Pada jaman dahulu negeri SIRISORI berdiam di gunung AMAPELE. Sedangkan batas negeri PORTO berada pada daerah HATAWANO sampai pada TIOUW dan AIR PAPERU yang terletak di ujung negeri PAPERU.
Oleh karena begitu luasnya negeri PORTO yang pada pesisir gunung bertuliskan PANTAI HATAWANO maka rakyat yang terdiri dari yang terdiri dari 6 negeri dan di gabungkan menjadi satu yaitu negeri PORTO selalu di ganggu oleh orang-orang LANO (kaum perompak) maka demi keamanan ketuanan negeri PORTO oleh NANLOHY dari OPAL memrintahkan kedua kapitan yaitu LATUIHAMALLO dan WATTIMURY untuk mengusir negeri SIRISORI yang terletak di gunung AMAPELE.

Mengingat masyarakat negeri SIRISORI selalu bersengkongkol dengan para perompak (LANO) maka kedua kapitan tersebut bersama masyarakat PORTO memerangi masyarakat SIRISORI, namun masyarakat PORTO menunda peperangan tersebut dan atas perlindungan yang disetujui oleh Raja NANLOHY dari OPAL untuk meminta bantuan dari masyarakat ITAWAKA.
Selanjutnya kapitan LATUIHAMALLO di perintahkan pergi ke ITAWAKA menemui kapitan PAPILAYA namun kapitan PAPILAYA tidak berada di tempat, kemudian kapitan LATUIHAMALLO hanya berbicara dengan adik kapitan PAPILAYA.
setalah itu kapitan LATUIHAMALLO dengan pengawalnya kembali ke negeri PORTO, sementara masyarakat negeri PORTO berunding di pantai WASA tiba-tiba kapitan PAPILAYA telah memimpin masyarakat ITAWAK untuk membantu masyarakat PORTO guna memerangi negeri SIRISORI yang terletak di gunung SAMAPELA.

Selanjutnya mengingat keberhasilan dalam peperangan tersebut maka negeri PORTO memberikan jasa kepada negeri ITAWAKA yaitu sebuah ketuanan yang berada di wilayah pantai WASA sampai dengan perbatasan HATAWANO (TUHAHA). dan hingga pada tahun 80an masyarakat ITAWAKA masih berkebun di wilayah tersebtu.
Kemudian setelah beberapa tahunnegeri SIRISORI datang memohon kepada raja PORTO . Negeri SIRISORI merasa susah dan sengsara oleh karena pertuanan mereka sangat kecil , maka mereka mendatangi ra ja PORTO guna memohon satu tempat kemudian raja PORTO menyetujuinya untuk mereka berkebun di satu tempat yang di sebut dusun PIA

sehingga terjadi pela antara PORTO dengan ITAWAKA itu disebut PELA PERANG atau PELA DARAH.