswa di salah satu asrama di Tanzania, dan dari hal itu, seorang remaja putri mulai tertawa tanpa kendali. Pertama hanya ada sedikit tawa, yang kemudian makin lama makin panjang, dari sekedar jam, sampai berhari-hari.

Korban wabah ini, yang hampir semuanya adalah wanita, akhirnya mengalami kesakitan, pingsan, masalah pernapasan, gatal-gatal dan bahkan menangis, yang semuanya muncul akibat tawa histeris. Bahkan wabah tawa ini menular ke orang tua para mahasiswa, juga sampai ke sekolah lain dan bahkan ke desa sekitarnya. Dibutuhkan waktu 18 bulan lamanya sebelum wabah tertawa ini berhenti total.

3. Hujan Binatang

Kejadian unik ini mungkin adalah kejadian paling banyak ditemui di dunia. Hujan burung, kelelawar, ikan, bahkan cacing dan berudu sudah dilaporkan dari beberapa penjuru dunia. Para ilmuwan melaporkan bahwa kemungkinan besar ada badai dengan kecepatan tinggi dan angin puting beliung yang melewati air, dan menyedot hewan ini, kemudian dijatuhkan di tempat yang jauh.

Hampir selama satu abad ini, para penduduk Honduras selama hampir sabad ini merayakan apa yang disebut Lluvia de Peces (Hujan Ikan) setiap tahunnya. Ikan ini dipercaya disedot dari laut dan dijatuhkan 140 mil ke daratan atau mungkin ikan tersebut disedot dari semacam sumber air bawah tahan.

4. Sungai Paling Terpolusi di India tiba-tiba menjadi ‘manis’

2006, Air laut yang masuk ke Mumbai, tiba-tiba berubah rasa menjadi manis, dan fenomena ini di’temukan’ oleh beberapa penduduku Mumbai yang tiba-tiba merasakan air di Sungai Mahim Creek, salah satu sungai paling terpolusi di India, yang menerima ribuan ton limbah mentah dan limbah industri setiap hari-nya tiba-tiba menjadi manis. Selama beberapa jam, penduduk Gujarat mengatakan bahwa air laut di pantai Teethal juga berubah manis.

Dewan Pengendali Polusi Maharashtra (The Maharashtra Pollution Control Board) telah mengeluarkan peringatan agar tidak ada penduduk yang meninum air yang ada, tapi tetap saja banyak orang mengumpulkan air tersebut dalam botol-botol, walaupun banyak sampah dan plastik yang ikut terhanyut dalam arus yang ada. Sekitar jam 2 pagi keesokan harinya, para penduduk yang berjaga mulai mengakui bahwa air yang tadinya manis berubah asin kembali.

sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com

“PELA”

Arti kata Pela

Pela berasal dari kata Pila yang berarti buatlah sesuatu untuk kita bersama, dan kadang-kadang kata Pila diberi akhiran “TU” sehingga menjadi Pilatu yang artinya menguatkan, menamankan atau mengusahakan sesuatu benda tidak mudah rusak atau pecah. Kini kata “Pila” telah berubah menjadi “Pela”.

Yang sangat menarik dari Pela ini ialah kenyataan bahwa di MALUKU TENGAH hubungan Pela ini bukan saja terjadi antara negeri yang manganut agama yang sama, tetapi terjadi juga diantara negeri yang berlainan agama. Misalnya hubungan Pela antara negeri:

· TITAWAI (Kristen) di Nusalaut dengan PELAU (Islam) di pulau Haruku.

· TUHAHA (Kristen) di Saparua dengan ROHOMONI (Islam) di pulau Haruku.

· HUTUMURY (Kristen) di jasirah Leitimur dengan TAMILOUW di Seram Selatan.

Ini adalah berberapa contoh saja yang di kemukakan diantara puluhan contoh yang dapat disebutkan satu demi satu.

Ada juga yang mengartikan atau berpendapat bahwa Pela itu berasal dari kata Pela artinya saudara/sahabat yang dapat dikatagorikan sebagai suatu panggilan bagi kaum pendatang dari Jawa, Bugis, Makasar, Mandar, Buton dll yang menjajaki barang-barang dagangnya ke Maluku yang akhirnya kata Pela itu berkembang menjadi saudara yang dikasihi yang disamakan dengan GANDONG.

Latar belakang terjadinya Pela

Menurut sejarah dan kenyataan terjadinya Pela itu berbeda satu dengan yang lainnya tetapi tujuandnya tetap sama yakni ” BEKERJA SAMA UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA”.

Berberapa alasan terjadinya hubungan Pela adalah:

· Hubungan Pela sebagai balas jasa dari negeri yang satu kepada negeri yang lain yang pernah membantunya baik dalam lapangan politik (perperangan) maupun dalam lapangan sosiaal (bencana alam, pertolongan di laut dll).

· Hubungan Pela sebab ada hubungan persaudaraan antara negeri yang bersangkutan menurut cerita dari datuk-datuk mereka bahwa mereka adalah saudara kandung. Contoh: Rumahkay dan Rutong.

· Hubungan Pela sebab terjadinya hal-hal yang luar biasa seperti negeri Latuhalat di tanjung Nusaniwe dan Alang di tanjung Alang yang disebabkan karena kasih cinta.

