Posts from the ‘sejarah’ Category

Asal Mula Nama Maluku

Maluku memiliki nama asli “Jazirah al-Mulk” yang artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’.

Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.

Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.

Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.

Iklan

Pela Negeri Latuhalat dan Negeri Alang

Pela diantara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang , ini satu pela yang tertua diseluruh Maluku ; sebab pela ini terjadi sebelum orang2 Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; selagi Maluku ada dibawah keperintahan Hindu2.

Pada satu ketika ada seorang anak keturunan Bangsawan dari Negeri Alang , yang bernama Huwae Lili Tupa berjalan dengan orang pengikutnya berburu atau menyumpit burung dan bertamasyah di sekitar pulau Ambon.

Tiba-tiba anak Bangsawan Alang itu sampai ke Latuhalat , dan berjalan dipesisir pantai Malulang ; pada ketika itu anak Bangsawan Alang atau Huwae Lili Tupa ini , melihat ada seorang anak gadis yang cantik lagi elok parasnya ; sehingga anak Bangsawan ini menaruh kecintaan terhadap anak gadis tersebut.

Sesudah anak Bangsawan ini pulang ( kembali ke Alang ) maka ia disambut oleh ibu dan bapaknya sambil menanya apa hasilnya dalam perburuhannya dan apa yang ia dapat dalam perjalanannya itu. Maka anak Bangsawan itu , memberitahukan kepada ibu dan bapanya ; bahwa ia telah melihat seorang anak gadis yang cantik dan elok parasnya : di negeri Latuhalat sambil ia bermohon ; supaya ibu dan bapanya mau datang ke Latuhalat , meminangkan anak gadis itu untuk menjadi istrinya yang chats.

Ketika ibu dan bapak anak Bangsawan itu , mendengar permintaan anaknya mereka , maka ibu dan bapak bersetujuh untuk datang ke Latuhalat mintah anak gadis itu untuk menjadi isteri bagi anaknya. Tidak lama lagi ibu dan bapaknya menghimpunkan segala segala kaum keluarganya serta orang2 Bangsawan Alang sambil memberi tahuka maksud dan tujuhan dari anak tersebut bagi mereka ; setelah kaum keluarga dan Bangsawan -bangsawan Alang mendengar maksud dan tujuhan dari anak itu maka mereka bersetujuh dengan maksud dari anak itu.

Dengan tidak lama lagi , maka datanglah ibu dan bapanya dengan beberapa orang2 Bangsawan Alang untuk bertemu dengan orang tua dari anak gadis itu ; setelah kabar ini di dengar oleh orang tuanya anak gadis itu , maka sebentar juga mereka memanggil orang Bangsawan Latuhalat berkumpul dirumah anak gadis itu untuk menantikan tamu Agung itu. Setelah orang tua dari anak Bangsawan dan orang2 Bangsawan Alang tibah di Malulang dirumah anak gadis itu , maka mereka bersalam-salaman satu dengan yang lain , sebagai Adat Istiadat yang dipakai di Maluku ; sesudah itu tamu Agung tersebut , disalahkan masuk ; seraya diberi tempat duduk bagi masing-masing tetamunya.

Sesudah mereka duduk . maka mereka diberi keluasan untuk memberitahukan maksud dan tujuhan ; kedatangan mereka itu , untuk didengan oleh orang tua dari anak gadis itu ,beserta orang2 Bangsawan Latuhalat tersebut. Maka mulailah mereka sampai maksud dan tujuhan mereka bahwa kedatangan mereka itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk meminang anak gadis itu , untuk menjadi isteri dari ananknya yang bernama HUWAE LILI TUPA ; setelah sudah ibu dan bapa anak gadis iru dengar ; beserta Bangsawan 2 yang ada disitu ; maka mereka mengambulkan permintaan ibu , bapa dan orang2 Bangsawan Alang tersebut . Sesudahnya mereka menerima permintah dari orang tua2 dan orang2 Bangsawan Alang itu , maka ditentukan hari perkawinan kedua anak itu yang akan dilangsungnya.

Sesudah selesai segala perundingannya diantara orang2 tua2 dam orang Bangsawan2 dari kedua belah fihak , maka orang tua dan orang2 Bangsawan Alang itu , bermohon untuk mereka undurkan diri dan kembali ke Alang ;permintaan ini diterima oleh orang tua anak gadis tersebut berserta orang2 Bangsawan yang hadir disitu.

Sepeninggalnya tamu2 agung itu , maka moyang Sakti Tawan mencurahkan perasahannya bagi orang tua anak gadis itu dan orang2 yang berada disitu ; bahwa moyang Sakti Tawan enggang hatinya untuk berikan anak gadis itu untuk menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang. Serta didengar oleh orang tua dari anak gadis itu serta orang2 Bangsawan tersebut , maka mereka merasa malu kepada orang tua dan Bangsawan2 Alang ; lalu moyang Sakti Tawan menyampaikan maksudnya : “Bahwa ia bermaksud untuk buat satu patung ( boneka ) yang sepadam dan serupa dengan anak gadis itu ; untuk diserahkan menjadi isteri dari anak Bangsawan Alang ( Huwae Llili Tupa ) tersebut “:

Sesudah mereka mendengar maksud dari moyang Sakti Tawan ini , maka mereka bersetujuh; setelah moyang Skati Tawan mendengar yang merea bersetujuh dengan maksudya maka moyang Sakti Tawan telah memberi perintah kepada hamba2nya pergi tebang sebatang pohon sagu yang ada didalam dusun Waaipuang ; lalu belah batang sagu itu dan ambil isi batang sagu itu yang di bilang Meor ; bawah datang kepada moyang Sakti Tawan.

