Posts from the ‘asal-usul’ Category

Asal Usul Desa Elaar (Sebuah Desa yang menyimpan sejarah Pembentukan Hukum Adat Larvul Ngabal)

Elaar adalah sebuah desa di pesisir timur Pulau Kei Kecil yang nenek moyangnya diasal usulkan (utin kain) dari pulau Seram, Luang Sermata, dan Luang Maubes. Desa ini bernama Desa Ohoilim yang terdiri dari lima marga bsar, yakni Marga Oat, Renngifur, Renoat, Fodubun, dan Labet-Umad. Kelima marga ini berasal dari Tiga marga besar (loo I tel atau tiga mata rumah) yaitu mata rumah penduduk asli yaitu mata rumah yang berasal dari keturunan Ngurkud oat, yang menurunkan Marga Oat dan Renngifur, mata rumah pendatang dari Luang yakni Turunan Faliw dari Luang Sermata yang menurunkan Marga Renoat, Wuaha Sobyar dari Maubes yang menurunkan Marga Fodubun, dan mata rumah pendatang dari Seram Gorom yakni Yamlim serta seorang adik lelaki yang menurunkan Labet dan Umad. Kedua marga inilah yang akhirnya menurunkan turunan terbesar di Desa Elaar yang bermarga Labetubun dan Madubun.
Penguasa daerah ini disebut Jingraw I adalah Ngurkud Oat dengan Womanya dalah Kot El, Lodar El (gerbang pemerintahan dan pusat perkawinan). Ketika Yamlim dan adiknya pertama dating, mereka menggunakan sebuah kulit siput besar dengan perbekalannya adalah sagu. Sampai di tepi pantai mereka melihat ada sungai kecil yang mengalir ke laut, maka mereka masuk dengan menyusuri sungai tersebut sampai kehulunya. Di hulu sungai inilah mereka berdiam di sebuah goa kecil dan menanam beberapa anakan pohon sagu untuk menjaga sumber air di sekitar hulu sungai. Sungai tersebut diberi nama sungai Yamlim dan Goa kecil tersebut sebagai Goa Yamlim, dipenuhi dengan tanaman sagu sebagai makanan pokok kedua setelah enbal dan umbi-umbian lainnya.
Ketika orang kampong pergi berburu, mereka ditemukan karena lolongan anjing pemburu. Mereka kemudian dibawah menghadap penguasa saat itu yakni Jingraw I yang dijabat oleh Ngurkud Oat. Penduduk akhirnya melapor kepada Jangraw I yakni Ngurkud Oat tentang keadaan dari kedua lelaki tersebut. Mereka kemudian ditanya asal usul mereka dan maksud kedatangan mereka. Melalui beberapa tes yang dilakukan oleh Ngurkud Oat dan sebuah sumpahan bahwa jika benr kamu orang baik-baik, maka keturunanmu akan seperti bunga mangga ( yang saat itu lagi berbunga) dan jika tidak keturunanmu akan punah bagaikan kembang mangga di musin hujan. Akhirnya Yamlim diterima oleh Ngurkud Oat dalam suatu pengawasan yang ketat.mereka sering diajak berburu bersama oleh penduduk kampung, ternyata Yamlim dan adiknya sangat pandai dalam hal memnah dan menggunakan pedang/parang.
Penduduk asli sangat kagum atas kelihaian dan kegesitan kakak beradik karena setiap buruan tidak terlepas dari panah sang kakak atau sabetan pedang sang adik. Sebelum perburuan dimulai kedua kakak beradik menyusun strategi yang akan dilancarkan pada waktu terlihat hewan buruan, pada saat mengaso, mereka tak segan-segan membagi pengalaman dengan teman-teman pemburu dengan strategi dan cara-cara menaklukkan hewan buruan, serta mengajarkan bagaimana cara memanah yang baik, dan menyabet dengan pedang secara tepat. Pengetahuan dan penhgalaman ini mereka dapat dari orang tua mereka di daerah asal mereka pulau Seram, yang hutannya lebih luas dan lebat dengan medan berburu yang lebih sulit karena gunung yang tinggi serta jurang yang sangat dalam. Setiap hasil perburuhan maupun hasil tangkapan ikan akan dibagikan kepada seluruh penduduk sesuai besar kecilnya jumlah anggota keluarganya.