Hubungan Pela di Maluku di bedakan dalam berberapa hal/peristiwa yang mengawalinya, jadi semakin besar peristiwa yang mengawali semakin keras sifat dari Pela tersebut.

Menurut Dr Frank Leonard Cooley dalam disertasinya yang berjdudul “Altar and throne in Central Moluccan Societies” halaman 261 menyatakan ” Pela as it is found at present in Moluccan societies is an institutionalized bond of friendship or brotherhood between all native residents of two or more villages, which bond was established by the ancestors under particular circumstances and carries specific and privileges for the parties thus bound together”. Menurut pendapatnya bahwa Pela ini diterbentuk dalam abad XVI di Maluku.

Ada berapa katagori Pela antara lain:

1. PELA KERAS / PELA LUNAK ini disebut Pela sejati karena menurut anggapan pihak-pihak yang berkepentingan hubungan Pela ini diikrarkan bersama berdasarkan sesuatu perjanjian yang kemudian diperkuat dengan angkat sumpah. Dalam perjanjian itu ditetapkan antara lain:

· Pela harus membantu Pela dalam segala kesukaran dan kesusahan.

· Pela harus menempati janji yang pernah diucapkan terhadap Pela.

· Pela tidak boleh kawin dengan Pela.

2. PELA TEMPAT SIRI dalam ikatan Pela ini tidak berdasarkan penyumpahan (angkat sumpah) jadi dapat dikatakan bahwa jenis Pela ini termasuk Pela yang ringan, ini karena balas jasa (bantuan sosial, ekonomi dll). Tempat sirih memegang peranan yang sangat penting dalam usaha pendekatan antara satu negeri dengan negeri jang lain. Jadi karena upacara pengangkatan PELA ini diawali dengan makan sirih maka PELA ini disebut ” PELA TEMPAT SIRIH”.

3. Pela Minum Darah ini disebut Pela perang.

4. Pela Darah

5. Pela Batu Karang

6. Pela Adik-kaka atau Pela Saudara

7. Pela Kawin

DIETER BARTELS dalam disertanya untuk mencapai gelar Doktor pada Cornel University Amerika Serikat tahun 1977 lebih banyak mengungkapkan tentang hal tersebut diatas serta hubungan Pela di daerah Maluku. Menurut beliau: “Pela is one of the specialties Ambonese communities in other parts of Indonesia maintain with their homeland”.

Ada beberapa negeri yang mempunyai hubungan PELA sesuai Katagori diatas:

* Pela Keras / Pela Tuni: Ameth-Soahuku- Kariu-Booi-Aboru-Hualoi

* Pela Tempat Sirih / Angkat Sumpah Tihulale- Hukuanakota-Kaibobo- 12 desa di gunung Seram

* Pela Perang / Pela Minum Darah Tuhaha-Rohomoni, Hatuhaha-Tuhaha

* Pela Batu Karang: Batumera- Passo, Oma Ullath

* Pela Adik-Kakak / Saudara Hutumuri-Sirisori-Tamilouw

* Pela Kawin: Alang-Latuhalat, Hitu -Latuhalat

Ada pula yang disebabkan karena GENELOGICAL BONDS antara lain PELA GANDONG seperti:

Kulur-Oma, Rumahkai-Rutong, Hukurila-Kilang, Ema-Naku.

Sala satu pela yang sangat mengikat umat Kristen dan Islam yaitu Pela: Ambalau- Nusalaut.

Sumber ; http://www.angelfire.com/

Suku & Profil Pulau Maluku

Suku Wemale

Wemale adalah salah satu kelompok etnik Maluku dari lebih Pulau Seram. Mereka berjumlah sekitar 9,000 dan hidup dengan 39 [desa/kampung] dari pusat Pulau Seram. Seperti Alune itu kepada barat, mereka berasal dari satu Patasiwa kelompok yang disebut bermula berasal dari nenek moyang etnik Maluku.

bahasa Wemale merupakan bagian dari Melayu-Polinesia dibagian utara dan selatan yang berbeda mempunyai jenis-jenis bahasa yang dikenal sebagai Horale, Kasieh, Uwenpantai, Honitetu dan Kawe. Disebelah utara hampir sekitar 5,000 orang dan Wemale selatan itu percakapan oleh sekitar 4,000 orang. secara tradisional Wemale hidup dari bercocok tanam, Banyak dari makanan mereka didasarkan pada hasil hutan berupa sagu, Mereka juga berburu dan mengumpulkan makanan.

Gambar Suku Wemale di Seram yang merupakan Bagian dari Alif’uru-Ina

Kaum Laki-laki Wemale mempunyai tugas untuk terlibat dalam aktivitas prajurit melawan kelompok-kelompok yang berdekatan. Wanita-wanita mempunyai tugas untuk mencari hasil hutan yang dihasilkan oleh alam untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka dalam bentuk keranjang(bakol).orang Wemale membawa pisau panjang mereka mengenakan pakaian kecil oleh karena lingkungan yang lembab. Wanita-wanita mengenakan rotan melingkupi di sekitar pinggang mereka.

Sama seperti dengan Alune, datangnya perayaan usia untuk anak-anak perempuan adalah satu kesempatan yang penting. besar Wemale yang dibangun dan merinci rumah dengan kayu, daun-daun tongkat-tongkat dan telapak tangan. Rumah ini adalah sangat dengan trampil dibuat untuk menyimpan, pelihara bagian dalam mengeringkan dan nyaman.