Ketika hamba2nya membawa isi batang sagu itu datang dan diserahkan kepada moyang Sakti Tawan , maka mulailah moyang Sakti Tawan ukirkan hati batang sagu itu sehingga serupa dan sepadam dengan anak gadis tersebut. Patung ( boneka ) itu bisa berjalan bisa duduk minim rokok bisa bikin muka tersenyum ; tetapi tidah bisa bicara.

Sekarang moyang Sakti Tawan memerintah hamba2nya lagi untuk pergi potong kayu2 untuk dibuat satu Arangbai supaya manakala datangnya hari yang sudah ditentukan untuk anak gadis itu harus keluar dari Latuhalat datang ke Alang , maka Patung ( boneka ) itu harus naik di Arangbai yang dibuat oleh moyang Sakti Tawan itu.Sesudah Patung dan Arangbai itu sudah selesai . maka ada salah seorang bertanya moyang Sakti Tawan begini: ” Apa Upu punya Arangbai itu sudah betul ?lalu moyang Sakti Tawan periksa Arangbai itu lagi ; maka moyang Sakti Tawan lihat ada kurang satu lolang dinunas bahagian belakang : terus moyang Sakti Tawan bilang buat itu orang , bahwa mulai dari hari ini Upu dan turunan Upu bernama SOPLANTILA yang artinya Mata Suanggi ” :.

Setelah tibah waktu dan harinya untuk datang dalam nikahnya ; maka datanglah orang tua dari anak Bangsawan Alang yang diiring oleh berapa orang Bangsawan datang dengan Arangbai ke Latuhalat dan singga di pelabuhan Malulang tempat kediaman anak gadis itu.

Sesudah mereka sampai di Malulang , maka mereka disambut oleh orang tua daru gadis tersebut , dengan beberapa orang Bangsawan juga ; dengan riu rendah sebagai kebiasan ; menurut ada istiadat dari tiap2 negeri di Maluku. Sesudah itu , Arangbai yang disediah untuk anak gadis itupun telah telah tersediah dengan orang2 yang harus menghentar anak gadis itu datang ke Alang ; dan sebelum mereka bermohon untuk kembali ke Alang , maka moyang Sakti Tawan telah menungjuk seorang dayang yang kena di percayai duduk bersama-sama dengan gadis itu didalam Ten dari Arangbai itu ; sambil moyang Sakti Tawan telah memberi perintah bagu dayang itu begini :” Bahwa jikalau mereka sudah sampai di tanjung yang bernama Hattu dan lihat kalau patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam laut , maka dayang itu harus angkat dari pantat Patung itu buang kedalam air jangan tinggal sampai datang ke Alang”: .

Kebetulan sesampai mereka di tanjung Nama Hattu itu , maka dengan segra Patung ( boneka ) itu tunduk mukanya kedalam air laut ; pada ketika itu juga dayang itu mengerjakanperintah dari moyang Sakti Tawan itu , terus Patung ( boneka ) itu jatuh kedalam laut dan tenggelam ; lalu dayang itu berteriak dengan suara yang keras dan terkejut , bahwa tuan Puteri sudah tenggelam ; ketika anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) ini mendengar yang isterinya telah tenggelam , maka dengan tidak ragu-ragu lagi ia terjun dirinya untuk menolong isterinya itu.
Tetapi sayang dibalik sayang ; bahwa ia tidak mendapat isterinya yang tenggelamg itu ; melainkan tubuh anak Bangsawan ( HUWAE LILI TUPA ) itu telah berobah menjadi Buaya.

Sedang pada waktu itu yag sama itu juga , anak gadis yang bersembunyikan dirinya diatas solder di Malulangpun tubuhnya berobah menjadi Buaya tembaga yang ada sampai pada saat ini didalam Mata Rumah yang sekarang pakai Fam Lekatompessy.

Sesudah tiga hari lamanya baharu Patung ( boneka ) itu terdampar dimuka pelabuhan LELIBOY . Ketika orang Leliboy mendapat Patung ( boneka ) itu ; lalu orang Leliboy bilang begini :” Bahwa Alang mata buta kawin MEOR disangka orang.

Dengan keadaan yang terjadi ini , maka datanglah orang tua orang2 Bangsawan Alang ke Latuhalat untuk mengangkat satu perjanjian persaudaraan yang dibilang Pela antara NEGERI LATUHALAT dan NEGERI ALANG.

Dengan perjanjian-perjanjian seperti berikut:” Segala anak2 cucu dari Alang dan Latuhalat mau masuk dan keluar tidak boleh kawin mengawin satu dengan yang lain ; siapa anak2cucu yang melanggar perjanjian ini , ia akan mati ; jikalau anak laki2 yang langgar perjanjian ini , mau dari Latuhalat maupun dari Alang dan dia harus mati.
Pela antara Alang dan Latuhalat ini terjadi sebelum Lekatompessy memakai nama Lekatompessy melainkan ada memakai nama Latumeten ; sebab ini ada adik yang bungsu dari moyang Sakti Tawan , Pela ini terjadi kira2 pada tahun 1356 sebelum Portogal dan Belanda menduduki Maluku ; oleh sebab itu dibilang Latumeten tukang dan Lekatompessy pariaman . (willy)

SEJARAH NEGERI TITIWAKA

Tita = perintah, Waka = Jaga Titawaka = Perintah jaga.
Bertolak dari perkataan ini, maka jelas dapatlah kami ceritakan sekedar peristiwa yang terjadi, sehingga menimbulkan bukti yang ada (negeri Itawaka) sebagai satu kenyataan dari pada kelanjutan sejarah, yang pernah berlaku sejak datuk-datuk kita di saman purbakala.