Di depan tanjung di Desa Elaar, ada sebuah goa bernama yang bernama Vid Nang yang berarti “pintu masuk” yang dihuni oleh seekor ular naga besar yang sering memangsa penduduk, bahkan tak kurang para penduduk kampung lain yang melintas daerah tetrsebut dengan perahu tak luput para penduduk kampung lain yang melintas daerah tersebut dengan perahu tak luput menjadi mangsanya. Daerah depan Vid Nang telah menjadi daerah berbahaya bagi pelayar baik dari Kei Kecil maupun dari Kei Besar yang sering melintas daerah ini. Para pelayar sering melihat Naga tersebut melemparkan bola api ke udara kemudian di tangkap kembali. Keadaan ini selalu membuat penduduk kampung ketakutan. Kedua kakak beradik ini merembuk untuk membuat strategi, mencari cara untuk membunuh Naga tersebut. Kemudian sekali lagi mereka menunjukan kemampuan mereka dengan membuat tali jerat. Tali jerat tersebut dipilih bersama-sama penduduk kampung, lalu Naga pun di umpan untuk keluar dari liangnya, pada saat itulah Naga terjerat dan akhirnya dibunuh oleh mereka beramai-ramai.
Dengan pengalaman yang ditularkan kepada penduduk, maka pemuda kampung ini sangat terkenal sebagai jawara-jawara dalam peperangan karena kepandaian, pengetahuan dan keberanian kedua pemuda tersebut akhirnya mereka di angkat menjadi pemuka/tokoh pemuda yang disegani oleh kawan maupun lawan dengan gelar “Dir U Hamwang” yang artinya “pemuka dan pembagi”.
Penduduk akhirnya melapor kepada Jingraw I yakni Ngurkud Oat tentang keadaan dan sepak terjang mereka, oleh karena kedua kakak beradik ini selalu menunjukkan sifat-sifat yang arif dan bijaksana, serta pandai.
Kemudian Yamlim dan adiknya dipangging oleh Ngurkud Oat, pada saat mereka menghadap Ngurkud Oat, maka Yamlim sebagai kakak ia diberi kekuasaan oleh Ngurkud oat sambil mengucapkan: “Om do vo taha kuas ne ya’a taha formai” yang artinya “kamu tinggal disini memegang kekuasaan,dan saya mengatur masalah adat. Kemudian ia diberi salah satu dari putri Ngurkud adalah Masliwur sebagai istrinya. Setelah kekuasaan dan istri diberikan barulah diberi tanah sebagai tempat untuk membuka lahan. Tanah yang diberikan tidak terbatas, karena pada prinsipnya sejauh kmampuan dia untuk membuka hutan dengan menanam tanaman umur panjang seperti kelapa, sagu dan lainnya, maka sebesar itu pula haknya atas tanah tersebut.
Yamlim kemudian memegang jabatan sebagai seorang Hilaai dalam pemerintahan Jingraw II dalam daerah kekuasaan yang di sebut Vovan Medar Kabil. Kekuasaan Yamlim diperkuat oleh seorang ahli hukum yang bernama Fuut Rub dengan menerapkan suatu hukum Ohoi/Kampung yang disebut hukum “Lavul”. Hukum ini kemudian dijadikan induk hukum yang diberlakukan di tanah Kei, untuk mengenang leluhur mereka yang datang dari Seram, maka kemudian pada masa pemerintahan Belanda, Desa ini diberi nama Lamagorong oleh penguasa pada saat itu dari dari marga Labetubun yang moyangnya berasal dari Gorom untuk mengingat daerah asalnya, dengan Womanya adalah Woma “Ewanus” belangnya bernama “Belang Fadir”, pada waktu pemerintahan Jingraw II ini masyarakat Ohoilim termasuk orang-orang hartawan karena mereka banyak memiliki harta berupa emas dan perak dari hasil niaga dengan orang-orang di luar daerah Kei.