Kebudayaan dari orang-orang Wemale sudah banyak yang mengalami perubahan; beberapa decade akhir-akhir ini oleh karena dampak dari nilai-nilai konsumerisme tradisional merepotkan. Juga kegelisahan religius dan politis dan konflik yang hasilnya di Indonesia mempengaruhi banyak pulau dari bidang Maluku.

AMBOYNA

(Belanda Ambon), nama dari suatu tempat kediaman, kota pemimpin nya, dan pulau yang di atasnya kota itu diposisikan, di dalam Orangorang Belanda Timur Indies.

Tempat kediaman berbagi dengan bahwa dari Ternate, administrasi kepulauan Maluku, pemerintah yang sebelumnya [di/yang/ttg] mana dihapuskan dalam 1867. Itu termasuk suatu massa dari pulau-pulau di dalam Banda Sea (2° 30’8° 20′ S.dan 12 5° 45’1 35° E.), termasuk sabuk pulau yang mengepung laut di yang utara, timur dan selatan; dan dibagi untuk tujuan-tujuan yang administratif ke dalam sembilan daerah ( afdeelingen): 1)Amboyna, pulau nama itu; ( 2) Saparua, dengan Oma dan Nusa Laut; (3) Kajeli (Ketimuran Buru); (4) Masareti (Buru Barat); (5) Kairatu (Ceram Barat); (6) Wahai (yang utara bagian dari Mid-Ceram); (7) Amahai (selatan bagian dari Mid-Ceram); (8) Banda Isles, dengan Timur Ceram, Ceram Laut dan Gorom; (9) pulau dari Aru, Kei, Timor Laut atau Tenimber, dan di baratdaya: pulau-pulau. Bidang yang total dari tempat kediaman itu adalah sekitar 19,861 seribu persegi., dan populasi nya 296,000, termasuk 2400 Europeans.

Amboyna Island berada batal yang barat-daya dari Ceram, di sisi yang utara dari Banda Sea, mahluk satu satu rangkaian pulau kecil yang volkanis di dalam lingkaran yang bagian dalam [membulatkan/ mengelilingi] laut. Itu adalah 32 m.panjangnya, dengan satu bidang dari sekitar 386 persegi m., dan [menjadi/dari]?berasal dari sangat gambar takberaturan, selagi hampir dibagi menjadi dua. Bagian tenggara dan bagian lebih kecil (memanggil(hubungi Leitimor) dipersatukan kepada yang utara (Hitoe) oleh suatu genting tanah, pegentingan tanah, supitan tanah beberapa yard di dalam luas. Pegunungan yang paling tinggi, Wawani (3609 ft.) dan Salhutu (4020 ft.), mempunyai musim semi(mata air dan solfatar-solfatar panas. Mereka dianggap sebagai gunung api, dan pegunungan dari pulau-pulau Uliasser yang bertetangga sisa dari gunung api. Granit dan batu karang menyerupai ular mendominasi, hanya pantai-pantai dari Amboyna Bay [menjadi/dari]?berasal dari kapur, dan berisi stalactite gua-gua. Permukaan itu adalah fertil, sungai-sungai itu bersifat kecil dan bukan yang dapat dilayari, dan jalan-jalan yang dapat dilalui itu adalah semata-mata jalan setapak. Cocoa adalah salah satu [dari] produk-produk. Iklim itu adalah secara komparatif menyenangkan dan sehat; temperatur rata-rata itu adalah 80° F., jarang tenggelam di bawah 72°. Curah hujan, bagaimanapun, setelah angin monsun yang dari timur, adalah sangat berat, dan pulau itu adalah dapat dikenakan kepada angin topan yang kejam. Itu adalah luar biasa?menarik perhatian bahwa musim kemarau (Oktober kepada April) bersamaan waktu dengan periode angin monsun barat. Binatang menyusui yang berasal dari/pribumi bersifat lemah(miskin dalam jenis sedikit; beberapa maupun dalam jumlah; burung-burung lebih berkelimpahan, hanya dari tanpa variasi yang lebih besar. Ilmu serangga dari pulau, bagaimanapun, sangat kaya, terutama sekali menyangkut Lepidoptera. Kulit/kerang-kulit/kerang diperoleh di dalam sejumlah besar dan variasi.

Turtle-shell adalah juga sebagian besar diekspor. Tumbuh-tumbuhan itu adalah juga kaya, dan Amboyna menghasilkan kebanyakan dari buah-buahan dan sayur-mayur tropis umum, termasuk sagu, telapak tangan, pohon sukun, cocoa, kacang-kacangan, tebu, maizena/sejenis tanaman jagung, kopi, lada dan kapas. Cengkih-cengkih, bagaimanapun, membentuk produk pemimpin nya, meskipun [demikian] tukar tambah mereka adalah lebih sedikit yang penting dibanding tadinya/dahulu, ketika Orangorang Belanda melarang pembesaran pohon cengkih di semua pulau-pulau yang lain tunduk kepada aturan mereka, untuk mengamankan monopoli itu ke(pada Amboyna. Amboyna kayu, bernilai tinggi karena pekerjaan berhubungan dengan perhiasan, diperoleh dari simpul mati yang terjadi di pohon-pohon yang tertentu di dalam hutan-hutan dari Ceram. Populasi (sekitar 39,000) yang dibagi menjadi dua burger classesorang atau para warganegara, dan orang negri atau orang desa, pembentuk menjadi kelas dari asal-muasal yang asli yang menyenangi kehormatan-kehormatan tertentu berunding di para nenek moyang mereka oleh Belanda yang kuno Timur India Perusahaan. Yang asli [menjadi/dari]?berasal dari darah Malay-Papuan yang dicampur. Mereka kebanyakan orang-orang Kristen atau Mahommedans. Ada juga, di samping Orangorang Belanda, beberapa Arabs, Cina dan beberapa penetap-penetap bangsa Portugis.