Negeri Titawaka dalam perkataan aslinya, telah mendapat perubahan sebutan, sehingga orang tidak lagi, bahkan kurang sama sekali, untuk memperhatikan dan mengembangkan sejarah yang asli. Perubahan sebutan ini bukan baru kemarin terjadi, tetapi sudah ratusan tahun dan perubahan ini, secara sengaja dilakukan sebagai satu-satunya siasat penjajah, untuk menghilangkan pengaruh dari anak-anak bumi putera.

Negeri Titawaka yang sekarang disebut Itawaka, terletak di ujung bagian utara pulau Saparua berdekatan dengan negeri Nolloth.

Adapun kisah sejarah sehinga menimbulkan negeri ini, di mulai dari sebatang air yang kecil dipinggir negeri tersebut, yang mana Air Potang2. Tetapi nama air ini bukan demikian, melainkan sesuai dengan aslinya, yaitu Air Potang2 karena pada air ini ada sebuah batu pangasah parang dari Kapitan Iha.

Alkisah bahwa, jazirah Hatawano berdiri sebuah kerjaan yang ternama yaitu Iha. Kerajaan ini memerintahkan negeri-negeri disitu termasuk negeri Tuhaha, dan tentu bagi negeri yang tunduk dibawah perintahnya, harus turut segala persyaratan yang diberikan, apalagi di saat-saat berkuasanya kerajaan ini.

Penjajah asing sudah dan mulai menanamkan pengaruhnya. Sedangkan sikap dan sifat-sifat hidup datuk-datuk kita. Bukan hanya berlaku di Iha, tapi pada umumnya bagi seluruh penduduk Maluku memiliki sifat dan sikap hidup yang sama, yang kemudian menjadi dasar pertentangan yang hebat, antara datuk-datuk kita dengan bangsa-bangsa kulit putih ini. Ditambah pula bahwa bangsa-bangsa penjajah ini, memakai politik pecah belah sebagai pintu masuk, untuk menanamkan maksud dan keinginan jahatnya, yaitu ingin menundukan semua kuasa yang ada pada waktu itu de Maluku, untuk hanya tunduk dibawah suatu kuasa yaitu perintah Belanda.

Bagi datuk-datuk kita yang mempunyai sifat kesatria, artinya tidak mau tunduk pada siapapun, bagi mereka benar-benar merupakan satu tentangan hebat.

Adanya perbedaan-perbedaan paham yang tidak diselasaikan oleh kedua belah pihak, mengakibatkan timbulnja peperangan-peperangan yang tentu membawa banyak penghorbanan.

Peperangan-peperangan mana tentu terjadi antara datuk-datuk kita dengan orang kulit putih, dan juga dengan suku bangsa kami sendiri yang ingin menjadi penghimat. Satu peperangan yang benar hebat, sehingga mendatangkan banyak penghorbanan, adalah Kerajaan Iha disaat itu, dengan saudara-saudara kita dari negeri Nolloth. Apa asalnya sehingga mengakibatkan permusuhan yang begitu hebat, tidak kami di tunjukan dengan nyata. Tetapi menurut penjelasan tua adat kami bahwa negeri yang mula-mula menempati jazirah adalah ini Iha dan Tuhaha. Dengan penjelasan ini berarti kami dapat menarik kesimpulan bahwa negeri Nolloth tentu terjadi kemudian. Artinya terjadinya imigrasi penduduk Seram ke pulau-pulau lain, dan ditambah pula masuknya pengaruh-pengaruh barat, yang turut mengambil bagian didalam kesempatan ini, untuk lebih mempengaruhi penduduk asli agar dapat menanamkan kuasanya.

Jadi didalam soal ini tidak dapat kami menyangka bahwa siapa sebenarnya yang membuka pintu kepeda Belanda untuk turut menuntuhkan kekuasaan Kerajaan Iha. Tetapi bagi kerajaan Iha sendiri mungkin asa faktor-faktor negatif dari negeri-negeri yang lain. Contoh yang dapat kami nyatakan sesuai dengan perkembangan sejarah, seperti negeri saudara kita (Tuhaha) yang membuka jalan kepada Belanda, untuk menyuruh menembak benteng Kerjaan Iha, dengan memakai peluru tercampur tulang babi, sehingga kota benteng in hancur lebur hingga tentara kerajaan Belanda dapat kemudian mengalahkan seluruhnya.

Mungkin faktor-faktor lain yang sama dengan diatas ada juga pada negeri Nolloth, sehingga dengan faktor-faktor ini membawa bibit kebencian yang cukup kuat bagi kerajaan Iha. Apalagi sebagai orang-orang asli mereka (kerajaan Iha) tidak senang hak milik mereka jatuh ke tangan para pendatang, sehingga dengan persoalan-persoalan ini menibatkan pembunuhan-pembunuhan ini bukan hanya satu kali terjadi, tetapi sering dan terus menerus sehingga memusingkan kepala pemerintahan Blanda. Sedangkan pemerintah Belanda didalam cara politiknya, mereka berusaha untuk menarik perhatian penduduk, guna menanamkan seluruh kepercayaan rakyat kepada mereka. Maka setiap ada persoalan mereka berusaha menatasinya, sehingga bagi masyarakat Maluku mereka dapat dianggap sebagai orang baik-baik.