Mereka yang terkenal sebagai orang-orang hartawan Elaar di antaranya Mankerenluk dan anaknya Balkenwutun, dalam sejarah tanah Kei pernah menerima orang buangan dari Kei Besar, yang kemudian ditempatkan di daerah petuanan mereka yaitu di dusun Garara, dan dusun Ngurvul. Semula mereka berkampung di pantai Masleb namun karena ditolak oleh orang-orang Rahan Ohoilim, maka oleh seorang keturunan Balkenwutun yakni H. Abdul Halik Labetubun memindahkan mereka ke daerah petuanan Balkenwutun. Sampai sekarang kedua dusun tersebut menjadi anak desa Elaar. Hal ini dikarenakan adanya hubungan perkawinan antara adik perempuan Mankerenluk yakni Sikluban kawin dengan Raja Feer yakni Bol-Bol Rahakbaw, sedangkan cucunya Baturin anak dari Balkenwutun kawin dengan Kapitan Roroa dari dari Larat. Mereka dikenal sebagai “MEL UTIN” atau MEL UUN. Meraka memiliki harta pusaka berupa emas yang kini masih tersimpan dengan baik memiliki tanah-tanah yang luas dan budak belian yang banyak, pada waktu perang SONGIL FOMAS antara Kelompok Loor Lim dengan Ursiw yang mengakibatkan Raja Danar Terusir, dan terapung-apung di NGON TENBAW maka tampilah hartawan Elaar yakni Mankerenluk yang membawa seguci emas,lalu menebus Raja Danar untuk kembali menduduki jabatannya semula. Pemuda-pemuda Elaar sejak dahulu terkenal sebagai pemanah-pemanah yang handal dan tangkas dalam berperang.
Kampung Ohoilim pernah mengalami peperangan yang dikenal dengan perang (FUUN SULTAN) menghadapi gempuran orang-orang Kei di sekitarnya yang ingin mengislamkan Ohoilim, karena mereka mengetahui bahwa Hukum orang Ohoilim sejalan dengan hukum dalam agama islam. Orang Elaar walau beragama animis tetapi mempraktekkan hukum dan ajaran sesuai dengan ajaran islam, karena sering digempur, maka oleh penguasa pada saat itu diperintahkan untuk bekerja bersama-sama membangun tembok/lutur di sepanjang Laer Tutu Mayor (Tanjung Tutu Mayor) setinggi lima meter untuk melindungi kampung dari serbuan dari arah laut.
Selain tembok pertahanan, penguasa Ohoilim juga membagi marga-marga atas beberapa kelompok untuk mempermudah penggalangan masa bila terjadi penyerangan. Kelompok-kelompok ini mempunyai belang sendiri-sendiri yang dikomandoi oleh salah seorang pemuka yang dianggap piawai untuk menjadi pemimpin bagi pemuda-pemuda pendayung belang saat pertempuran yang terjadi di laut. Selain itu masyarakat Elaar pernah mengalami penyerbuan atas kampung mereka oleh masyarakat BIBTETRATSIW yang dimenangkan oleh masyarakat Elaar dengan terbunuhnya Hilaai Kanew dalam peperangan tersebut.
Seiring dengan berjalanannya waktu akhirnya orang Ohoilim mulai masuk Islam dengan keyakinan sendiri, bukan karena perkawinan atau alasan lain. Bahkan ada diantara mereka yang masuk Islam tersebut pada awalnya mereka (laki dan perempuan telah dijodohkan oleh orang Tua) sejodoh tetapi merekatidak mau kawin dan masuk Islam. Pada saat mereka telah sama-sama memeluk agama Islam barulah mereka menikah.
Setelah beberapa rumah tangga yang memeluk agama Islam maka dengan alasan tertentu untuk menghindari hewan piaraan dan makanan yang diharamkan Oleh Islam maka mereka kemudian pindah dan membangun pemukiman baru kira-kira 1 Km dari kampung induk dan diberi nama Desa Elaar Let. Kampung ini sekarang baru pada generasi ke 5 dari mereka yang masuk Islam.
Namun ketika orang-orang Ohoilim masuk agama Islam dan Kristen, maka pada tahun 60-an batu-batu tembok tersebut diruntuhkan dan batu-batunya doambil untuk pembuatan Gereja dan Rumah.