Amboyna, kota pemimpin, dan tempat duduk dari pemimpin penduduk dan militer dari kepulauan Maluku, dilindungi oleh Fort Victoria, dan adalah suatu kota kecil yang bersih dengan jalan-jalan yang lebar/luas, sumur dinanam. Pertanian, perikanan-perikanan dan impor dan perdagangan ekspor melengkapi [alat; makna] pemimpin dari penghidupan. Itu berada di yang barat laut dari semenanjung dari Leitimor, dan mempunyai suatu aman dan dinding jangkar/biaya labuh luas lapang. Populasi nya adalah sekitar 8000.

Bangsa Portugis itu adalah bangsa orang Eropa yang pertama untuk mengunjungi Amboyna (1511). Mereka mendirikan suatu pabrik di sana dalam 1521, tetapi tidak memperoleh harta benda yang suka damai tentangnya hingga 1580, dan dispossessed oleh Orangorang Belanda dalam 1609. Sekitar 1615 Orang-Orang Inggris membentuk suatu penyelesaian di dalam pulau, pada Cambello, yang mereka menyimpan sampai 1623, ketika yang dibinasakan; dihancurkan oleh Orangorang Belanda, dan siksaan-siksaan menakutkan menimbulkan/mengenakan di orang-orang yang bernasib sial menghubungkan dengannya. Dalam 1654, setelah banyak negosiasi yang tanpa buah, Cromwell memaksa United Provinces itu untuk memberi jumlahan dari 30o,000, bersama-sama dengan suatu pulau yang kecil, seperti(ketika ganti-rugi kepada keturunan-keturunan dari mereka yang menderita di dalam “Amboyna pembantaian.” Dalam 1673 penyair Dryden menghasilkan tragedi dari nya Amboyna, atau Cruelties dari Orangorang Belanda kepada Orang-Orang Inggris Para pedagang. Dalam 1796 Orang-Orang Inggris, di bawah Admiral Rainier, Amboyna yang ditangkap, tetapi memulihkan nya kepada Orangorang Belanda di damai dari Amiens dalam 1802. Itu direbut kembali oleh Orang-Orang Inggris dalam 1810, tetapi sekali lagi kembali Orangorang Belanda dalam 1814.

BURU

(Buro, Belanda Boeroe atau Boeloe), satu pulau dari Orangorang Belanda Timur Indies, salah satu [dari] Molucca Islands yang kepunyaan tempat kediaman dari Amboyna, antara 3° 4′ dan 3° 50′ S.dan 125° 58′ dan 127° 15′ E.Pengukuran-pengukuran nya yang ekstrim adalah 87 m.oleh 50 seribu., dan bidang nya adalah 3400 persegi m.Permukaan nya adalah untuk kebanyakan part bergunung-gunung, meskipun [demikian] daerah daerah pesisir adalah sering tanah endapan dan berawa dari deposito-deposito dari banyak sungai-sungai. ini yang paling besar, Kajeli, memecat dari timur, pada sebagian dapat dilayari. Pengangkatan/tingginya-pengangkatan/tingginya yang terbesar terjadi di dalam barat, di mana gunung Tomahu menjangkau 8530 ft. Di tengah-tengah yang barat bagian dari pulau berada danau yang besar dari Wakolo, pada satu ketinggian dari 2200 ft., dengan suatu lingkar dari 37 m.dan suatu kedalaman tentang WC ft. Itu sudah dipertimbangkan suatu danau kawah/lubang ledakan; tetapi ini bukan kasus. Itu adalah terletak di simpangan batupasir dan batu tulis, di mana air, setelah dilemahkan pembentuk, sudah mengumpulkan di yang belakangan. Danau tidak memiliki afluen-afluen dan hanya saluran nya, Wai Nibe itu kepada yang utara. Pemimpin berhubungan dengan geologi pembentukan Buru bersifat batu tulis dari kristal/jernih dekat pantai yang utara, dan lebih kepada selatan Mesozoikum batupasir dan kapur, deposito-deposito dari kejadian yang jarang di dalam kepulauan. Betul-betul yang lebih besar bagian dari negeri mempunyai sejumlah lahan hutan dan padang rumput yang luas alami(wajar, tetapi bagian-bagian seperti itu seperti halnya dibawa ke dalam penanaman adalah sangat fertil.