Disamping itu satu-satunya cara dari politik Blanda untuk masuk dan menghancurkan seluruh benteng pertahanan rakyat Maluku di bidang apapun yaitu melalui agama. Artinya dengan jalan agama maka datuk-datuk kita dapat melihat den mengatahui, syarat-syarat hidup orang percaya untuk datang mendapatkan Tuhan Allah, karena agama melarang jangan membunuh, jangan mencuri d.l.l.

Dihadapan datuk-datuk, Belanda seolah-olah menujukan kejujuran, tetapi dibelakan arus politiknya hidup mereka laksana kuburan berlabur putih. Sifat-sifat inilah yang sangat ditentang oleh datuk-datuk kita, sehingga siapa diantara masyarakat kita yang termasuk jalur ini, dianggap sebagai penghianat, dan kemudian mengakibatkan timbulnya peperangan dan pembunuhan.

Seperti yang terjadi sehingga berdirinya negeri Titawaka, perkelahian dan pembunuhan makin menghebat, sedangkan usaha pemerintah Belanda untuk mengatasinya selalu sia-sia.

Didalam usaha mencegah peperangan ini serta pembunuhan oleh pemerintah Belanda telah diusahakan bantuan dimana-mana, dengan jalan meminta bantuan ke negeri Paperu, sehingga sepasukan pemuda yang bersenjata datang ke Nolloth sekarang ada sebuah perigi yang bernama Lawata.

Pemerintah Belanda meminta bantuan dari negeri Tuhaha. Dengan melihat sikap pemerintah Belanda maka kerajaan Iha makin mengganas, setiap perlawanan tidak dapat diatasi maka akibatnya pemerintah Belanda memeriksa tapal batas bahwa tempat dimana terjadi pembunuhan adalah termasuk tapal batasnya negeri Ullath.

Ingat perjanjian tiga datuk untuk menentukan TIGA TAPAL BATAS di dusun Sole negeri Italili.

Untuk memenangkan persoalan ini, maka pemerintah Belanda merendahkan diri dengan menunjukan rasa persahabatan terhadap siapapun.

Dengan jalan ini pemerintah Belanda tentu berpura-pura tunduk kepada pemerintah Italili (moyang Pattibeilohy) supaja mohonkan sokongan bantuan pemerintah Italili untuk memberikan orang-orangnya guna membuat penjagaan tempat ini.

Oleh tua adat negeri Ullath diterangkan, bahwa pemerintah Belanda memeriksa tempat pembunuhan, dan ternyata tempat ini adalah petuan negeri Ullath. Berarti perjanjian tiga datuk di Italili untuk menentukan perbatasan ketiga negeri IHA – TUHAHA – ULLATH, bukan hanya berbatas pantai sebelah timur dan di tengah hutan batas dengan Tuhan dan Iha dan tentu dipantai sebelah juga berbatas dengan Iha, dimana terdapat negeri Itawaka sekarang.

Tetapi segala perbatasan ini menjadi rusak sewaktu hancurnya Iha dan atas tindakannya pemerintah Belanda sehingga tanah-tanah miliknya diberikan kepada kampung-kampung pendatang dan satu hal yang penting yaitu: seperdua dari tanah petuanan negeri Ullath sekarang, maka hanyalah Ullath berbatas dengan Tuhaha dan Itawaka sedangkan disebalah lain Itawaka berbatas dengan Nolloth dan Iha, mengapa??? Sebab sebagian dari milik negeri Ullath sudah diberikan menjadi milik negeri Itawaka sekarang.

Jadi seandianya tidak ada negeri Itawaka, maka tentu sampai kini dan selamanya asal matahari masih ada, memang negeri Ullath tetap berbatas dengan Iha dan Tuhaha, karena janji tiga datuk.

Sesudah pemerintah Belanda didalam perundingannya dengan Latu Italili moyang Pattibeilohy dan hasil perundingannya memuaskan, artinya negeri Ullath dapat de memberikan bantuan, untuk memberikan penjagaan pada tempat pembunuhan, maka tentu oleh Latu Italili terlebih dahulu harus membuat perindungan sendiri dengan rakyat, karena perpindahan ini bukanlah satu soal yang gampang. Sebab pergi mengadakan penjagaan pada tempat pembunuhan, berarti mereka ini juga siap untuk selalu berperang, kalau tentara Kerajaan Iha turun menyerang, sebab mereka ini ditempatkan pada garis depan sebagai pasukan pengamanan.

Juga ada faktor-faktor lain yang agak menyulitkan perpindahan ini, sebab pergi dengan tidak kembali (pergi untuk menetap), di lain pihak persekutuan hidupnya datuk-datuk kita disaat itu sangat erat, sehingga sukar sekali orang pergi meninggalkan kampung halamananya dan terpisah dari kaum keluarganya untuk selama-lamanya.

Tetapi moyang Pattibeilohy adalah satu pemerintah yang sangat bijaksana, sehingga jikalau Pattibeilohy hanya menurut kekuasaannya, maka dapat menimbulkan kecacauan dipihak rakyat karena orang-orang tidak mau pergi.

Untuk menarik hati mereka, maka ditengah-tengah 24 kepala keluarga disaat itu, lalu Pattibeilohy menunjuk seorang diantara keluarganya sendiri sebagai contoh dan Beliau inilah yang menjadi kepala rombongan untuk membawa mereka keluar dari negeri Italili ke tempat pembunuhan tadi. Tentu beliau yang telah ditunjuk oleh pemerintah Italili ini, tidak dapat bergerak sendiri apabila tidak ada orang lain yang membantunya, sebab itu bersama dengannya juga dua kepala keluarga dan orang-orangnya yang mau menghormati perintah raja, untuk turut menjadi rombongan Titawaka.