sumber : http://hi-in.facebook.com/topic.php?uid=75848061938&topic=18571

Iklan

Pela Negeri Latuhalat dan Negeri Alang

Pela diantara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang , ini satu pela yang tertua diseluruh Maluku ; sebab pela ini terjadi sebelum orang2 Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; selagi Maluku ada dibawah keperintahan Hindu2.

Pada satu ketika ada seorang anak keturunan Bangsawan dari Negeri Alang , yang bernama Huwae Lili Tupa berjalan dengan orang pengikutnya berburu atau menyumpit burung dan bertamasyah di sekitar pulau Ambon.

Tiba-tiba anak Bangsawan Alang itu sampai ke Latuhalat , dan berjalan dipesisir pantai Malulang ; pada ketika itu anak Bangsawan Alang atau Huwae Lili Tupa ini , melihat ada seorang anak gadis yang cantik lagi elok parasnya ; sehingga anak Bangsawan ini menaruh kecintaan terhadap anak gadis tersebut.

Sesudah anak Bangsawan ini pulang ( kembali ke Alang ) maka ia disambut oleh ibu dan bapaknya sambil menanya apa hasilnya dalam perburuhannya dan apa yang ia dapat dalam perjalanannya itu. Maka anak Bangsawan itu , memberitahukan kepada ibu dan bapanya ; bahwa ia telah melihat seorang anak gadis yang cantik dan elok parasnya : di negeri Latuhalat sambil ia bermohon ; supaya ibu dan bapanya mau datang ke Latuhalat , meminangkan anak gadis itu untuk menjadi istrinya yang chats.

Ketika ibu dan bapak anak Bangsawan itu , mendengar permintaan anaknya mereka , maka ibu dan bapak bersetujuh untuk datang ke Latuhalat mintah anak gadis itu untuk menjadi isteri bagi anaknya. Tidak lama lagi ibu dan bapaknya menghimpunkan segala segala kaum keluarganya serta orang2 Bangsawan Alang sambil memberi tahuka maksud dan tujuhan dari anak tersebut bagi mereka ; setelah kaum keluarga dan Bangsawan -bangsawan Alang mendengar maksud dan tujuhan dari anak itu maka mereka bersetujuh dengan maksud dari anak itu.

Dengan tidak lama lagi , maka datanglah ibu dan bapanya dengan beberapa orang2 Bangsawan Alang untuk bertemu dengan orang tua dari anak gadis itu ; setelah kabar ini di dengar oleh orang tuanya anak gadis itu , maka sebentar juga mereka memanggil orang Bangsawan Latuhalat berkumpul dirumah anak gadis itu untuk menantikan tamu Agung itu. Setelah orang tua dari anak Bangsawan dan orang2 Bangsawan Alang tibah di Malulang dirumah anak gadis itu , maka mereka bersalam-salaman satu dengan yang lain , sebagai Adat Istiadat yang dipakai di Maluku ; sesudah itu tamu Agung tersebut , disalahkan masuk ; seraya diberi tempat duduk bagi masing-masing tetamunya.

Sesudah mereka duduk . maka mereka diberi keluasan untuk memberitahukan maksud dan tujuhan ; kedatangan mereka itu , untuk didengan oleh orang tua dari anak gadis itu ,beserta orang2 Bangsawan Latuhalat tersebut. Maka mulailah mereka sampai maksud dan tujuhan mereka bahwa kedatangan mereka itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk meminang anak gadis itu , untuk menjadi isteri dari ananknya yang bernama HUWAE LILI TUPA ; setelah sudah ibu dan bapa anak gadis iru dengar ; beserta Bangsawan 2 yang ada disitu ; maka mereka mengambulkan permintaan ibu , bapa dan orang2 Bangsawan Alang tersebut . Sesudahnya mereka menerima permintah dari orang tua2 dan orang2 Bangsawan Alang itu , maka ditentukan hari perkawinan kedua anak itu yang akan dilangsungnya.

Sesudah selesai segala perundingannya diantara orang2 tua2 dam orang Bangsawan2 dari kedua belah fihak , maka orang tua dan orang2 Bangsawan Alang itu , bermohon untuk mereka undurkan diri dan kembali ke Alang ;permintaan ini diterima oleh orang tua anak gadis tersebut berserta orang2 Bangsawan yang hadir disitu.

Sepeninggalnya tamu2 agung itu , maka moyang Sakti Tawan mencurahkan perasahannya bagi orang tua anak gadis itu dan orang2 yang berada disitu ; bahwa moyang Sakti Tawan enggang hatinya untuk berikan anak gadis itu untuk menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang. Serta didengar oleh orang tua dari anak gadis itu serta orang2 Bangsawan tersebut , maka mereka merasa malu kepada orang tua dan Bangsawan2 Alang ; lalu moyang Sakti Tawan menyampaikan maksudnya : “Bahwa ia bermaksud untuk buat satu patung ( boneka ) yang sepadam dan serupa dengan anak gadis itu ; untuk diserahkan menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang ( Huwae Llili Tupa ) tersebut “:

Sesudah mereka mendengar maksud dari moyang Sakti Tawan ini , maka mereka bersetujuh; setelah moyang Skati Tawan mendengar yang merea bersetujuh dengan maksudya maka moyang Sakti Tawan telah memberi perintah kepada hamba2nya pergi tebang sebatang pohon sagu yang ada didalam dusun Waaipuang ; lalu belah batang sagu itu dan ambil isi batang sagu itu yang di bilang Meor ; bawah datang kepada moyang Sakti Tawan.