Kopi, beras dan bermacam buah-buahan, seperti jeruk, jeruk, pisang, nanas dan kelapa siap tumbuh, seperti juga sagu, cabe merah, tembakau dan kapas. Satu-satunya barang ekspor yang penting, bagaimanapun, minyak kayu putih, suatu obat yang menyebabkan banyak keringat menyaring dari daun-daun dari Melaleuca Cajuputi atau pohon kayu putih; dan kayu. Tumbuh-tumbuhan yang asli adalah kaya, dan kayu jati, kayu hitam dan canari pohon-pohon terutama berkelimpahan; fauna, yang dengan cara yang sama bervariasi, termasuk babirusa, yang terjadi di dalam pulau ini hanya dari kepulauan Maluku. Populasi itu adalah sekitar i 5,000. [desa/kampung] di pesisir itu dihuni oleh suatu Populasi yang orang Melayu, dan bagian-bagian barat dan utara pulau itu diduduki oleh suatu cahaya mewarnai Melayu rakyat serupa yang asli dari Celebes yang dari timur. Di dalam bagian dalam/pedalaman itu ditemukan suatu [perlombaan; ras] yang ganjil yang yang diselenggarakan oleh sebagian orang untuk menjadi Orang Papua. Mereka digambarkan, bagaimanapun, seperti(ketika dengan ganjilnya orang Papua titigable tak dapat dikurangi di dalam bentuk badan, hanya 5 ft. 2 di dalam. rata-rata tingginya, dari suatu warna yellowbrown, dari yang lemah membangun, dan tanpa karakteristik secara mendesis rambut dan hidung terkemuka dari Orang Papua yang benar. Mereka dengan sepenuhnya penyembah berhala, hidup dengan dusun kecil yang tersebar, dan sudah datang sangat kecil dalam hubungan dengan setiap peradaban. Di antara populasi yang bahari sejumlah kecil Cina, Arab dan [perlombaan; ras] lain adalah juga ditemukan. Pulau itu dibagi oleh Orangorang Belanda ke dalam dua daerah. Penyelesaian pemimpin adalah Kajeli di pantai timur.

Sejumlah Mahommedan asli di sini adalah turun dari suku-suku memaksa dalam 1657 untuk berkumpul bersama-sama dari yang berbeda bagian-bagian dari pulau, selagi semua clove-trees dibasmi dalam satu usaha oleh Orangorang Belanda untuk memusatkan perdagangan cengkih. Di hadapan kedatangan dari Orangorang Belanda penduduk pulau itu di bawah dominion sultan dari Ternate; dan itu pemberontakan mereka melawan terhadap dia bahwa memberi Europeans peluang mengakibatkan penaklukan mereka.

BANDA ISLANDS

suatu kelompok Orangorang Belanda Timur Indies, terdiri dari tiga pemimpin dan beberapa pulau-pulau yang lebih sedikit di dalam Banda Sea, selatan dari Ceram, kepunyaan tempat kediaman dari Amboyna. Pulau-pulau utama adalah Great Banda atau Lontor; Banda Neira kepada yang utara nya yang; Gunong Api, di barat Banda Neira; Wai atau Ai barat lebih jauh masih, dengan Run di atasnya barat-daya; Pisang, utaranya dari Gunong Api; dan Suwangi, barat laut lagi; kembali. Bidang lahan yang total adalah sekitar 16 persegi m.Suatu formasi yang volkanis adalah nyata di Lontor, suatu pulau yang sickleshaped yang, dengan Neira dan Gunong Api, wujud-wujud bagian dari lingkaran dari suatu kawah/lubang ledakan. . itu pengaturan adalah dapat diperbandingkan dengan Santorin di dalam Aegean Sea. Gunong Api (Tembak Mountain), 2200 ft. ketinggian, adalah satu gunung api yang aktif, dan letusan-letusan dan gempabumi-gempabumi nya sudah sering membawa kehancuran, seperti(ketika khususnya dalam 1852, ketika . itu kerusakan terutama karena [gelombang/lambaian] yang sangat besar dari laut. Banda, kota pemimpin, di Neira, adalah suatu penyelesaian yang menyenangkan, yang diperintah oleh dua benteng Belanda dari awal abad yang 17th, Nassau dan Belgica. Pulau yang paling besar, Lontor, ditemukan terlalu tak sehat sebagai lokasi dari penyelesaian yang pokok; hanya iklim dari pulau-pulau secara umum, meskipun [demikian] panas, bukanlah tak sehat. Di dalam ruang(spasi antara Lontor, Neira dan Gunong Api ada suatu pelabuhan bandar yang baik, dengan mempesona sebelah menyebelah, yang memungkinkan kapal-kapal untuk masuk di yang manapun dari angin monsun. Antara Gunong Api dan Neira ada sepertiga saluran, tetapi itu adalah dapat dilayari untuk kapal-kapal kecil saja. Pokok barang-barang kesenian perdagangan di dalam kelompok Banda adalah pala-pala dan bunga pala/tongkat kebesaran.