Diantara dua kepala keluarga tadi yaitu keluarga Litamahuputih (Litamaputia), sebab Litamahuputih ini adalah malesi dari Kapitan Lusikooy. Jadi berarti bahwa sewaktu berpindahan in maka Litamahuputih ditugaskan sebagai kapitan untuk mengawasi dan menjaga keselamatan rombongan.

Pemerintah Italili moyang Pattibeilohy sendiri telah mengatahui, bahwa kepergian mereka untuk tidak kembali lagi. Maka demi untuk menjaga kemungkinan dibelakang hari, supaya jangan sampai terjadi perang diantara orang saudara sendiri, maka Pattibeilohy yang menjadi kepala rombongan disaat itu namanya diganti menjadi PATTIPELAYA = Pattipeilohy berlayar atau Pattipeilohy yang telah keluar.

Lalu berangkat mereka menurut perintah yang harus dijalankan untuk membikin pos ditempat pembunuhan. Perintah untuk jaga dalam bahasa aslinya disebut: TITAWAKA.

Rombongan Titawaka ini dikepalai oleh moyang Pattipelaya kemudian pergi untuk menjaga keamanan pada tempat pembunuhan di kaki air potong-potong, yang dilakukan oleh orang-orang Iha terhadap siapapun yang dianggap mengkhianati mereka. Selah rombongan Titawaka ini tiba pada tempatnya, tentu mereka tidak tinggal diam melainkan menjalankan perintah dari pemerintah Italili, yakni memperkuat pos-pos penjagaan supaya jangan lagi terjadi pembunuhan. Tentu oleh orang-orang negeri Iha, bagi mereka ini adalah suatu kegagalan sebab yang datang menempati tempat pembunuhan ini bukanlah orang lain melainkan saudara sendiri.

Disini dapat kita lihat dan tarik kesimpulan, sebab sewaktu-waktu saudara-saudara kita dari Iha luas dapat membuka batas-batas pergerakkannya, maka Belanda lebih luas dapat membuku daerah politiknya yaitu: mendatangkan bantuan dari segala pihak oleh anak-anak bangsa sendiri untuk lebih memperkecil daerah kekuasaan kerajaan Iha.

Setelah saudara-saudara kita dari Iha agak lumpuh didalam daya geraknya, sebab Belanda memakai tenaga dan kekuatan bangsa sendiri sebagai benteng bagi mereka, maka dibelakang bentang inilah Belanda dapat melumpuhkan semua kekuasaan bangsa kita satu demi satu. Sebab anak-anak kita didalam ketidak sadarnya, mereka menyangka telah melakukan satu tugas suci, tetapi sebaliknya mereka tidak tahu bahwa didalam soal ini adalah saudara makan saudara sendiri. Karena sewaktu tempat pembunuhan telah mendapat pengawasan tekat, maka saudara-saudara kami dari Iha tidak dapat lagi bergerak.

Disamping Belanda memakai tenaga-tenaga dari negeri Paperu untuk beroperasi. Negeri Paperu dibawa pimpinan dua Kapitannya yang ternama kakak beradik Kapitan Sopamena: Kamalau dan Taratara, sehingga oleh kekuatannya bangsa sendiri kerajaan Iha menyerah kalah.

Sekarang dapat kita ketahui Belanda punya tipu muslihat, artinya sesudah segala keperkasaan datuk-datuk kita ditundukan dengan jalan bujuk atau ditindas maka dengan sendirinya, kendaraan politik Belanda dapat berjalan dengan luas.

Melalui agama dan pendidikan bangsa kita diberi pelajaran akibatnya, yang mau masuk Kristen hilang adat hilang bahasa, sehingga dalam jangka waktu yang begitu panjang kami menjadi alat bagi Belanda.

Belanda Iha hancur lebur, Belanda maju tanpa mundur. Disini Kapitan Iha ditewaskan, segala pertahanannya hancur berantakan dan sisa dari pada rakyatnya yang tidak mau tunduk pada permerintah kolonial Belanda bersama-sama dengan Kakak yang tua (Kasim), lalu lari meninggalkan Iha dipulau Saparua, menuju Seram di negeri Luhu karena satu asal mereka juga Nunusaku sejak dahulu.

Menurut tuturan dari satu orang di negeri Iha, yang sekarang menurut panggilan umum Iha-Luhu, bahwa sejak hancurnya kerajaan Iha, maka mereka yang mau tunduk kepada Belanda masuk Kristen. Sedangkan sisa sepuluh keluarga yang tidak tunduk, lalu lari dan mengambil tempat di negeri Iha yang berdekatan dengan Luhu sekarang.

Sesudah kerajaan Iha ditundukan dengan kekerasan dan negeri-negeri lainnya diturunkan ke pesisir pantai dengan bujukan berarti setengah dari perjalanan politik Belanda hampir tercapai.

Untuk menghilangkan segala bekas, yang dapat membuktikan semua kekejaman Belanda tadi, maka segala kebenaran diputar balikkan, untuk dihilangkan dari permukaan bumi sejarah seperti yang terbukti: PATTIPELAYA dirubah menjadi PAPILAYA. Titawaka menjadi Itawaka. Air Potong-potong menjadi Air Potang-potang.

Sisa dari rakyat Iha yang mau masuk Kristen disebut Iha Mau, tetapi diganti oleh Belanda menjadi Ihamahu. Dan Iha yang berpindah dari kerajaan Iha Saparua ke Seram dekat Luhu disebut Iha-Luhu.