Ketika hamba2nya membawa isi batang sagu itu datang dan diserahkan kepada moyang Sakti Tawan , maka mulailah moyang Sakti Tawan ukirkan hati batang sagu itu sehingga serupa dan sepadam dengan anak gadis tersebut. Patung ( boneka ) itu bisa berjalan bisa duduk minim rokok bisa bikin muka tersenyum ; tetapi tidah bisa bicara.

Sekarang moyang Sakti Tawan memerintah hamba2nya lagi untuk pergi potong kayu2 untuk dibuat satu Arangbai supaya manakala datangnya hari yang sudah ditentukan untuk anak gadis itu harus keluar dari Latuhalat datang ke Alang , maka Patung ( boneka ) itu harus naik di Arangbai yang dibuat oleh moyang Sakti Tawan itu.Sesudah Patung dan Arangbai itu sudah selesai . maka ada salah seorang bertanya moyang Sakti Tawan begini: ” Apa Upu punya Arangbai itu sudah betul ?lalu moyang Sakti Tawan periksa Arangbai itu lagi ; maka moyang Sakti Tawan lihat ada kurang satu lolang dinunas bahagian belakang : terus moyang Sakti Tawan bilang buat itu orang , bahwa mulai dari hari ini Upu dan turunan Upu bernama SOPLANTILA yang artinya Mata Suanggi ” :.

Setelah tibah waktu dan harinya untuk datang dalam nikahnya ; maka datanglah orang tua dari anak Bangsawan Alang yang diiring oleh berapa orang Bangsawan datang dengan Arangbai ke Latuhalat dan singga di pelabuhan Malulang tempat kediaman anak gadis itu.

Sesudah mereka sampai di Malulang , maka mereka disambut oleh orang tua daru gadis tersebut , dengan beberapa orang Bangsawan juga ; dengan riu rendah sebagai kebiasan ; menurut ada istiadat dari tiap2 negeri di Maluku. Sesudah itu , Arangbai yang disediah untuk anak gadis itupun telah telah tersediah dengan orang2 yang harus menghentar anak gadis itu datang ke Alang ; dan sebelum mereka bermohon untuk kembali ke Alang , maka moyang Sakti Tawan telah menungjuk seorang dayang yang kena di percayai duduk bersama-sama dengan gadis itu didalam Ten dari Arangbai itu ; sambil moyang Sakti Tawan telah memberi perintah bagu dayang itu begini :” Bahwa jikalau mereka sudah sampai di tanjung yang bernama Hattu dan lihat kalau patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam laut , maka dayang itu harus angkat dari pantat Patung itu buang kedalam air jangan tinggal sampai datang ke Alang”: .

Kebetulan sesampai mereka di tanjung Nama Hattu itu , maka dengan segra Patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam air laut ; pada ketika itu juga dayang itu mengerjakanperintah dari moyang Sakti Tawan itu , terus Patung ( boneka ) itu jatuh kedalam laut dan tenggelam ; lalu dayang itu berteriak dengan suara yang keras dan terkejut , bahwa tuan Puteri sudah tenggelam ; ketika anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) ini mendengar yang isterinya telah tenggelam , maka dengan tidak ragu-ragu lagi ia terjun dirinya untuk menolong isterinya itu.
Tetapi sayang dibalik sayang ; bahwa ia tidak mendapat isterinya yang tenggelamg itu ; melainkan tubuh anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) itu telah berobah menjadi Buaya.

Sedang pada waktu itu yag sama itu juga , anak gadis yang bersembunyikan dirinya diatas solder di Malulangpun tubuhnya berobah menjadi Buaya tembaga yang ada sampai pada saat ini didalam Mata Rumah yang sekarang pakai Fam Lekatompessy.

Sesudah tiga hari lamanya baharu Patung ( boneka ) itu terdampar dimuka pelabuhan LELIBOY . Ketika orang Leliboy mendapat Patung ( boneka ) itu ; lalu orang Leliboy bilang begini :” Bahwa Alang mata buta kawin MEOR disangka orang.