Pala itu adalah berasal dari/pribumi. Populasi yang asli setelah dijernihkan oleh Orangorang Belanda, perkebunan-perkebunan itu dikerjakan dnegan pedoman para budak dan narapidana-narapidana hingga pembebasan dari 1860. Pengenalan tentang perkemahan tenaga kerja Melayu dan Cina sesudah itu terjadi. Perkebunan-perkebunan (menetes) mula-mula diselenggarakan oleh penakluk-penakluk dari yang asli, pemonopolian pemerintah hasil pada suatu tingkat bunga tetap; hanya dalam 1873 monopoli pemerintah dihapuskan. Sejumlah produksi tiap-tiap tahun kepada hampir 1,500,000 lb dari pala-pala, dan 350,000 lb dari bunga pala/tongkat kebesaran. Pala-pala itu adalah tumbuh, seturut kondisi-kondisi alami(wajar, di bawah keteduhan dari yang lain pohon-pohon, biasanya canari. Jalti atau jatti kayu ditanami di pulau yang kecil dari Rosingen. Populasi yang total pulau-pulau itu adalah sekitar 9500, [di/yang/ttg] mana sebagian orang 7000 adalah keturunan dari yang diperkenalkan asli sebagai para budak dari pulau-pulau yang bertetangga, dan adalah orang-orang Kristen atau Mahommedans.

Banda Islands itu ditemukan dan annexed oleh bangsa Portugis Antonio D’Abreu dalam 1512; hanya di dalam permulaan abad yang 17th, rakyat bangsa nya diusir oleh Orangorang Belanda. Dalam 1608 Orang-Orang Inggris dibangun suatu pabrik di Wai, yang dirobohkan oleh Orangorang Belanda secepat Orang-Orang Inggris kapal dininggalkan. Tidak lama sesudah, bagaimanapun, Banda Neira dan Lontor adalah berhenti oleh asli kepada Orang-Orang Inggris, dan dalam 1620 Run dan Wai ditambahkan kepada dominion-dominion mereka; tetapi kendati perjanjian-perjanjian ke dalam mana mereka telah masuk Orangorang Belanda menyerang dan mengusir saingan-saingan mereka yang Inggris. Dalam 1654 mereka dipaksa oleh Cromwell untuk memulihkan Run, dan untuk membuat kepuasan untuk pembantaian dari Amboyna; tetapi Orang-Orang Inggris penetap-penetap tidak sedang cukup didukung dari rumah, pulau itu direbut kembali oleh Orangorang Belanda dalam 1664. Mereka tinggal di dalam harta benda yang tak terganggu sampai 1796, ketika Banda Islands itu diambil oleh Orang-Orang Inggris: Mereka dipulihkan oleh perjanjian dari Amiens di dalam tahun 1800, lagi; kembali menangkap, dan akhirnya memulihkan oleh perjanjian dari Paris menyimpulkan dalam 1814.

TIMOR LAUT

(“Ganggang laut Timor”; Belanda, Timor Laoet), Tenimber atau Tenimbar, suatu kelompok pulau-pulau di dalam Kepulauan Melayu, SW. dari Aru Islands, antara 6° 20′ dan 8° 30′ S., dan 130 40′ dan 132° 5′ E.Oleh Orangorang Belanda, di dalam tempat kediaman siapa dari Amboyna mereka dimasukkan, mereka secara politis dibagi menjadi dua daerah; Larat, termasuk pulau-pulau yang dihuni dari Larat, Vordate, Molu, dan Maro, bersama-sama dengan banyak pulau yang tak berpenghuni; dan Sera, termasuk Sera Islands, Selaru, dan selatan bagian dari Yamdena, semua dihuni. Hanya Yamdena dan Selaru adalah oleh Timor Laut yang disebut asli; semua yang lain mereka sebut(panggil Tenimbar. Kelompok itu adalah secara keseluruhan bentuk karang. Vordate, Molu dan bagian tenggara Yamdena mempunyai suatu tingginya yang maksimum 820 ft.; sisanya bersifat datar(kempes dan rendah, kecuali Laibobar, kelihatannya suatu pulau yang sangat kecil yang volkanis di barat, yang mempunyai satu kawah/lubang ledakan yang padam 2000 ft. tinggi. Yamdena, pulau yang paling besar, mempunyai satu bidang dari tentang I Ioo persegi m.; sisanya bersama-sama tentang I 000. Ritabel di Larat adalah satu-satunya pangkalan laut yang aman selama angin monsun timur dan barat. Fauna termasuk kerbau liar, suatu berkenaan dengan binatang berkantung adj cuscus, beberapa yang gila, burung nuri warna merah tua yang indah/cantik, variasi-variasi jarang dari tanah(landasan, sejenis murai, pemakan madu dan sejenis podang. Populasi itu diperkirakan pada sekitar 19,000. Penduduk asli itu adalah Papuans, tetapi banyak bergaul dengan Orang Melayu dan barangkali Orang Polinesia unsur-unsur. Mereka adalah suatu [perlombaan; ras] yang bagus, sering kali (di) atas 6 ft. perasaan(pengertian jangkung, mereka yang terkenal akan artistik.

Di dalam pengakuan yang lain, mereka adalah penyembah berhala di suatu status(negara yang rendah dari kultur, kebanyakan dibagi menjadi masyarakat-masyarakat bermusuhan dan menjadi budak perampokan. Satu-satunya [alat; makna] dari penghidupan adalah pertanian yang primitif di suatu tanah yang tak subur, perikanan kura-kura dan teripang dan ternak. pembesaran. Ekspor yang tahunan (teripang, kura-kura dan kamuning kayu) dihargai hanya pada £850 ke £1650.

