TERJADINYA hubungan PelaGandong antara Negeri Noraito Ama Patti sebutan untuk Negeri Ihamahu di Saparua dan Negeri Lou Nusa Maatita sebutan untuk Negeri Amahai di Pulau Seram, berawal dari pembangunan gedung Gereja di Negeri Ihamahu. Ihamahu mengalami kesulitan dalam membangun Gereja karena tidak tersedianya kayu besi di wilayahnya.

Utusan demi utusan di kirim Negeri Ihamahu untuk mencari ramuan kayu besi tersebut. Setelah lama berjalan akhirnya diterima berita bahwa di petuanan Negeri Souhoku terdapat cukup banyak pohon kayu besi.

Terbukalalah jalan bagi Negeri Ihamahu untuk mendapatkan kayu besi guna pembangunan Gereja. Kebetulan pada waktu itu Upu Latu Souhoku adalah Alfaris Tamaela. Dia juga dianggap bagian dari rakyat Negeri Ihamahu, karena menikah dengan Jujaro Lilipaly dari Ihamahu.

Upu Patti Ihamahu pada waktu itu, Wilhelem Lilipaly pada Jumat 10 Januari 1890, mengirim dua orang Kepala Soa dan satu orang Tuagama untuk membawa surat kepada Upu Latu dan rakyat Souhoku meminta bantuannya.

Ternyata dipetuanan Negeri Ihamahu sudah tidak terdapat lagi pohon kayu besi yang baik untuk dibuat ramuan kayu besi. Maka Upu Latu Souhoku meminta bantuan kepada Upu Patti Negeri Amahai Wilhelem Halatu.

Senin 13 Januari 1890, utusan Ihamahu dengan diantarUpu Latu Souhoku menghadapa Upu Patti Amahai dan diterima secara adat oleh Upu Patti Amahai dengan stafnya dengan suka cita.

Setelah mengutarakan niat mereka, Upu Patti Amahai menunjuk hutan Sersa Muoni sebagai tempat bagi utusan Negeri Ihamahu untukmengambil kayu besi.

Kamis 10 April 1890, Wilhelem Lilipalyselaku Upu Patti Ihamahu bersama empat orang Kepala Soa dan tiga orang Tuagama dan 80 orang laki-laki dewasa membawa perbekalan tiba di Amahai disambut dengan suka cita.

Jumat 11 April 1890 di Baileo Negeri Lou Nusa Maatita dilakukan musyawarah antar dua negeri. Pemerintah Negeri Amahai dengan suka cita menyambut pemerintah dan rakyat Ihamahu dengan ikatan Pela.

Pada hari Minggu 13 April 1890 dengan dihadiri masyarakat Amahai dan utusan masyarakyat Ihamahu. Dikukuhkanlah ikatan Pela Lounusa Maatita – Noraito Ama Patti yakni Pela Tampa Siri atau yang dikenal dengan nama Pela Gereja.

Hubungan Pela ini menjadi lebih nyata, terjadi pada saat meramu kayu besi untuk ketiga kalinya yakni pada tanggal 24 September 1896, dimana banyak sekali orang Ihamahu yang datang untuk meramu kayu besi disambut dengan suka cita oleh masyarakat Amahai selayaknya hidup orang ber-Pela.

27 September 1899, Wilhelem Lilipaly dan 80 ornga laki-laki dari Negeri Ihamahu telah berada di Amahai dan telah mengerjakan kayu besi untuk dibawa ke Ihamahu. Namun malang tidak dapat ditolak, pada 30 September 1899, pukul 01.42 Wit, terjadi tanah goyang besar yang memporak porandakan negeri dikawasan tersebut, dan juga merengut nyawa 60 orang Ihamahu termasuk Wilhelem Lilipaly Upu Patti Ihamahu. Hal ini menyebabkan terjadinya saling tuding menuding antara orang Amahai dan Ihamahu, hal ini menyebabkan hubungan Pela antara Amahai dan Ihamahu menjadi longgar.

Setelah Johanes Lilipaly diangkat sebagai Upu Patti Ihamahu 1923, bersama rekannya Abraham Halatu Upu Latu Amahai dengan dibekali semangat orang ber-Pela, dimana hubungan yang telah diikat oleh orang tua-tua negeri itu tidak boleh dikotori tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka sejarah tersebut ditetapkan sebagai Pasawari Panas Pela Negeri Amahai Ihamahu, bertempat di Negeri Ihamahu 24 Oktober 1924.
25 Oktober 1924 malam hari di Baileo Ihamahu berlangsung rapat dalam
rangka Panas Pela kedua negeri.

Maka ikatan tersebut kembali dikuatkan dengan ikatan Pela, yaitu perekutuan dalam Tuhan Yesus Kristus. Masing-masing pihak merasa menjadi saudara kandungdengan akar Pela tidak boleh ada perkawinan antara kedua negeri tersebut. Dengan demikian Pela Tampa Siri berubah menjadi Pela Saudara Kandung atau Pela Kandong. Keputusan tersebut dikukuhkan pada hariMinggu 26 Oktober 1924 dan sejak itu orang Amahai dan Ihamahu merasa satu. Sei Hale Hatu, Hatu Hale Ei Sei Risa Sou Sou Risa Ei. Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia. Sapa Langgar Janji, Janji Langgar Dia.

Dalam rangka mengenang sekaligus mensyukuri peristiwa yang menimpa kedua negeri ketika terjadinya bahaya Seram, maka pada tanggal 28 September 1926, kedua negeri mencoba kembali untuk saling menguatkan dengan cara duduk dan bermusyawarah bersama. Peristiwa ini disaksikan oleh, W.J Wattimena Upu Latu Makariki, J.A Tamaela Upu Soahoku, M.T Amahoru Latu Iha dan Hitijahubessy orang kaya Noloth.

Untuk selalu mengingatkan kedua negeri akan hubungan Pela Gandong ini, sekaligus sebagai tanda menggenapi janji Pela, maka masing-masing memberikan kepada saudaranya pemberian antara lain satu set Totobuang dan dua bodi serta sebuah Gong khusus yang disebut Gong Matapela.

Dengan gotong royong antara masyarakat Negeri Ihamahu dan Amahai maka Gereja Ihamahu pun selesai dikerjakan. Maka diputuskan bahwa gedung Gereja di Amahai adalah milik saudara gandong Ihamahu dan gedung Gereja Ihamahu adalah milik saudara kandung kandung Amahai. Hubungan ini terus terjalin hingga kini dan selamanya. Hubungan Pela Gandong kedua negeri ini juga dituangkan dalam bentuk Prasasti diatas batu pualan. Dimana disebutkan bahwa, perkawinan antara kedua negeri dilarang.

sumber: http://groups.yahoo.com/group/ambon/message/46686