Dengan keadaan yang terjadi ini , maka datanglah orang tua orang2 Bangsawan Alang ke Latuhalat untuk mengangkat satu perjanjian persaudaraan yang dibilang Pela antara NEGERI LATUHALAT dan NEGERI ALANG.

Dengan perjanjian-perjanjian seperti berikut:” Segala anak2 cucu dari Alang dan Latuhalat mau masuk dan keluar tidak boleh kawin mengawin satu dengan yang lain ; siapa anak2cucu yang melanggar perjanjian ini , ia akan mati ; jikalau anak laki2 yang langgar perjanjian ini , mau dari Latuhalat maupun dari Alang dan dia harus mati.
Pela antara Alang dan Latuhalat ini terjadi sebelum Lekatompessy memakai nama Lekatompessy melainkan ada memakai nama Latumeten ; sebab ini ada adik yang bungsu dari moyang Sakti Tawan , Pela ini terjadi kira2 pada tahun 1356 sebelum Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; oleh sebab itu dibilang Latumeten tukang dan Lekatompessy pariaman . (willy)

ASAL-USUL NEGERI PORTO DAN NENEK MOYANG TALAKUA

Masyarakat Porto memahami bahwa nenek moyang mereka yang pertama, berasal dari pulau Seram, dari Nunusaku (gunung suci di pulau Seram), maka asal ususl negeri Porto dan nenek moyang Talakua diceriterakan sebagai berikut :

“….bahwa pada waktu penduduk mulai menyebar mencari tempat-tempat yang lain mereka dipimpin oleh empat orang kapitan, yaitu : Kapitan Wattimena Wael (yang nantinya menjadi moyang Wattimena di Makariki), Kapitan Wattimury (yang kemudian menjadi moyang Wattimury), Kapitan Nanlohy (yang kemudian menjadi moyang Nanlohy) dan Kapitan Talakua (yang kemudian menjadi moyang Talakua). Mereka bermusyawarah untuk menyepakati tujuan dan arah pengembaraan mereka dan mereka sepakat untuk menghilir sepanjang sungai Tala. Tiba di Tala, mereka membuat suatu perjanjian dengan menanam sebuah batu yang dinamakan Manuhuru yang kemudian berubah menjadi Huse. Perjanjian yang mereka ikrarkan adalah : “Walaupun mereka nanti bercerai-berai, tetapi hubungan persaudaraan ini harus terus dipertahankan dan merekapun harus saling tolong-menolong”. Tempat ini kemudian menjadi suatu batu pertanda tempat kenang-kenangan dari keturunan negeri Makariki, Amahai, Luhu dan Porto. Beberapa hari kemudian Kapitan Nanlohy dan Kapitan Talakua naik keatas rakit untuk bermain-main, tetapi rakit terbawa arus dan hanyut semakin jauh ke tengah laut. Mereka terdampar di suatu tempat bernama Nanuluhu dan Kapitan Nanlohy tertinggal di situ sedangkan Kapitan Talakua terus hanyut melewati Tanjung Umelputty (sekarang dekat desa Kulur) dan akhirnya terdampar di suatu teluk di pulau yang kemudian dinamakan pulau Saparua. Sampai sekarang orang meyakini bahwa sepasang tapak kaki yang tertinggal di Wasa dekat tanjung Umelputty adalah tapak kaki Kapitan Talakua yang pertama singgah di situ. Tetapi kemudian karena ingin mencari tempat tinggal yang aman atau kecendrungan untuk dekat dengan para leluhur (sesuai kepercayaan asli) maka dibangunlah suatu Hena atau Aman di gunung Opal. Lama setelah itu Kapitan Nanlohy juga ikut terdampar kesitu dan menurut hikayat Talakua,[1] ketika Kapitan Talakua melihat Kapitan Nanlohy berenang dekat tanjung itu, Kapitan Talakua mengambil sebatang galah untuk menolong Kapitan Nanlohy naik kedarat. Karena itu dalam sejarah pembentukan negeri Porto, Talakua dan Nanlohy mempunyai negeri lama yang sama yaitu di gunung Opal. [2] Selain proses migrasi dari pulau Seram kemudian berdatangan lagi orang-orang dari Maluku Utara, Irian Jaya, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, mereka lalu berkelompok membuat kediaman di pegunungan.