Lihat H. O.Forba-forba, “Eksplorasi-eksplorasi Milik Tiga Bulan di dalam Tenimbar Islands,” di Proc. dari Roy. Geog. Soc. ( 1884); J. G.Riedel, Tidak sluik en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua ( 1886); W. R.van Hoevell, “Tanimbar en Timor Laoet-Eilanden,” di Tijdschrift Batavian Genootschap (1889), jilid xxxiii.; J. D. Garson, “Di Cranial Characters dari Natives dari Timor-Laut,” Journ. Anthrop. Instit. xiii. 386.

KEI PULAU-PULAU

[-Ke, Kunci, Kii, &c.; asli, Ewab], suatu kelompok di dalam Orangorang Belanda Timur Indies, di dalam tempat kediaman dari Amboyna, antara 5° dan 6° 5′ S.dan 131° 50′ dan 133° 15′ E., dan terdiri dari empat bagian: Nuhu-Iut atau Great Kei, Roa atau Little Kei, Tayanda, dan kelompok Kur. Kei Besar berbeda secara phisik dari semua segi kebaikan dari kelompok-kelompok yang lain. Itu [menjadi/dari]?berasal dari formasi Tertiary (Miosen), dan mempunyai suatu rantai dari pengangkatan/tingginya-pengangkatan/tingginya yang volkanis sepanjang poros, mencapai suatu tingginya dari 2600 ft. Bidang nya adalah 290 seribu persegi., bidang lahan yang total dari mahluk kelompok 572 persegi itu m. Semua pulau yang lain [menjadi/dari]?berasal dari formasi post-Tertiary dan [tentang] permukaan aras. Kelompok mempunyai hubungan kapal selam, di bawah laut secara relatif dangkal, dengan kelompok Timorlaut kepada yang barat-daya dan rantai dari pulau-pulau yang membentang barat laut ke arah Ceram; air men[dalam memisahkan nya di timur dari Aru Islands dan di barat dari pulau-pulau yang bagian dalam dari Banda Sea. Di antara produk-produk adalah coco-nuts, sagu, ikan, teripang, kayu, kopra, maizena/sejenis tanaman jagung, ubi rambat dan tembakau. Populasi itu adalah sekitar 23,000, dari siapa 14,900 penyembah berhala, dan 8300 Mahommedans.

Penduduk/penghuni-penduduk/penghuni [menjadi/dari]?berasal dari tiga jenis. Ada Kei Islander benar, suatu Orang Polinesia oleh tingginya nya dan rambut berombak/keriting coklat atau hitam, dengan suatu kulit antara Orang Papua hitam dan Melayu menguning. Ada murni Orang Papua, yang mempunyai sebagian besar digabungkan di dalam jenis Kei. Yang ke tiga, ada imigran Malays. Ini (yang dibedakan oleh pemakaian suatu bahasa khusus dan oleh pengakuan Agama Islam) adalah keturunan-keturunan dari aslinya dari pulau-pulau Banda yang melarikan diri dari timur di hadapan pelanggaran-pelanggaran dari Orangorang Belanda. Penyembah berhala mempunyai patung-patung tidak sopan dari dewata-dewata dan tempat-tempat dari pengorbanan yang ditandai oleh rumah susun mengalahkan timbunan batu. Kei Islanders itu bersifat cakap: pandai: mahir di dalam mengukir dan boat-builders terkenal.

Lihat C. M. Kan, “Onze geographische kennis d Keij-Eilanden,” di Tijdschrift Aardrijkskundig Genootschap (1887); Burung martin, “Mati Kei-inseln u.ihr Verhaltniss zur Australisch-Asiatischen Grenzlinie,” ibid. memisah[kan vii. ( 1890); W. R.van Hoevell, “Tidak Kei-Eilanden,” di Tijdschr. Batavian. Informasi. ( 1889); “Verslagen van tidak wetenschappelijke opnemingen en onderzoekingen op tidak Keij-Eilanden” (1889-1890), oleh Planten dan Wertheim (1893), dengan peta dan ethnographical atlas dari di baratdaya: dan pulau-pulau bagian tenggara oleh Pleyte; Langen, Mati Keyoder Kii-Inseln (Vienna, 1902).

sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Legenda Empat Kapitan

Daerah Nunusaku, dahulu kala merupakan pusat kegiatan pulau Seram, yang biasa juga disebut Nusa Ina. Penduduk pulau tersebut mulai tersebar ke tempat-tempat lain yang dipimpin oleh empat orang kapitan. Mereka berempat bermusyawarah untuk menyepakati tujuan arah pengembaraannya. Sasaran mereka yaitu akan menghilir sepanjang sungai Tala, sebab sungai ini memiliki banyak kekayaan.

Perbekalan dan persiapan dalam perjalanan disiapkan dengan cepat. Sebagaimana biasa, upacara adatpun dilakukan sebelum perjalanan dimulai, yaitu dengan jalan kaki ke negeri Watui.

Sesampai di negeri Watui, mereka mulai membuat sebuah rakit (gusepa) yang di buat dari batang dan bilah-bilah bambu. Rakit ini dipakai untuk menghilir sungai Tala. Sungai ini terkenal dengan keganasannya, airnya sangat deras dan terdapat banyak batu-batu besar di sepanjang alirannya.
Pelayaran pun dimulai dan sebagai pimpinannya adalah Kapitan Nunusaku, yang merupakan Kapitan besar turunan moyang Patola. Moyang inilah yang menjadi moyang dari mata rumah Wattimena Wael di Mahariki. Harta milik Kapitan Nunusaku dibawanya semua, tidak lupa pula seekor burung nuri atau burung kasturi raja. Selain itu juga dibawanya sebuah pinang putih yang diletakkan dalam tempat sirih pinang.