Kesemuanya ini adalah hasil usaha bujukan penjajah untuk lebih memikat hati masyarakat dan bangsa kita, sehingga 350 tahun lamanya kita menjadi tenaga bayaran kerajaan Belanda. Tenaga-tenaga bangsa kita dijadikan kuda tunggang dan benteng bagi Belanda dimedan pertempuran, supaya dibelakang benteng ini Belanda dan berlindung dan terpelihara, diwaktu peperangan banyak kepala dan jiwa anak bangsa kita menjadi tebusan, yang hidup disiksa dalam penjara akibatnya kita dibawa terpisah jauh dari Ibu-Bapak, Sanak dan Saudara.

SEJARAH PELA PORTO DAN ITAWAKA

Pada jaman dahulu negeri SIRISORI berdiam di gunung AMAPELE. Sedangkan batas negeri PORTO berada pada daerah HATAWANO sampai pada TIOUW dan AIR PAPERU yang terletak di ujung negeri PAPERU.
Oleh karena begitu luasnya negeri PORTO yang pada pesisir gunung bertuliskan PANTAI HATAWANO maka rakyat yang terdiri dari yang terdiri dari 6 negeri dan di gabungkan menjadi satu yaitu negeri PORTO selalu di ganggu oleh orang-orang LANO (kaum perompak) maka demi keamanan ketuanan negeri PORTO oleh NANLOHY dari OPAL memrintahkan kedua kapitan yaitu LATUIHAMALLO dan WATTIMURY untuk mengusir negeri SIRISORI yang terletak di gunung AMAPELE.

Mengingat masyarakat negeri SIRISORI selalu bersengkongkol dengan para perompak (LANO) maka kedua kapitan tersebut bersama masyarakat PORTO memerangi masyarakat SIRISORI, namun masyarakat PORTO menunda peperangan tersebut dan atas perlindungan yang disetujui oleh Raja NANLOHY dari OPAL untuk meminta bantuan dari masyarakat ITAWAKA.
Selanjutnya kapitan LATUIHAMALLO di perintahkan pergi ke ITAWAKA menemui kapitan PAPILAYA namun kapitan PAPILAYA tidak berada di tempat, kemudian kapitan LATUIHAMALLO hanya berbicara dengan adik kapitan PAPILAYA.
setalah itu kapitan LATUIHAMALLO dengan pengawalnya kembali ke negeri PORTO, sementara masyarakat negeri PORTO berunding di pantai WASA tiba-tiba kapitan PAPILAYA telah memimpin masyarakat ITAWAK untuk membantu masyarakat PORTO guna memerangi negeri SIRISORI yang terletak di gunung SAMAPELA.

Selanjutnya mengingat keberhasilan dalam peperangan tersebut maka negeri PORTO memberikan jasa kepada negeri ITAWAKA yaitu sebuah ketuanan yang berada di wilayah pantai WASA sampai dengan perbatasan HATAWANO (TUHAHA). dan hingga pada tahun 80an masyarakat ITAWAKA masih berkebun di wilayah tersebtu.
Kemudian setelah beberapa tahunnegeri SIRISORI datang memohon kepada raja PORTO . Negeri SIRISORI merasa susah dan sengsara oleh karena pertuanan mereka sangat kecil , maka mereka mendatangi ra ja PORTO guna memohon satu tempat kemudian raja PORTO menyetujuinya untuk mereka berkebun di satu tempat yang di sebut dusun PIA

sehingga terjadi pela antara PORTO dengan ITAWAKA itu disebut PELA PERANG atau PELA DARAH.

Legenda Empat Kapitan

Daerah Nunusaku, dahulu kala merupakan pusat kegiatan pulau Seram, yang biasa juga disebut Nusa Ina. Penduduk pulau tersebut mulai tersebar ke tempat-tempat lain yang dipimpin oleh empat orang kapitan. Mereka berempat bermusyawarah untuk menyepakati tujuan arah pengembaraannya. Sasaran mereka yaitu akan menghilir sepanjang sungai Tala, sebab sungai ini memiliki banyak kekayaan.

Perbekalan dan persiapan dalam perjalanan disiapkan dengan cepat. Sebagaimana biasa, upacara adatpun dilakukan sebelum perjalanan dimulai, yaitu dengan jalan kaki ke negeri Watui.

Sesampai di negeri Watui, mereka mulai membuat sebuah rakit (gusepa) yang di buat dari batang dan bilah-bilah bambu. Rakit ini dipakai untuk menghilir sungai Tala. Sungai ini terkenal dengan keganasannya, airnya sangat deras dan terdapat banyak batu-batu besar di sepanjang alirannya.
Pelayaran pun dimulai dan sebagai pimpinannya adalah Kapitan Nunusaku, yang merupakan Kapitan besar turunan moyang Patola. Moyang inilah yang menjadi moyang dari mata rumah Wattimena Wael di Mahariki. Harta milik Kapitan Nunusaku dibawanya semua, tidak lupa pula seekor burung nuri atau burung kasturi raja. Selain itu juga dibawanya sebuah pinang putih yang diletakkan dalam tempat sirih pinang.

Di belakang kemudi duduk kapitan yang akan menjadi moyang dari mata rumah Wattimury. Di tengah rakit adalah kapitan yang akan menjadi moyang Nanlohy. Di belakang sebelah kanan duduk kapitan yang akan menjadi moyang Talakua. Untuk menjaga harta milik mereka ditunjuk Kapitan Nanlohy. Di dalam hukum adat, ia bertindak sebagai seorang Dati yang akan menentukan pembagian-pembagian, baik milik pribadi maupun milik bersama. Oleh sebab itu, maka semua harta milik dan pembekalan diletakkan di tengah rakit berdekatan dengan Kapitan Nanlohy.