Kecendrungan mencari tempat-tempat yang aman dan dekat dengan para leluhur sesuai keyakinan mereka itulah yang menyebabkan terbentuklah pemukiman-pemukiman penduduk di pegunungan. Mereka berkelompok dalam persekutuan-persekutuan yang disebut Rumahtau atau Lumatau yang terbentuk dalam ikatan genealogis. Rumatau-rumahtau ini kemudian menggabungkan diri dalam suatu persekutuan yang disebut hena atau aman dan menempati lokasi-lokasi tertentu yang dipimpin oleh Ama. Aman berasal dari istilah pribumi ama yang artinya bapa atau tuan. Dengan demikian Aman adalah pemukiman yang dimiliki dan diperintah oleh Ama. Lokasi atau wilayah hunian inilah yang kemudian dikenal dengan nama negeri lama.

Negeri lama-negeri lama di pegunungan yang dihuni oleh para leluhur masyarakat Porto adalah sebagai berikut :
Opal : Opal adalah daerah pegunungan yang tertinggi dalam wilayah petuanan desa Porto. Negeri lama ini ditempati oleh Talakua dengan mengambil posisi sebelah depan (arah Timur) menghadap ke Saparua, dan Nanlohy yang menempati wilayah Opal bagian belakang (arah Barat) menghadap ke pantai. Talakua dan Nanlohy menempati negeri lama yang sama, sebab menurut cerita rakyat,[ 3] keduanya berasal dari Seram. (lihat asal-usul negeri Porto di hal. 68). Mungkinkah karena itu Talakua dan Nanlohy mempunyai Soa yang sama yaitu Soa Lesiruhu dan menjadi Soa Raja.
Selain Opal, juga ada negeri lama dari para leluhur yang lain seperti :

1. Amahoru : Negeri lama ini ditempati oleh Latuihamalo, dan kemudian menjadi Soa Muarea.
2. Sawahil : Negeri lama ini ditempati oleh Polnaya, dan kemudian menjadi Soa Ulalesi.
3. Tahuku : Nageri lama ini ditempati oleh Sahertian, dan kemudian menjadi Soa Latarisa
4. Latehuru : Negeri lama ini ditempati oleh Wattimury, dan kemudian menjadi Soa Namasina
5. Samonyo : Negeri lama ini ditempati oleh Tetelepta, dan kemudian menjadi Soa Muahatalea
6. Amatawari : Negeri lama ini ditempati oleh Berhitu, dan kemudian menjadi Soa Beinusa. Dalam cerita asal usul bangsa Maluku. [4] dikatakan bahwa, Berhitu adalah orang Ameth ditempatkan di Porto (negeri lama) atas jasanya yang telah membantu Porto(kapitan Talakua), untuk berperang melawan Johor. Menurut cerita itu, dikatakan bahwa, karena itulah Porto diberi nama menurut negeri Ameth, yaitu Samasuru.
7. Louwunyo : Negeri lama ini ditempati oleh Aponno, dan kemudian menjadi Soa Lohinusa.

Pusat pemerintahan negeri lama-negeri lama ini ada di pegunungan Opal, di mana raja yang memerintah pada waktu itu adalah Talakua (yang digelar raja hutan). Struktur pemerintahan di gunung atau di negeri lama bersifat tradisional, tetapi unsur demokrasi sangat jelas terlihat dengan adanya pembagian kerja dalam struktur pemerintahan itu, seperti, ada pembagian peran raja, kapitan, mauweng, dan marinyo.Stuktur masyarakat juga sangat teratur seperti, rumatau, uku, hena atau aman, dan uli.

Pembentukan hena atau aman ini juga terjadi dalam perebutan kekuasaan di wilayah pegunungan tetapi diceriterakan bahwa kemudian di wilayah pegunungan itu, terdapat persekutuan yang lebih besar yang disebut Uli Poru Amarima dan kemudian menjadi Ama Poruto.[5] Dari sinilah kita mengerti bahwa nama asli negeri Porto adalah Poru yang artinya menarik hati. Uli adalah gabungan beberapa hena atau aman, sedangkan Amarima artinya lima aman atau lima kampung, yang dipimpin oleh Kapitan Talakua, yang menjadi penguasa di Gunung Opal. Hal ini sejalan dengan apa yang ceriterakan oleh Sitaniapessy,[6] bahwa : di akhir abad-13 dan awal abad-14, sudah ada penduduk Poru yang berkuasa di pegunungan Porto (nama Porto diberikan kemudian). Diceriterakan bahwa, ketika Johor tiba di Saparua, tidak ada satu negeri pun yang berani berperang dengan Johor dan yang berani angkat senjata melawan Johor adalah Poru atau Porto. Kekuasaan Poru bahkan menjadi salah satu pertahanan kuat di gunung Opal dan di zaman Portugis dan Belanda, wilayah ini tidak tersentuh sama sekali. Selain perang Iha dan perang Pattimura, ada juga satu pusat pertahanan yang kuat dan tidak pernah dapat dikuasai oleh penjajah yaitu di Uli Poru Amarima.