Di belakang kemudi duduk kapitan yang akan menjadi moyang dari mata rumah Wattimury. Di tengah rakit adalah kapitan yang akan menjadi moyang Nanlohy. Di belakang sebelah kanan duduk kapitan yang akan menjadi moyang Talakua. Untuk menjaga harta milik mereka ditunjuk Kapitan Nanlohy. Di dalam hukum adat, ia bertindak sebagai seorang Dati yang akan menentukan pembagian-pembagian, baik milik pribadi maupun milik bersama. Oleh sebab itu, maka semua harta milik dan pembekalan diletakkan di tengah rakit berdekatan dengan Kapitan Nanlohy.

Rakit melaju karena kekuatan air yang mengalir turun menuju Tala. Namun ketika tiba di tempat yang bernama Batu Pamali, rakit mereka kandas dan hampir terbaik. Kapitan Wattimena Wael terkejut dan berteriak kepada kapitan yang berada di dekatnya. “Talakuang!!” Yang artinya ”tikam tahan gusepa” Dan kapitan yang mendapat perintah tersebut dinamakan ”Talakua” yang kemudian menjadi moyang dari mata rumah Talakua di negeri Portho hingga sekaran.

Ketika rakit hampir berbalik, saat itu Kapitan Wattimena tengah menbuka tempat sirih pinagnya menjadi terjatuh. Pada saat yang sama burung nurinya pun terbang. Kejadian ini sangat mengecewakan kapitan yang langsung terucap menikrarkan sumpah hingga merupakan pantangan bagi mata rumah Wattimena Wael. Bunyi sumpah tersebut, bahwa turun temurun mata rumah Wattimena Wael dan para menantu tak boleh memelihara burung nuri dan memakan sirih pinang. Kemudian yang berada di sungai tersebut dinamakan Batu Pamali hingga sekarang.

Sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Sejarah Negeri Nolloth

Nolot adalah sebuah Negeri/desa di Maluku yang terletak di jasirah Hatawano sebelah utara dari pulau Saparua.Berbatasan dengan negeri Itawaka di utara dan negeri Iha di selatan, dengan luas daerahnya 15 km dan jumlah penduduk sebesar 2655 orang yang terdiri dari 516 rumah tangga.

Datuk-datuk yang mendirikan negeri (desa ) Nolot berasal dari Ceram Barat di daerah AIHIOLO dan mereka bermukin ditempat yang bernama Lumapalatale.Pada waktu itu negeri Aihiolo sedang bemusuhan dan berperan dengan negeri Nunutetu, sehingga keamanan sangat terancam, akibatnya mereka memutuskan untuk meninggalkan negeri di Ceram dan menuju ke pulau Saparua.Menyusuri sungai Tala mereka tiba di pantai dan seladjutnya menyeberang selat Ceram dan tiba di pantai HATAWANO.Dari sana mereka naik ke gunung NOLLO.

Nollo artinya lihat dari jauh.

Aman Nollo terdiri dari dua buah Soa atau Uku ( kampong ) dengan marga atau matarumah pokok yaitu:

* UKU LIMA: terdiri dari matarumah Huliselan, Malessy, Selanno, Matatula dan Pasalbessy.

* UKU LUA: terdiri dari matarumah Luhulima dan Metekohy.

Selain matarumah-matarumah pokok tersebut diatas, ada beberapa lagi yang tidak masuk dalam Uku Lima dan Uku Lua yaitu Silahooy, Patty, Sipasulta, Tousalwa dan Ihalauw.Selama berada di gunung Nollo, mereka diperintah oleh Raja LATUSOPACUA.Pada tahun 1653 orang-oarang Nolot berperang dengan Belanda dipimpin Raja Toulapia dan sebahagian menyingkir kembali ke gunung Nollo.Setela Raja Toulapia dapat ditangkap belanda dan dibunuh dengan cara yang kejam.Orang-oarang Nolot dipaksa turun kembali ke pantai dan mereka memuluk Agama Kristen setelah dibabtis secara masalpada tanggal 8 september 1653.Setiap tahun hingga sekarang tanggal tersebut selalu deperingati sebagai kenangan sejarah.Untuk melindungi diri dari serangan penduduk HATAWANO khususnya orang-orang Nolot, maka pada tahun 1655 belanda mendirikan sebuah benteng kecil ditepi pantai batu karang yang disebut dengan nama: “HET HUIS TE VELSEN” pada tahun 1671, benteng tersebut runtuh karena gempa bumi besar, dan sekarang hanya tinggal bekas-bekas pondasinya.Desa Nolot sekarang terdiri dari 7 SOA asli ditambah satu SOA bebas ( pendatang ).Sesudah Raja Toulapia dibunuh belanda, maka yang menggantinya adalah Raja LATUPULUKU.LATU dari matarumah Pasalbessy.

Negeri Nolot mempunyai ikatan “PELA” dengan negeri HARUKU dipulau HARUKU.

sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.