Rakit melaju karena kekuatan air yang mengalir turun menuju Tala. Namun ketika tiba di tempat yang bernama Batu Pamali, rakit mereka kandas dan hampir terbaik. Kapitan Wattimena Wael terkejut dan berteriak kepada kapitan yang berada di dekatnya. “Talakuang!!” Yang artinya ”tikam tahan gusepa” Dan kapitan yang mendapat perintah tersebut dinamakan ”Talakua” yang kemudian menjadi moyang dari mata rumah Talakua di negeri Portho hingga sekaran.

Ketika rakit hampir berbalik, saat itu Kapitan Wattimena tengah menbuka tempat sirih pinagnya menjadi terjatuh. Pada saat yang sama burung nurinya pun terbang. Kejadian ini sangat mengecewakan kapitan yang langsung terucap menikrarkan sumpah hingga merupakan pantangan bagi mata rumah Wattimena Wael. Bunyi sumpah tersebut, bahwa turun temurun mata rumah Wattimena Wael dan para menantu tak boleh memelihara burung nuri dan memakan sirih pinang. Kemudian yang berada di sungai tersebut dinamakan Batu Pamali hingga sekarang.

Sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Sejarah Negeri Nolloth

Nolot adalah sebuah Negeri/desa di Maluku yang terletak di jasirah Hatawano sebelah utara dari pulau Saparua.Berbatasan dengan negeri Itawaka di utara dan negeri Iha di selatan, dengan luas daerahnya 15 km dan jumlah penduduk sebesar 2655 orang yang terdiri dari 516 rumah tangga.

Datuk-datuk yang mendirikan negeri (desa ) Nolot berasal dari Ceram Barat di daerah AIHIOLO dan mereka bermukin ditempat yang bernama Lumapalatale.Pada waktu itu negeri Aihiolo sedang bemusuhan dan berperan dengan negeri Nunutetu, sehingga keamanan sangat terancam, akibatnya mereka memutuskan untuk meninggalkan negeri di Ceram dan menuju ke pulau Saparua.Menyusuri sungai Tala mereka tiba di pantai dan seladjutnya menyeberang selat Ceram dan tiba di pantai HATAWANO.Dari sana mereka naik ke gunung NOLLO.

Nollo artinya lihat dari jauh.

Aman Nollo terdiri dari dua buah Soa atau Uku ( kampong ) dengan marga atau matarumah pokok yaitu:

* UKU LIMA: terdiri dari matarumah Huliselan, Malessy, Selanno, Matatula dan Pasalbessy.

* UKU LUA: terdiri dari matarumah Luhulima dan Metekohy.

Selain matarumah-matarumah pokok tersebut diatas, ada beberapa lagi yang tidak masuk dalam Uku Lima dan Uku Lua yaitu Silahooy, Patty, Sipasulta, Tousalwa dan Ihalauw.Selama berada di gunung Nollo, mereka diperintah oleh Raja LATUSOPACUA.Pada tahun 1653 orang-oarang Nolot berperang dengan Belanda dipimpin Raja Toulapia dan sebahagian menyingkir kembali ke gunung Nollo.Setela Raja Toulapia dapat ditangkap belanda dan dibunuh dengan cara yang kejam.Orang-oarang Nolot dipaksa turun kembali ke pantai dan mereka memuluk Agama Kristen setelah dibabtis secara masalpada tanggal 8 september 1653.Setiap tahun hingga sekarang tanggal tersebut selalu deperingati sebagai kenangan sejarah.Untuk melindungi diri dari serangan penduduk HATAWANO khususnya orang-orang Nolot, maka pada tahun 1655 belanda mendirikan sebuah benteng kecil ditepi pantai batu karang yang disebut dengan nama: “HET HUIS TE VELSEN” pada tahun 1671, benteng tersebut runtuh karena gempa bumi besar, dan sekarang hanya tinggal bekas-bekas pondasinya.Desa Nolot sekarang terdiri dari 7 SOA asli ditambah satu SOA bebas ( pendatang ).Sesudah Raja Toulapia dibunuh belanda, maka yang menggantinya adalah Raja LATUPULUKU.LATU dari matarumah Pasalbessy.

Negeri Nolot mempunyai ikatan “PELA” dengan negeri HARUKU dipulau HARUKU.

sumber : http://dolfis.wordpress.com/

Sejarah Terbentuknya Pela Amahai Ihamahu

TERJADINYA hubungan PelaGandong antara Negeri Noraito Ama Patti sebutan untuk Negeri Ihamahu di Saparua dan Negeri Lou Nusa Maatita sebutan untuk Negeri Amahai di Pulau Seram, berawal dari pembangunan gedung Gereja di Negeri Ihamahu. Ihamahu mengalami kesulitan dalam membangun Gereja karena tidak tersedianya kayu besi di wilayahnya.

Utusan demi utusan di kirim Negeri Ihamahu untuk mencari ramuan kayu besi tersebut. Setelah lama berjalan akhirnya diterima berita bahwa di petuanan Negeri Souhoku terdapat cukup banyak pohon kayu besi.

Terbukalalah jalan bagi Negeri Ihamahu untuk mendapatkan kayu besi guna pembangunan Gereja. Kebetulan pada waktu itu Upu Latu Souhoku adalah Alfaris Tamaela. Dia juga dianggap bagian dari rakyat Negeri Ihamahu, karena menikah dengan Jujaro Lilipaly dari Ihamahu.

Upu Patti Ihamahu pada waktu itu, Wilhelem Lilipaly pada Jumat 10 Januari 1890, mengirim dua orang Kepala Soa dan satu orang Tuagama untuk membawa surat kepada Upu Latu dan rakyat Souhoku meminta bantuannya.