Selanjutnya guna memudahkan kompeni dalam politik perdagangan dan pengawasan, maka sejak masa Portugis, telah dimulai suatu kebijaksanaan untuk menurunkan penduduk dari pemukiman awal dipegunungan, ke tempat-tempat pemukiman baru di daerah pantai.[7] Proses pemindahan ini dicatat di zaman penjajahan Belanda atau VOC, membawa pula perubahan-perubahan yang luas dan penting dalam susunan masyarakat. Struktur masyarakat yang berpusat pada hena dan aman, kemudian menjadi masyarakat negeri Porto di pantai. Cooley, dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa, proses perpindahan itulah yang menyebabkan terbentuknya negeri-negeri di pesisir pantai yang terjadi antara tahun 1480-1660.[8] Ketika negeri terbentuk maka istilah hena dan aman tidak digunakan lagi dan selanjutnya dipakai istilah matarumah (untuk marga dalam keturunan genealogis), soa (persekutuan dari beberapa matarumah yang bukan lagi persekutuan genealogis tetapi persekutuan teritorial) dan negeri (gabungan beberapa soa dalam wilayah tertentu).

Mengenai perpindahan penduduk Lease dari gunung ke tepi pantai di Saparua, Maryam Lestaluhu, dalam buku hasil penelitiannya mengatakan bahwa, nanti setelah jatuhnya Kapahaha dalam tahun1645, Gubernur Demmer mulai mengarahkan perhatiannya ke Iha (kerajaan Iha).[9] Dalam tahun 1647 setelah pergolakan di jazirah Hitu (pulau Ambon) dapat diatasi, Gubernur Demmer menginstruksikan kepada penguasa Iha supaya rakyatnya disuruh turun berdiam di tepi pantai. Memang kapan persisnya pembentukan negeri Porto tidak mudah untuk diketahui, tetapi dengan mengacu pada beberapa sumber di atas, dapat diperkirakan bahwa perpindahan penduduk Porto dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai (negeri Porto sekarang) terjadi menjelang abad ke-17 (kurang lebih 300 tahun yang lalu). Perpindahan ini terjadi atas keinginan dan kemauan VOC yang adalah alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, maka arus perpindahan itu juga tidak terjadi secara serentak tetapi bertahap karena ada penduduk yang tidak mau turun dan tetap bertahan (mempertahankan kekuasaannya) di pegunungan atau negeri lama.

Bagi masyarakat Porto, perpindahan penduduk dari pegunungan ke pemukiman baru di tepi pantai terjadi dalam dua tahap yang disebut Uku Toru dan Uku Rima. Uku Toru adalah kelompok tiga yang turun lebih dulu ke negeri di pantai yaitu : Nanlohy, Sahertian dan Polnaya sedangkan, Uku Rima adalah kelompok lima yang turun kemudian, yaitu : Latuihamallo, Tetelepta, Wattimury, Berhitu dan Aponno.[10] Walaupun demikian, masih ada yang tetap bertahan di hutan atau pegunungan dan tidak ikut dalam arus perpindahan itu, yaitu Talakua yang tidak bersedia untuk menyerah kepada Belanda. Karena itu Talakua diberi gelar raja utang atau Namasina. Sedangkan di pemukiman baru, pemerintah kolonial Belanda mengangkat Nanlohy menjadi raja dinegeri yang baru, dan diberi gelar Raja pantai atau Nikisina. Sejak itulah negeri yang baru itu diberi nama Poruto (dari Poru atau Amaporuto) dan kemudian berubah menjadi Porto. Porto disebut juga Sama Suru Amalatu Poru Amarima.[11] Nama ini mengingatkan masyarakat negeri Porto tentang sejarah pembentukan negeri sejak bermukim di pegunungan atau negeri lama, sampai menempati wilayah pemukiman baru di tepi pantai sampai sekarang.

sumber : http://sopamahu-tuhusula.blogspot.com