Ternyata dipetuanan Negeri Ihamahu sudah tidak terdapat lagi pohon kayu besi yang baik untuk dibuat ramuan kayu besi. Maka Upu Latu Souhoku meminta bantuan kepada Upu Patti Negeri Amahai Wilhelem Halatu.

Senin 13 Januari 1890, utusan Ihamahu dengan diantarUpu Latu Souhoku menghadapa Upu Patti Amahai dan diterima secara adat oleh Upu Patti Amahai dengan stafnya dengan suka cita.

Setelah mengutarakan niat mereka, Upu Patti Amahai menunjuk hutan Sersa Muoni sebagai tempat bagi utusan Negeri Ihamahu untukmengambil kayu besi.

Kamis 10 April 1890, Wilhelem Lilipalyselaku Upu Patti Ihamahu bersama empat orang Kepala Soa dan tiga orang Tuagama dan 80 orang laki-laki dewasa membawa perbekalan tiba di Amahai disambut dengan suka cita.

Jumat 11 April 1890 di Baileo Negeri Lou Nusa Maatita dilakukan musyawarah antar dua negeri. Pemerintah Negeri Amahai dengan suka cita menyambut pemerintah dan rakyat Ihamahu dengan ikatan Pela.

Pada hari Minggu 13 April 1890 dengan dihadiri masyarakat Amahai dan utusan masyarakyat Ihamahu. Dikukuhkanlah ikatan Pela Lounusa Maatita – Noraito Ama Patti yakni Pela Tampa Siri atau yang dikenal dengan nama Pela Gereja.

Hubungan Pela ini menjadi lebih nyata, terjadi pada saat meramu kayu besi untuk ketiga kalinya yakni pada tanggal 24 September 1896, dimana banyak sekali orang Ihamahu yang datang untuk meramu kayu besi disambut dengan suka cita oleh masyarakat Amahai selayaknya hidup orang ber-Pela.

27 September 1899, Wilhelem Lilipaly dan 80 ornga laki-laki dari Negeri Ihamahu telah berada di Amahai dan telah mengerjakan kayu besi untuk dibawa ke Ihamahu. Namun malang tidak dapat ditolak, pada 30 September 1899, pukul 01.42 Wit, terjadi tanah goyang besar yang memporak porandakan negeri dikawasan tersebut, dan juga merengut nyawa 60 orang Ihamahu termasuk Wilhelem Lilipaly Upu Patti Ihamahu. Hal ini menyebabkan terjadinya saling tuding menuding antara orang Amahai dan Ihamahu, hal ini menyebabkan hubungan Pela antara Amahai dan Ihamahu menjadi longgar.

Setelah Johanes Lilipaly diangkat sebagai Upu Patti Ihamahu 1923, bersama rekannya Abraham Halatu Upu Latu Amahai dengan dibekali semangat orang ber-Pela, dimana hubungan yang telah diikat oleh orang tua-tua negeri itu tidak boleh dikotori tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Maka sejarah tersebut ditetapkan sebagai Pasawari Panas Pela Negeri Amahai Ihamahu, bertempat di Negeri Ihamahu 24 Oktober 1924.
25 Oktober 1924 malam hari di Baileo Ihamahu berlangsung rapat dalam
rangka Panas Pela kedua negeri.

Maka ikatan tersebut kembali dikuatkan dengan ikatan Pela, yaitu perekutuan dalam Tuhan Yesus Kristus. Masing-masing pihak merasa menjadi saudara kandungdengan akar Pela tidak boleh ada perkawinan antara kedua negeri tersebut. Dengan demikian Pela Tampa Siri berubah menjadi Pela Saudara Kandung atau Pela Kandong. Keputusan tersebut dikukuhkan pada hariMinggu 26 Oktober 1924 dan sejak itu orang Amahai dan Ihamahu merasa satu. Sei Hale Hatu, Hatu Hale Ei Sei Risa Sou Sou Risa Ei. Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia. Sapa Langgar Janji, Janji Langgar Dia.

Dalam rangka mengenang sekaligus mensyukuri peristiwa yang menimpa kedua negeri ketika terjadinya bahaya Seram, maka pada tanggal 28 September 1926, kedua negeri mencoba kembali untuk saling menguatkan dengan cara duduk dan bermusyawarah bersama. Peristiwa ini disaksikan oleh, W.J Wattimena Upu Latu Makariki, J.A Tamaela Upu Soahoku, M.T Amahoru Latu Iha dan Hitijahubessy orang kaya Noloth.

Untuk selalu mengingatkan kedua negeri akan hubungan Pela Gandong ini, sekaligus sebagai tanda menggenapi janji Pela, maka masing-masing memberikan kepada saudaranya pemberian antara lain satu set Totobuang dan dua bodi serta sebuah Gong khusus yang disebut Gong Matapela.

Dengan gotong royong antara masyarakat Negeri Ihamahu dan Amahai maka Gereja Ihamahu pun selesai dikerjakan. Maka diputuskan bahwa gedung Gereja di Amahai adalah milik saudara gandong Ihamahu dan gedung Gereja Ihamahu adalah milik saudara kandung kandung Amahai. Hubungan ini terus terjalin hingga kini dan selamanya. Hubungan Pela Gandong kedua negeri ini juga dituangkan dalam bentuk Prasasti diatas batu pualan. Dimana disebutkan bahwa, perkawinan antara kedua negeri dilarang.

sumber: http://groups.yahoo.com/group/ambon/message/46686